Minggu, 05 Mei 2024

Dekat Dan Kenal Tuhan

_Mazmur 86:11 (TB) Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu._

Seberapa jauh pengenalan kita akan Tuhan? Seberapa besar kepercayaan kita pada Tuhan, bahwa Ia pasti akan menolong kita? Bagaimana caranya, agar kita bisa percaya bahkan sebelum kita menerimanya dari Tuhan? 

Apa isi doa pemazmur? Dari ungkapannya tergambar bagaimana pemazmur memiliki kedekatan dengan Allah. Lihat betapa akrab pemazmur menyerukan nama-Nya secara langsung (ayat 1, 3, 4, 5, 6, 8, 11, 12, 14, 15, 17). Berulang kali ia memanggil Allah dengan ungkapan Tuhan (Adonai = Tuan ay. 3, 4 5, 8, 9, 12, 15) yang dibedakan dari TUHAN (Yahweh; ay. 1, 6, 11, 17). Panggilan Tuhan di sini merupakan pengakuan akan kedaulatan Tuhan atas hidup si pemazmur. Oleh sebab itu, ia menyerahkan semua pergumulan hidupnya kepada Tuhan. Ia sadar ada para musuh yang dengan angkuh berupaya membinasakan dirinya (ayat 14, 17). Ketegasan permohonan pemazmur terlihat dengan alasan-alasan yang ditampilkannya: sebab ... (ayat 1-4) dan karena karakter Allah yang pasti akan menolongnya: sebab ... (ayat 5, 10, 13). 

Doa pemazmur bukan hanya curhat atas kesesakan yang ia alami, tetapi juga berisi pengakuan tentang siapa Tuhan baginya. Dia satu-satunya Allah (ayat 8-10). Dia yang Esa dan berdaulat itu adalah juga Tuhan yang penuh kasih sayang kepada umat-Nya (ayat 15). Berangkat dari keyakinan dan pengenalan seperti itu, pemazmur berani mempertaruhkan hidupnya pada Tuhan. Pemazmur juga tidak ragu-ragu bersyukur seperti ia telah lepas dari kesesakannya (ayat 12-13). 

Seberapa jauh pengenalan kita akan Tuhan kita tentu tergantung dari seberapa dekat kita berelasi dengan-Nya. Seberapa sering kita membaca firman-Nya dengan tekun dan sungguh-sungguh akan menolong kita mengerti karakter, isi hati, dan kemahakuasaan-Nya. Demikian juga kedekatan kita lewat doa yang tulus dan terbuka kepada-Nya membuat Ia menyatakan semangat dan kuasa-Nya untuk kita semakin sanggup menjalani kehidupan iman kita dengan bersandar penuh kepada-Nya.

Doa Yang Dijawab


_Mazmur 91:1 (TB) Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa_

Doa seperti apakah yang akan dijawab Tuhan? Yang isinya semata-mata permohonan? Atau yang penuh dengan keluhan dan ketidakpuasan akan hidup? Memang tidak salah bila hal-hal tersebut hadir dalam doa-doa kita. Kita bukan manusia super yang bisa melakukan segala sesuatu sehingga tidak butuh pertolongan dari orang lain, bahkan dari Allah. Akan tetapi, kalau hanya itu isi doa kita, pada hakikatnya itu bukan doa! 

Doa lebih dari sekadar permohonan atau keluhan! Doa adalah penyembahan, ucapan syukur, dan pernyataan iman kita kepada Tuhan. Doa yang seperti itulah yang didengar dan dijawab Tuhan. Seperti yang ternyata di dalam Mazmur 91 ini. Mazmur ini secara indah melukiskan kehidupan doa yang didengar Tuhan. Sepertinya Mazmur ini digubah untuk dilantunkan dalam suatu ibadah secara bersahutan yang ditandai dengan perubahan dari pihak yang berbicara. Kelompok pertama memulai dengan suatu pernyataan iman, bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya (ayat 1-2). Kepada pihak pertama, kelompok kedua menyapa mereka dengan menguraikan akan perlindungan Tuhan kepada mereka sehingga mereka tidak perlu takut apa pun (ayat 3-13). Tuhan menjaga mereka dari sakit penyakit (ayat 3-6). Dialah Allah yang menyembuhkan. Tuhan melindungi mereka dari para musuh (ayat 7-13). Ingat pembantu Nabi Elisa yang dibukakan matanya melihat para malaikat yang menjaga melampaui musuh yang mengepungnya (2Raj. 6:15-17)? Akhirnya kelompok ketiga, mewakili Allah menyatakan perkenan-Nya kepada mereka (ayat 14-16). Tuhan mendengar doa orang benar, menjawab pada waktu-Nya, memberkati dengan limpah, dan menyertai mereka senantiasa.

Karena Bukan Milik Sendiri, Kita Melayani

Karena Bukan Milik Sendiri, Kita Melayani*

_Roma 12:2 (TB) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna._

Tahukah Anda ciri apa yang ada pada orang yang mengalami kemurahan Allah, dalam gaya hidup keseharian dan dalam konteks persekutuan? Ia insyaf bahwa dirinya bukan lagi miliknya. Maka ada dorongan kuat untuk memberi, memberkati, dan melayani sesamanya! Inikah ciri kita? 

Orang Kristen adalah orang yang telah mengalami transformasi. Transformasi itu menyangkut sikap dan prinsip hidup terdalam yang akhirnya mewujud dalam keseharian. Hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi milik Kristus. Itu logis, sebab Kristus telah membeli kita dari perbudakan kejahatan, dengan kurban nyawa-Nya sendiri. Kita merespons fakta ini secara sadar tiap hari dengan jalan menyerahkan hidup sepenuhnya menjadi milik Yesus, Penebus kita. Dengan keputusan secara sadar, kita memberlakukan transformasi roh secara terus menerus dalam perilaku fisik kita. Kita tak lagi hidup mengikuti hasrat diri dan dunia, tetapi berusaha agar kehendak-Nya digenapi dalam diri kita (ayat 2). 

Sikap hidup yang terus menerus menjalani transformasi anugerah serasi dengan gairah untuk melayani. Kita percaya bahwa dalam rencana-Nya, Allah bukan saja menganugerahkan keselamatan, juga menganugerahkan rupa-rupa kapasitas untuk melayani. Di balik pemberian berbagai karunia pelayanan yang berbeda, ada maksud besar Allah untuk gereja-Nya yaitu agar Gereja berfungsi sebagai Tubuh Kristus di dunia ini. Gereja yang sanggup berperan sebagai kehadiran Kristus dalam dunia ini, haruslah gereja yang benar-benar hidup. Yaitu gereja yang di dalamnya berbagai wujud pelayanan anugerah Allah dipraktikkan secara aktif. Karena kita bukan lagi milik sendiri, tetapi milik sang Penebus, kita mensyukuri tiap karunia yang telah Ia percayakan kepada kita. 

Sebagai bagian dari Tubuh Kristus, kita tidak saling bersaing dan iri, tetapi dengan penuh syukur akan keistimewaan karunia-Nya untuk masing-masing, kita saling berbagi pelayanan! Hanya dengan memberi diri dalam pelayanan, kita menemukan keistimewaan karunia yang Ia berikan pada kita!

Rindu Rumah Tuhan*

Rindu Rumah Tuhan*

_Mazmur 84:10 (TB) (84-11) Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik._

Mazmur ini dengan indah melukiskan cinta dan kerinduan berada di rumah Tuhan. Kerinduan itu bukan sekadar untuk mendengar pengkotbah, tetapi ingin dekat Tuhan sendiri, ingin ada bersama umat Tuhan memuji-muji Tuhan terus me-nerus (ayat 5). Kerinduan akan hadirat Tuhan itu digambarkan bagaikan burung menemukan sarangnya (ayat 3). Sekarang gereja memang diminati orang. Mengapa? Karena brosur, tempat, pengkhotbah, penyanyi, kesaksian, keadaan darurat? Puji Tuhan bila Ia telah memakai semua itu untuk membangkitkan kerinduan kita akan Tuhan. Namun motivasi terdalam haruslah karena cinta yang menyala akan Allah dalam hati (ayat 3, 11).

Berjalan makin kuat. Hadirat Tuhan tidak dengan gampang-gampangan kita alami. Semuanya memang karena kasih karunia bukan karena usaha. Namun kasih karunia yang Alkitab ajarkan bukanlah kasih karunia obralan, tetapi kasih karunia yang mahal yang harus tahu kita hargai setinggi-tingginya. Hidup ini seutuh-nya adalah ziarah. Di dalam ziarah inilah kita ditempa untuk menghargai hadirat Allah. Perjalanan yang harus kita tempuh panjang, penuh tantangan. Lebih-lebih akhir-akhir ini bagi Kristen Indonesia. Namun justru di dalam perjalanan panjang dan berat itulah, hadirat-Nya menguatkan dan kita tidak saja menerima asal menerima tetapi menghargai tinggi anugerah-Nya.

Percayalah*

Yohanes 14:6 (TB) Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku._

Ditinggal pergi seseorang tentu tidak menyenangkan. Kecuali jika ada tujuan yang akan membawa kebaikan. Kegelisahan para murid karena Sang Guru akan meninggalkan mereka, diketahui oleh Yesus. Oleh karena itu, Yesus menguatkan mereka dengan memberitahukan tujuan kepergian-Nya.

Yesus akan pergi ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat bagi para murid-Nya (2). Namun Ia akan kembali untuk membawa mereka ke tempat-Nya, supaya Ia dapat bersama mereka (3-4). Untuk itu mereka hendaknya percaya kepada Allah dan kepada Yesus (1). Namun para murid ternyata masih bingung. Ini terlihat melalui pertanyaan Tomas dan Filipus (5, 8). Rupanya mereka belum benar-benar mengenal Yesus (7, 9). Padahal Yesus sudah mengajarkan semua itu (Yoh. 3:14-16). Maka Yesus menegaskan bahwa diri-Nya adalah jalan, kebenaran, dan hidup (6). Yesus bukanlah salah satu jalan, melainkan satu-satunya jalan menuju Bapa. Itulah sebabnya, siapa yang mengenal Yesus berarti mengenal Bapa (7) dan siapa yang telah melihat Yesus berarti telah melihat Bapa (9, bdk. Yoh. 1:18), karena Yesus di dalam Bapa dan Bapa di dalam Yesus (10). Jika masih sulit juga untuk memahami dan percaya maka mereka seharusnya mengingat karya-karya Yesus yang ajaib (11), yang merupakan kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah. Bukan hanya itu, orang-orang yang percaya kepada Dia pun malah akan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus lakukan (12). Namun bukan berarti Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk menjadi hanya pembuat mukjizat. Ia hanya sedang menginginkan mereka memercayai perkataan-Nya karena merupakan perkataan Bapa juga.

Percaya kepada Tuhan memang sebaiknya terjadi bukan hanya karena telah melihat keajaiban Tuhan terlebih dahulu. Sebab bila kita percaya Tuhan, niscaya kita akan mengalami kebesaran Tuhan dalam hidup kita. Namun jika masih sulit bagi kita untuk percaya, bacalah kisah-kisah Tuhan saat menyatakan kuasa-Nya melalui mukjizat. Dan berimanlah kepada-Nya.

Perlindungan Tuhan*


_Mazmur 34:13 (TB) (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;_

Pernah mengalami terjepit musuh seperti yang dialami Daud? Di belakang ia dikejar-kejar Saul hendak dibunuh. Di depan adalah bangsa musuh yang sedang memerangi Israel. Apa yang dapat Daud lakukan? Di satu sisi, ia mencoba cara manusia dengan berpura-pura gila di hadapan raja musuh (10-15). Sepertinya berhasil! Di sisi lain, Daud sadar bahwa kalau ia hanya mengandalkan hikmat manusia, yaitu kecerdikan berpura-pura gila, suatu saat kelak akan tidak berguna. Mazmur 34 ini lahir dari kesadaran Daud bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Tuhan.

Oleh karena itu Daud mengajak kita untuk bersama-sama memuji Tuhan. Pengalaman Daud adalah Tuhan dapat diandalkan karena Dia adalah Penolong bagi orang tertindas dan Pelindung bagi orang yang dalam mara bahaya. Apakah pengalaman Anda juga demikian? Dapatkah Anda mengingat terakhir kali Tuhan menolong Anda keluar dari kekacauan hidup karena musuh-musuh Tuhan? Sudahkah Anda mengucap syukur dan memuji nama-Nya?

Tentu, pertolongan Tuhan akan kita alami kalau hidup kita sendiri berpaut kepada-Nya, demikian, nasihat Daud. Takut akan Tuhan (10, 12) serta hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan (14-15) adalah syarat menerima pertolongan-Nya! Maka mazmur ini selanjutnya menegaskan akan perhatian Tuhan yang ditujukan khusus kepada anak-anak-Nya, yaitu semua orang yang hidup dalam kebenaran serta menjauhi kejahatan.

Kadangkala kita terjepit dalam hidup ini karena ulah musuh. Andalkan Tuhan yang setia bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Namun, kalau kita sadar bahwa kita sedang menuai akibat dari ulah kita sendiri, cepatlah minta ampun kepada Tuhan. Terimalah akibat dosa sebagai bagian disiplin dari Tuhan, dan minta belas kasih serta kelepasan dari-Nya. Pasti Tuhan mau menolong!

Tuhan menolak Sandiwara Rohani


_Matius 6:2 (TB) Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya._

Penyiar teve itu tampil meyakinkan. Berstelan dasi dan jas, ia menyampaikan berita dengan mantap. Siapa sangka bahwa sebenarnya ia memakai baju, dasi, dan jas pinjaman. Dan … hanya bercelana pendek. Ia ternyata salah seorang teknisi teve yang terpaksa menggantikan penyiar yang jatuh sakit. 

Tuhan Yesus memberi peringatan keras terhadap kerohanian yang mirip dengan kisah tadi. Ia tidak ingin kerohanian para murid-Nya hanya untuk menimbulkan kesan positif orang banyak (ayat 1, 5), padahal keadaan hidup sebenarnya lain (baca: munafik) dan tidak sungguh terarah ke Tuhan. Godaan untuk bersandiwara rohani waktu itu memang sangat besar di kalangan orang Yahudi yang legalistis. Legalisme adalah sikap mementingkan pelaksanaan aturan-aturan dalam agama. Boleh jadi sikap itu bertujuan menyenangkan hati Allah, tetapi ujung-ujungnya bermuara pada mencari pujian manusia. Para murid Yesus tidak boleh berbuat benar, hidup saleh, memberi sedekah, dan berdoa agar dipuji orang. Sebaliknya, kerohanian yang sejati adalah yang ditujukan kepada Allah semata. Orang yang mencari pujian manusia tidak akan mendapat perkenan Allah dari kehidupan ibadahnya sebab motivasinya untuk beroleh pujian manusia telah terpenuhi. 

Orang Kristen masa kini pun perlu hati-hati tentang hidup kerohaniannya. Kita perlu memeriksa diri jangan sampai kita bergereja dan melakukan kegiatan gerejawi supaya dipuji orang. Atau, menjadikan kegiatan ibadah kita seperti doa sebagai cara untuk memaksakan kehendak kita kepada Allah (ayat 7). Kita perlu belajar memiliki hidup ibadah yang utuh dan bertujuan hanya menyukakan hati Allah, Bapa kita di surga. Meski banyak kegiatan ibadah kita yang tak dapat tidak akan diketahui orang, kita perlu menjaga agar motivasi kita murni, yaitu untuk kemuliaan dan perkenan Tuhan semata.

Berbalik arah Menuju yang Penting*

dan umat-KU, yang atasnya nama-KU disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka AKU akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
2 Tawarikh 7:14 TB

Sekitar tahun 957 SM, setelah Raja Salomo menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merencanakan, membangun, dan, akhirnya mendedikasikan bait suci yang dirindukan ayahnya, Raja Daud,—Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan mengirimkan api turun dari surga dan memenuhi bait suci dengan hadirat-Nya.

Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada Salomo di malam hari, menjelaskan bagaimana DIA mendengar doanya dan memilih bait sucinya—mengingatkan Salomo bagaimana orang Israel harus menanggapi ketika mereka menghadapi hal-hal yang sulit. Dia berkata:

“Dan umat-KU, yang atasnya nama-KU disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-KU, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”
2 Tawarikh 7:14 TB

Meskipun pesan khusus ini diberikan kepada orang tertentu pada waktu tertentu dalam sejarah—merendahkan diri, mencari Tuhan, dan berbalik dari dosa-dosa kita adalah tindakan yang harus terus kita hidupi sepanjang waktu.

Kerendahan hati yang sejati, doa yang jujur, dan pertobatan yang tulus adalah kunci menuju keintiman dengan Allah. 

Dan kita tidak bisa memalsukannya. Kita tidak bisa hanya mengikuti alur. Kita tidak bisa sekedar berpura-pura “terlihat” rendah hati dan bertobat … dan kita tidak bisa melakukan hal-hal ini sendiri.

Kita perlu datang kepada Tuhan untuk menerima pertolongan-NYA. Kita membutuhkan Dia untuk mempertahankan sikap kerendahan hati, doa, dan pertobatan.

Jadi, jika Anda merasa jauh dari Tuhan, mencoba melakukan sesuatu dengan cara Anda sendiri, atau dengan sengaja berlari ke arah yang berlawanan dengan Pencipta Anda—belum terlambat untuk berbalik.  

Anda masih bisa datang kepada Tuhan, mengakui bahwa Anda tidak dapat menjalani hidup sendirian, dan mencari pertolongan-NYA. Dia adalah Bapa yang pengasih, pengampun, dan penyembuh yang ahli dalam menjadikan segala sesuatu baru. Dia tidak pernah berhenti mengundang kita untuk mendekat kepada-NYA.
Tuhan, aku sangat bersyukur bahwa aku dipanggil dengan nama-MU. Meskipun aku tidak sempurna, Engkau tetap memanggilku milik-MU. Setiap hari, aku ingin memenuhi panggilan itu dan menjadi pribadi yang Kau harapkan. Tolong bantu aku untuk lebih rendah hati, lebih mencari-MU, dan berpaling dari hal-hal yang salah. Dalam nama Yesus, Amin.
Selamat pagi.... Selamat beraktivitas kembali... Tuhan Yesus memberkati kita semua...😇

Ketika Kita Sungguh Mengasihi*

Betapa ajaib sikap dan tindakan Tuhan Yesus, ketika Ia dalam kasih mengerjakan rencana penyelamatan Allah untuk kita. Akan dahsyat juga kenyataan hidup dan pelayanan kita, bila kasih yang sama kita izinkan beroperasi nyata! 

Apa saja wujud kasih dalam kehidupan dan pelayanan kita? Pertama, kasih serasi dengan kekudusan dan kebaikan. Kasih akan membuat kita tidak menjahati sesama, tetapi melakukan hal yang membangun dan membuat indah hidup sesama. Kedua, kasih menempatkan penilaian tentang diri dan sesama jadi serasi dengan penilaian Allah terhadap setiap orang (ayat 16). Kasih tak salah menilai baik diri sendiri maupun orang lain; maka ia tak meninggikan atau merendahkan diri maupun orang lain. Kasih akan menghasilkan suasana saling menghormati. Menghormati orang lain bukan karena kapasitas manusiawi, tetapi karena penilaian Allah sendiri. Ketiga, menyadari besarnya kasih Allah kita akan mengasihi Dia dalam semangat yang menyala-nyala (ayat 11). Orang yang melayani dengan semangat, kesungguhan, dan daya besar adalah orang yang merespons kasih Kristus dengan benar. 

Paulus juga menunjukkan bagaimana kenyataan konkret kasih ketika orang menghadapi masalah, dan dalam kehidup-an bersama. Ketika kita diizinkan Allah menanggung kesusahan hidup, kasih akan membuat kita tetap berpengharapan dan menanggung dengan sabar sambil terus berdoa. Orang yang hidup dalam kasih Kristus selalu melimpah dengan sikap beranugerah kepada sesama. Kristus memberi diri-Nya dan dengan berkurban membuat anugerah Allah menjadi pengalaman kita; demikian juga kasih yang sama membuat kita selalu ingin memberkati, berbagi, bukan mengutuk, apalagi membalas jahat dengan jahat! Orang percaya yang konse-kuen melanjutkan kasih Kristus dalam hidup keseharian akan berdaya besar menaklukkan kejahatan dengan kebaikan. 

Kasih Kristus sudah kita terima. Jangan berhenti hanya pada pengakuan dan ucapan syukur. Lanjutkan dengan hidup sebagai instrumen kasih!

Perhentian*


_Ibrani 4:12 (TB) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita._

Di satu pihak kita mungkin merasa ngeri terhadap "perhentian" (misalnya, PHK); namun di pihak lain perhentian itu kita rindukan (misalnya bebas dari keharusan bekerja terus-menerus). Melalui penciptaan Allah menetapkan dan memberkati baik pekerjaan maupun perhentian, khususnya hari perhentian atau hari ketujuh, yang dianggap oleh para rabi sebagai perhentian kekal, karena dalam Kej. 2:1-3 tidak disebut lagi adanya petang dan pagi. Penulis surat kepada orang Ibrani menganjurkan, perhentian yang benar-benar perlu dan patut dirindukan ialah perhentian kekal dalam arti keselamatan. 

Berusaha untuk masuk. Bagaimana cara "berusaha masuk ke dalam perhentian" (ayat 11)? Tak lain tak bukan "percaya dan taat" (ayat 3:18-19, 4:3,6,11). Para pembaca surat berada dalam keadaan berbahaya, bahkan ada yang sudah hampir "tidak percaya" dan "tidak taat" seperti bangsa Israel dahulu. Daripada menghadapi penderitaan sebagai Kristen mereka cenderung kembali pada kebiasaan-kebiasaan agama Yahudi, khususnya memperoleh keselamatan melalui ritus-ritus agama. Padahal sikap ikut-ikutan dalam pelaksanaan acara agama tanpa iman, tidak mungkin membenarkan kita. Segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Nya. Kepada-Nyalah kita harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita (ayat 13).

Sikap Kritis Dan Iman*

_Yohanes 20:29 (TB) Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."_

Kadang kala iman dihubungkan dengan sikap nrimo dan nonrasional. Percaya atau beriman dipahami sebagai sikap menerima apa saja yang memakai atas nama iman atau Tuhan. Bersikap kritis atau bertanya tentang logika iman Kristen dianggap sebagai sikap tidak percaya. 

Paling sedikit penulis Injil Yohanes mencatat dua murid Yesus yang mengambil sikap hati-hati dan kritis terhadap-Nya. Natanael mempertanyakan apakah mungkin muncul sesuatu yang baik dari Nazaret. Ia meragukan Yesus dari Nazaret sebagai Mesias (Yoh. 1:45-46). Tomas bersikap skeptis dengan menyatakan argumennya sebelum melihat dan meraba sendiri lubang paku dan tusukan tombak di tubuh Yesus yang sudah bangkit itu (pasal 20:25b). Marahkah Yesus terhadap pertanyaan dan sikap kritis Natanael dan Tomas? Tidak. Justru sebaliknya, Natanael dipuji-Nya sebagai orang Israel sejati (pasal 1:47). Bahkan Tomas dizinkan-Nya meraba luka-luka di tubuh-Nya. Tomas juga ditantang Yesus untuk menanggalkan ketidakpercayaannya itu dan sebaliknya percaya dan tetap hidup dalam iman (ayat 20:27). 

Bagian terakhir ucapan Yesus kepada Tomas dalam ayat 29 ditujukan kepada para pembaca Injil Yohanes pada masanya, juga kepada kita pada masa kini. Kita tidak mungkin lagi bersikap seperti Tomas, meminta pada Yesus untuk melihat dan meraba lubang di tangan dan kaki serta lambung-Nya untuk membuktikan kebangkitan-Nya. Namun, penulis Injil Yohanes menyajikan dalam tulisannya banyak tanda yang diperbuat oleh Yesus sebagai bukti bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Yesus tidak meminta tiap orang untuk beriman tanpa sikap kritis melainkan Ia mendorong setiap orang untuk menguji kebenaran kesaksian para penginjil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) tentang diri-Nya.

Kebahagiaan Yang sejati*


_Mazmur 1:2 (TB) tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam._

Banyak orang mendambakan kebahagiaan berupa kelegaan dari penderitaan, lepas dari berbagai kesulitan hidup, dan hidup serba berkecukupan. Apa benar semua itu mendatangkan kebahagiaan yang sejati? 

Kebahagiaan seseorang terkait erat pada relasinya dengan Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber hidup maka hanya dengan memiliki persekutuan intim dengan Tuhan, seseorang bisa menikmati hidup ini dan puas (ayat 2). Sebaliknya orang yang bergaul intim dengan Tuhan tak mungkin bisa menikmati pergaulan dengan orang berdosa apalagi ikut-ikutan dalam kehidupan dosanya (ayat 1). 

Ikut-ikutan cara hidup orang berdosa hanya membawa seseorang semakin jauh dari kebenaran. Ayat 1 mengungkapkan bagaimana pergaulan yang sembarangan, dengan cepat merusak kebiasaan baik (ayat 1Kor. 15:33). Mulai dengan mendengar bujukan ("berjalan menurut nasihat orang fasik"), lalu mulai menjadi kebiasaan ("berdiri di jalan orang berdosa"), tahu-tahu sudah menjadi bagian dari kumpulan perencana kejahatan ("duduk di kumpulan pencemooh"). Dengan kata lain, mulai dengan mengikuti ajakan orang untuk berdosa, berujung pada ikut mengajak orang lain untuk berdosa! Apa yang mungkin dituai oleh orang yang hidup dalam keberdosaan? Tidak ada yang bernilai kekal yang bisa ditabung untuk masa depan (ayat 4). Bahkan kebinasaan menjadi akhir tragis bagi mereka (ayat 6b)! 

Kebahagiaan apa yang bisa dinikmati orang yang bergaul dengan Tuhan? Kepuasan sejati karena tahu hidupnya berhasil di mata Tuhan, yaitu seperti pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang baik dan lebat. Siapakah yang disenangkan kalau bukan pemiliknya sendiri? Juga kepuasan yang tidak dapat pudar karena tahu hidup yang menghasilkan buah itu adalah hidup yang Tuhan pakai untuk memberkati orang lain. Hidup ini menjadi bermakna saat orang lain mengenal Yesus karena hidup kita.

Peran Allah*


_1 Korintus 10:13 (TB) Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya._

Apa yang dimaksud dengan pencobaan? Pencobaan adalah sesuatu yang menggoda manusia sehingga manusia jatuh di dalam dosa. Karena di dalam dunia ini ada pencobaan, maka pastilah ada yang namanya peringatan. Peringatan sangat diperlukan oleh manusia sebagai alarm yang memberi peringatan supaya manusia berjaga-jaga, dan selalu hidup bersama Tuhan. 

Rasul Paulus memperingatkan orang-orang percaya di Korintus dengan menjadikan nenek moyang mereka sebagai contoh nyata. Peringatan itu adalah orang percaya akan menemui pencobaan dari masyarakat sekitarnya, seperti apa yang dialami oleh bangsa Israel (ayat 6), seperti: penyembahan berhala (ayat 7), percabulan (ayat 8), mencobai Tuhan (ayat 9) dan bersungut-sungut (ayat 10). Melalui peringatan ini Paulus ingin mengatakan bahwa jemaat Kristen di Korintus hidup bukan hanya dengan orang kudus sehingga tanpa pencobaan. Peristiwa seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka bisa saja terjadi dalam kehidupan beriman mereka kepada Kristus. 

Peristiwa yang terjadi di masa nenek moyang kita adalah peristiwa yang sangat memalukan. Peristiwa ini juga harus menjadi pelajaran penting bagi kita, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang hidup di masa kini. Artinya, faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan orang percaya masa lalu mempertahankan kesetiaan kepada Allah akan selalu ada. 

Paulus mengingatkan agar kita, gereja Tuhan di masa kini, agar

Maju Dalam Iman*


_Filipi 3:14 (TB) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus._

Menjadi pengikut Kristus merupakan sebuah keputusan yang harus sungguh-sungguh dijalani. Demikian juga bagi rasul Paulus. Kejayaan dan kemuliaan di masa lalu tidak lagi bernilai karena pengenalan akan Kristus. Apa yang dahulu dianggap bernilai, sekarang ini menjadi sama seperti sampah (7-8).

Mengapa Paulus mengungkapkan hal ini? Dia sedang memperingatkan jemaat Filipi untuk berhati-hati terhadap "anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat yang palsu" (2). Orang-orang itu menekankan hidup keagamaannya secara lahiriah semata (4). Orang-orang yang demikian melakukan ibadahnya secara ritualistik dan legalistik. Mereka perlu diwaspadai karena ada di dalam jemaat dan berpotensi menyesatkan kerohanian jemaat. Dengan memakai kesaksian hidupnya, rasul Paulus menasihati jemaat Filipi. Dulu segala kemegahan lahiriah seperti itu dianggapnya keuntungan, tetapi sekarang tidak. Pengenalan akan Kristus itulah yang diingininya.

Nasihat ini ditulisnya dari penjara. Sekiranya Paulus tetap mengingini kejayaan dan kemuliaannya dulu, dia tidak akan ada di penjara. Paulus dengan tegas menyatakan imannya dan terus mengarahkan pandangannya ke depan bahkan 'berlari untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus' (14).

Sikap Paulus ini tidak mudah untuk diteladani. Bagi kita yang berada dalam keadaan aman dan nyaman, mengikut Kristus adalah mudah. Akan tetapi, kalau kita berada dalam keadaan seperti Paulus tentu lain ceritanya. Godaan untuk kembali kepada kejayaan hidup di masa lalu akan sangat besar. Ingat saja pengalaman bangsa Israel ketika keluar dari Mesir (Bil. 11:4-6). Ketika merasa bosan, mereka dengan mudah merindukan kemakmuran di Mesir. Oleh karena itu, kita perlu bertekad seperti Paulus, "melupakan apa yang telah ada di belakangku" agar dapat fokus ke depan! Sebagai pengikut-pengikut Kristus seharusnya kita juga memiliki kesungguhan dalam iman. Iman yang sejati akan terlihat dalam kerinduan untuk semakin mengenal Kristus dan bertumbuh di dalam-Nya.

Tetap Percaya Walau Situasi Sulit*


_Mazmur 115:13 (TB) memberkati orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar._

Apa kesulitan umat Tuhan yang hidup di tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan? Bukankah Israel yang terbuang di antara bangsa-bangsa lain memperlihatkan bahwa Allah Israel tidak berkuasa menyelamatkan mereka?

Pemazmur menggubah pujian kepada Tuhan untuk dinyanyikan dalam suatu ibadah dengan liturgi yang bersahut-sahutan. Ayat 1-2 dimulai dengan permohonan umat agar Tuhan menunjukkan diri-Nya untuk mengatasi ejekan bangsa-bangsa lain yang merendahkan Dia. Lalu seorang imam yang mewakili umat menyahut dengan keyakinan penuh bahwa Allah mereka jauh lebih berkuasa daripada dewa-dewi bangsa-bangsa yang ada di sekeliling mereka. Imam tersebut mengontraskan ketidakberdayaan dewa-dewi kafir dengan keperkasaan dan kemuliaan Tuhan (3-8). Ayat 9-11, mungkin dikumandangkan oleh paduan suara, mendorong umat untuk tinggal teguh dalam keyakinan bahwa Tuhan adalah Penolong mereka. Menarik sekali ayat-ayat yang sepertinya dinyanyikan bersahutan ini: ayat 9a, 10a, 11a, disambut dengan 9b, 10b, 11b. Ayat 12-15 si imam mengucapkan berkat bagi semua peserta ibadah. Akhirnya mazmur ini ditutup dengan respons seluruh jemaat, yang memuji Tuhan dengan segenap hati mereka (16-18).

Mengapa mazmur ini menggambarkan keberanian umat memercayai Tuhan di tengah situasi sulit? Karena kasih setia yang sudah pernah dialami umat Tuhan. Dengan mengingat semua kebaikan Tuhan pada masa lampau, umat tidak terjebak situasi sulit yang sedang mereka alami. Mereka tahu bahwa semua yang terjadi pada diri mereka ada dalam kontrol Allah. Maka umat Tuhan harus saling mengingatkan dan saling menguatkan untuk tetap setia menantikan karya Tuhan yang dahsyat agar sekali lagi dinyatakan.

Situasi apa yang sedang Anda hadapi? Beranikah Anda menyatakan iman Anda kepada Tuhan? Jangan menggumulinya sendirian. Ajaklah saudara seiman untuk menggumuli hidup dengan saling menguatkan dan meneguhkan!

Menghadapi Musuh*

Pernahkah Anda merasa terancam karena tindakan orang pada Anda? Bagaimana sikap Anda pada saat itu? 

Daud pernah merasa terancam dan teraniaya. Perhatikan gambaran serangan yang dia hadapi: diinjak-injak, diperangi, dan juga diimpit. Para musuh mengintai Daud, memburu dia seolah mengincar nyawanya. Betapa kuat musuh yang dihadapi Daud. Ia bagai tak berdaya menghadapi mereka. Tak heran bila ia merasa takut. 

Bagaimana Daud mengatasi situasi yang begitu menekan? Satu-satunya pertolongan yang dia harapkan adalah Allah. Ia yakin pada kuasa Allah yang akan melindungi dia. Sebab itu ia memohon belas kasihan Allah agar menolong dia. Bila menghadapi Allah, tentu para penindas tersebut akan seperti macan ompong. Terlihat menakutkan, tapi tak punya kemampuan mematikan. Sebab itu Daud mengharapkan keadilan Allah yang akan meluputkan dia dari bahaya. Dan ketika itu terjadi, Daud memuji-muji Allah karena telah melepaskan dia dari musuh dan melindungi dia dari bahaya. Oleh karena itu Daud berjanji akan memberikan persembahan syukur kepada Allah. 

Sebagai orang percaya yang harus hidup damai dan mengusahakan perdamaian dengan semua orang, kita tentu tidak mengharapkan adanya musuh. Namun keberpihakan kita pada Allah bukan tidak mungkin akan memperhadapkan kita pada musuh-musuh iman kita. Bagaimana menghadapi hal itu? Melihat pengalaman Daud, kita dapat meyakini Allah yang akan melawan orang-orang yang bermaksud jahat terhadap kita. Rasa takut mungkin saja akan muncul dan kemudian melahirkan rasa panik. Belajar dari Daud, jangan biarkan rasa takut menguasai kita. Marilah kita memandang pada Allah yang akan melepaskan kita. Hadapilah musuh iman dengan keyakinan bahwa Penolong kita adalah Tuhan yang memiliki kuasa di atas segala kuasa, dan musuh-musuh iman kita tidak akan pernah berhasil melampaui kuasa Allah. Kiranya pemahaman ini menguatkan iman kita.

BERMEGAH DI DALAM TUHAN*


Tempatkan Tuhan di dalam hati kita agar ketakutan dan kekuatiran tidak memimpin hidup kita. Biarlah Tuhan yang pegang kendali atas hidup kita, menuntun langkah dan mengatur ulang semua rencana kita.
Impian kita memang baik, namun Tuhan mempunyai rancangan masa depan yang jauh lebih baik.

 *2 Korintus 10:17* 
“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Pujian dan penghormatan yang kita terima atas segala keberhasilan, kesuksesan, dan kecerdasan mungkin pernah membuat kita lupa diri. Kita menerima semuanya dengan anggapan bahwa semua yang kita capai adalah bukti kehebatan kita yang layak diapresiasi. 
Di saat-saat seperti itulah kita merasa pantas untuk membanggakan diri. Namun kita membanggakan sesuatu yang salah, sehingga hidup kita bisa terjerumus ke dalam berbagai-bagai dosa. Semua yang kita miliki dan mampu kita gapai adalah pemberian Tuhan. Dan juga sikap bermegah harus kita lakukan di dalam nama Tuhan yang kudus. Dalam 1 Tawarikh 16 : 10 menyatakan “Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!”.

Kita harus selalu menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam hidup kita, kita bukanlah siapa-siapa dan tidak akan menjadi siapa-siapa. Kita telah diangkat dari kubangan dosa dan dibebaskan dari jerat iblis, kita ditebus dan diberikan berkat melimpah. IA membentuk talenta dan kemampuan kita sedemikian rupa, IA melancarkan usaha dan pekerjaan yang kita lakukan, dan IA tidak pernah lupa menghadiahi kita dengan kejutan-kejutan kecil yang membuat kita lebih hebat dan mengangkat kita lebih tinggi. 

Mengutip dari 
Yesaya 9 : 23 - 24 yang berbunyi “Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Bermegah di dalam Tuhan berarti membanggakan dan membesarkan nama Tuhan dan segala perbuatan-Nya yang ajaib di dalam hidup kita. Saat kita bermegah di dalam Tuhan, itu juga berarti bahwa kita mau menjadikan Tuhan sebagai fokus hidup kita. Sikap dan perbuatan harus mencerminkan kasih dan kemuliaan-Nya. Pujian yang kita terima bukan untuk memegahkan diri, namun memegahkan Allah. Kehormatan yang kita terima juga harus kita teruskan kepada Allah, karena DIA yang paling pantas menerimanya. Bukan karena kuat dan hebatnya kita, melainkan karena kasih dan kebaikan Tuhan maka kita bisa sampai pada hari ini dengan banyak pencapaian berharga, sehingga sangat layak untuk kita bermegah di dalam Tuhan.

Selamat bersukacita disepanjang hari yang TUHAN kenankan.
🙏

JANGAN MENGELUH ATAS KESUSAHAN YANG TERJADI

Saat kita menghadapi masalah yang besar, datanglah kepada Tuhan. Jangan kecewa kepada-Nya sebab dari apa yang menimpa kita saat ini.

 *Mazmur 56:4-5a* 
Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.

Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi bersama Tuhan akan selalu menemukan jalan keluar. Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita menanggung beban itu seorang diri. Tuhan akan meringankannya dengan cara-Nya.

Jangan mengeluh atas kesulitan yang terjadi saat ini. Masa-masa sulit telah mengajar kita banyak hal tentang kesabaran, harapan dan rasa percaya kepada Tuhan. Jangan sesali yang telah terjadi, namun pergunakanlah waktu yang ada untuk berbenah diri.

Jangan perpanjang kekuatiran kita karena tidak akan membuahkan yang baik dalam hidup kita. Perpanjanglah harapan dan rasa percaya kita kepada Tuhan karena kita akan melihat mujizat serta jalan keluar. Bersyukurlah setiap saat agar beban dalam hati kita semakin ringan.

Hendaknya kesusahan yang terjadi saat ini tidak menghalangi niat untuk selalu menabur kebaikan. Taburlah yang baik bila ingin menuai yang baik.

Ujian IMAN terbesar pada kita adalah ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita ingini, tetapi kita mampu bersyukur kepada TUHAN.

PENGHARAPAN adalah obor dari Iman yang percaya akan kebesaran dan Kuasa TUHAN.
Akan ada sukacita di balik dukacita, 
Akan ada kesembuhan di balik kesakitan, 
Akan ada jalan keluar di balik kebuntuan yang terlihat.
Karena KASIH TUHAN terukir indah di setiap saat.
Ada canda, tawa dan bahkan air mata...
Semua jadi bermakna dan indah! 
Hidup memang penuh dengan warna!
Orang yang kuat dan hebat bukan berarti tidak pernah jatuh, orang benar bukan berarti tidak pernah salah, tapi...
Orang yang hebat adalah orang yang mampu mengucapkan SYUKUR dalam segala hal.

Selamat menghadapi dan menjalani kesulitan-kesulitan bersama TUHAN. 🙏🙏

Di Perbaharui Baru Melayani*


Gaya hidup seseorang harus berpadanan dengan statusnya. Demikian juga orang percaya, harus hidup berpadanan dengan status sebagai tebusan Kristus.

Roma 12:1-15:13 berisi perintah-perintah rasul Paulus tentang bagaimana orang percaya seharusnya hidup.

Bagian ini dimulai dengan kata "Karena itu" (1), yang berarti semua yang dikupas Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya menjadi alasan bagi orang percaya untuk melakukan perintah-perintah itu. Oleh karena orang percaya telah dibenarkan oleh Kristus dan diperdamaikan dengan Allah, serta dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maka orang percaya harus hidup dengan cara hidup yang baru.

Hidup yang baru itu diungkapkan dengan gambaran mempersembahkan diri di mezbah (1). Jika kurban dalam Perjanjian Lama adalah binatang yang mati, maka orang percaya dalam Perjanjian Baru mempersembahkan kurban yang hidup yaitu seantero kehidupan kita, yang dikhususkan (dikuduskan) untuk menyenangkan Allah. Caranya? Hidup seturut firman-Nya. Mata tidak lagi untuk melihat hal-hal yang tidak patut, lidah hanya untuk perkataan yang membangun, tingkah laku pun harus mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Pembaruan hidup itu bukan hanya terjadi di permukaan, melainkan sampai kedalaman hati. Bukan hanya gaya hidup yang berbeda dengan orang dunia, melainkan secara hakiki orang yang telah diperbarui memang tidak sama lagi dengan dunia (2). Anugerah Kristus mendorong orang yang telah mengalami pembaruan untuk mencari dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Di dalam hidup yang baru itu, orang percaya menjadi rendah hati (3) dan berfungsi efektif dalam tubuh Kristus untuk melayani (4-8). Untuk itu Allah memberikan karunia-karunia untuk melayani dan membangun tubuh Kristus (6-8).

Bila kita telah diperbarui oleh Kristus berarti kita telah menerima anugerah mulia, yang mengubah setiap aspek hidup kita untuk tujuan-Nya yang mulia. Sebab itu hendaklah kita tekun dan setia dalam hidup yang memperkenan hati Allah.

Hati Yang Keras*


Menjelang akhir pembelaannya, Stefanus menyampaikan teguran kepada para imam bahwa mereka adalah orang yang keras kepala dan senantiasa menentang Roh Kudus. Begitu keras sehingga mereka tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka keliru. Mereka juga menutup telinga sehingga tidak dapat mendengar kabar yang Tuhan ingin sampaikan. Mereka sudah mengeraskan hati sehingga tidak bersedia menerima kehadiran Kristus. 

Peristiwa penolakan ini mengingatkan kita pada kisah John Sung, seorang misionaris yang pernah mengeraskan hati menentang suara Roh Kudus. Kisah ini bermula ketika Tuhan memanggilnya untuk menjadi pelayan-Nya namun John Sung bergumul untuk menolak dan mengeraskan hati. Pergumulan batiniah yang hebat itu, mengganggu kestabilan jiwanya. Selama 7 bulan ia mendekam di rumah sakit jiwa untuk memperoleh ketenangan kembali dan disaat itulah ia belajar untuk taat dan menerima panggilan Tuhan. Tuhan berkenan memakai John Sung menyebarkan Injil hampir di seluruh Asia, termasuk di Indonesia. 

Adakalanya kita pun menentang suara Roh Kudus dan kita melakukannya dengan pelbagai cara dan dalih. Kadang kita mendiamkannya, atau menganggap itu adalah suara hati sendiri yang tidak perlu kita gubris. Dampak langsung dari semua itu bukanlah terhentinya atau terhambatnya rencana Tuhan. Ia tetap melaksanakan rencana-Nya dengan atau tanpa partisipasi kita. Dampak langsung yang lebih menyedihkan adalah, pertama, kita tidak dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya. Kedua, kita tidak menerima berkat itu sendiri. Seperti penonton, kita hanya dapat menyaksikan Tuhan bekerja tanpa bisa berbagi sukacita dengan-Nya karena kita tidak berada dalam satu tim dengan-Nya.

Ketika Allah Menamai UmatNya*

_Yesaya 48:16 (TB) Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ." Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya._

Pengakuan Israel tentang jati diri mereka sebagai Israel, keturunan Yehuda, dan milik Allah adalah kosong sebab tidak ditunjang oleh ketaatan dan integritas (ayat 1). Akan tetapi, kini Allah sendiri memanggil mereka dengan nama Israel (ayat 12). Seperti halnya ketika Allah mencipta, semua yang Dia panggil menjadi kenyataan, demikian pula sebutan umat dari Allah kepada Israel tidak pernah merupakan panggilan kosong (ayat 13). Ia yang memanggil teguh, kukuh, dan tak berubah. Panggilan-Nya pun tak berubah dan pasti menjadi kenyataan. 

Umat Allah harus belajar menerima rencana Allah dan taat kepada keputusan-keputusan-Nya. Seluruh umat Israel diundang untuk sehati menerima Koresy sebagai alat Tuhan yang ditetapkan-Nya untuk mengurus Babel demi menyelamatkan Israel. Israel harus belajar menerima Koresy sebagai "mesias" (ayat 16b). Tujuan akhir keputusan Allah ini adalah mendidik dan membuat mereka mengalami kebaikan dan syalom dari Allah (ayat 17-19). Kini Israel diminta untuk bertindak. Perintah untuk berlari keluar dari Babel dan janji bahwa Allah akan memimpin mereka dengan jaminan pemeliharaan-Nya, menggemakan saat nenek moyang mereka mengalami peristiwa keluaran dari Mesir (ayat 20). Ketika Allah menamai umat-Nya, peristiwa keluaran akan terus-menerus terjadi! 

Penamaan kita sebagai "Kristen" lebih ajaib daripada penamaan Israel. Dengan panggilan itu, orang Kristen diberi status, jati diri, hak, dan tanggung jawab sebagai bagian dari Kristus sendiri. Peringatan Allah terhadap Israel yang nama dan pengakuannya hampa, perlu kita camkan. Hanya jika kita hidup dalam panggilan-Nya dan mengalami dampak kehadiran pembaruan Kristus, kekristenan kita akan menjadi nyata. Jika tidak, kita hanya akan mengecewakan Tuhan dan membawa kesaksian buruk di tengah masyarakat.

Kemuliaan Allah


_Yohanes 17:3 (TB) Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus._

Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diri-Nya, apa sikap- Nya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagian pertama doa yang sering disebut sebagai “Doa Imam Besar Agung” ini berisi permohonan untuk diri-Nya kepada Bapa. 

Betapa akrab dan uniknya hubungan Yesus dengan Bapa tampak dalam beberapa hal. Pertama, Dia menengadah ke surga, menandakan hubungan-Nya yang akrab dengan Allah Bapa. Kedua, Dia menyapa Allah sebagai “Bapa” dan menyebut diri-Nya sebagai “Putra-Mu.” Bila kedua hal ini kita gabungkan dengan pernyataan-Nya bahwa Ia sudah memiliki kemuliaan kekal yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum Ia menjadi manusia (ayat 5), kita dapat menyimpulkan bahwa Ia sedang berbicara tentang hubungan yang sangat unik antara diri-Nya dengan Allah Bapa. 

Bahwa dalam bagian ini Tuhan Yesus memohon kemuliaan bagi diri-Nya, tidak dapat kita samakan dengan keinginan manusia yang cenderung mencari kehormatan, kemuliaan, atau penghargaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaan yang Yesus minta dari Bapa ada dalam hubungan dengan beberapa kenyataan. Pertama, karena Ia sudah memenuhi rencana Bapa untuk memberi hidup kekal. Hidup kekal adalah mengalami hidup Allah. Kita tahu bahwa itu dapat terjadi karena Ia kelak menyerahkan nyawa-Nya dan membuat pengampunan dari Allah dan kasih Allah untuk orang-orang pilihan Allah menjadi kenyataan. Itu diwujudkan-Nya bukan saja melalui ajaran-Nya, tetapi juga melalui sikap hidup-Nya dan bahkan di dalam kematian- Nya. Semua itu karya Yesus yang memuliakan dan menyukakan hati Bapa. Kedua, yang diminta-Nya adalah sesuatu yang memang merupakan hak-Nya. Ia adalah Putra Allah yang rela meninggalkan surga menjadi manusia. Maka, yang diminta-Nya ini adalah pengokohan Bapa bahwa semua yang Yesus lakukan berkenan kepada Bapa.

Menerobos Kemapanan


Banyak orang sering mengaitkan kesalehan dengan kemakmuran. Cara pikir mereka sederhana: orang yang saleh akan makmur, sedangkan orang yang berdosa akan menderita. Ini ada benarnya, tetapi tidak selalu demikian. Namun, pada umumnya semua orang ingin mendapatkan kemakmuran dan dengan demikian mereka menjaga kesalehan. Sayang sekali, sering kali kemakmuran yang mereka dapatkan justru menggiring mereka masuk ke dalam sistem yang akhirnya membuat mereka tidak dapat lagi menjaga kesalehan. Kemakmuran itu menjadi sebuah kutukan. 

Bangsa Israel diingatkan terus-menerus untuk menjadi setia, bergantung kepada Allah, bukan hanya agar mereka hidup, tetapi juga agar mereka bisa beranak cucu sehingga tanah perjanjian itu dapat dikuasai sepenuhnya. Melalui perjalanan yang amat panjang di padang gurun, Allah telah mengajar bangsa Israel agar memahami bahwa mereka tidak bisa bergantung pada kekuatan alam dan bangsa-bangsa lain untuk hidup, tetapi pada janji pemeliharaan Allah sendiri. Kesesakan dan disiplin yang dialami bangsa Israel menjadi berkat besar bagi mereka. 

Bangsa Israel akan mendapatkan kemakmuran, dan hati mereka seharusnya "memberkati" Allah, bersyukur kepada-Nya karena tanah yang begitu berlimpah dan juga karena mereka boleh mendapatkannya. Namun, sekali lagi Musa memperingatkan bangsa Israel agar tidak lupa diri ketika mereka sudah masuk ke tanah itu, sudah mapan dengan ternak yang berkembang biak, sistem hidup sudah terbentuk rapi, dan kebahagiaan senantiasa tergapai. Israel harus terus mengingat suasana padang gurun ketika mereka tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Jika mereka melupakan itu semua, hukuman dan ketidakberkatan menanti mereka!

Memilih Kebahagiaan


Banyak orang mau melakukan apa saja asal hidupnya bahagia, puas dan tenteram. Maka, tidak heran anak-anak muda lari ke narkoba, seks bebas; orang-orang yang lebih tua menyibukkan diri dengan mencari harta dan kuasa; orang lain mencari agama-agama, kebatinan, apa pun yang dapat menenteramkan hati. Tetapi, mereka yang memilih hal-hal tadi akhirnya harus mengakui bahwa kenikmatan bertolak belakang dengan kebahagiaan. Jadi, adakah pilihan yang tepat? 

Mazmur 1 memberikan jawabannya. Secara negatif, kebahagiaan tidak didapat dari perbuatan fasik/berdosa (ayat 1). Maka, orang yang mau berbahagia harus menjauhi semua hal yang membawanya berdosa. Jikalau tidak, kehidupan berdosa akan membawa kegagalan hidup (ayat 4), dan akhirnya kebinasaan (ayat 6b). Sebaliknya, secara positif, kebahagiaan hanya didapatkan di dalam hidup sesuai dengan firman Tuhan (ayat 2). Orang yang hidup seturut firman- Nya akan diberkati dengan keberhasilan (ayat 3) dan Tuhan berkenan kepadanya (ayat 6a). Namun, lebih penting dari semuanya itu, orang demikian dijamin penuh oleh sang sumber hidup sendiri (ayat 3). 

Hidup bahagia itu tumbuh melalui rangkaian pilihan dan keputusan yang membentuk kebiasaan seumur hidup. Hal menghindari dosa dalam segala bentuknya itu, juga hal mengasihi dan menyimpan firman dalam hati. Sudah tiga hari dari tahun baru ini kita jejaki; apakah kita sedang membangun hidup melalui pilihan- pilihan dan kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita hidup mesra serasi dengan Tuhan? Kita tidak perlu merasa bahwa perjuangan rohani itu berat, sebab Tuhan Yesus telah memasuki sejarah manusia, membuka jalan dan memberi teladan tentang hidup demikian.

Nyanyian Baru Bagi Tuhan


Seorang hamba Tuhan pernah memaknai seruan mazmur ini sebagai perintah untuk menyingkirkan semua nyanyian lama yang pernah dipakai di gerejanya. Setiap minggu ibadah di gerejanya harus memakai lagu-lagu baru. Pemahaman ini keliru. Kita mewarisi nyanyian rohani dari tradisi iman gereja kita masing-masing yang indah dan sampai sekarang tetap menjadi berkat. Menyingkirkannya begitu saja adalah tindakan bodoh dan tidak menghargai sejarah.

Apa artinya menyanyikan nyanyian baru untuk Tuhan? Artinya, menyambut datangnya era baru. Umat Tuhan diajak mengarahkan hidup bukan pada masa lampau, melainkan pada masa depan, ketika Tuhan mengadakan pembaruan lewat penghakiman orang berdosa, dan pemulihan orang benar.

Setiap kali kita mengakui ulang karya ajaib-Nya dalam sejarah dan mengalami karya tersebut dalam hidup kita, nyanyian baru akan menggema sebagai respons syukur kita. Baru dalam arti segar dan hidup karena pengalaman bersama Tuhan selalu menyegarkan kita!

Isi nyanyian baru itu merupakan pengakuan bahwa "Dia adalah Raja"! Saat kita dengan kedalaman hati dan kejernihan pikiran mengakui Dia adalah Raja, kita akan menyaksikan kedaulatan-Nya ditegakkan. Pemazmur meyakini bahwa bangsa-bangsa yang menolak menyembah Allah akan hancur karena Allah lebih dahsyat dan berkuasa atas allah-allah palsu.

Ajakan menyanyikan lagu baru bukan perintah untuk menciptakan lagu baru. melainkan ajakan untuk selalu melihat secara baru karya Tuhan dalam sejarah dan mengantisipasi karya final Allah kelak. Keindahan dan keagungan lagu pujian bukan terletak pada baru atau lamanya, melainkan pada isi yang bersesuaian dengan kebenaran firman dan pada penghayatan umat Tuhan yang pasti selalu diperbarui seiring pengenalan dan pengalaman imannya.

Semesta Benyanyi


Mazmur ini bukanlah tentang Anda dan saya. Mazmur ini tidak berbicara tentang manusia, tetapi tentang Allah dan alam ciptaan- Nya. Kapan terakhir kali Anda menikmati keindahan dan semarak alam yang Allah ciptakan?

Bagaimana caranya Anda memahami kebesaran Allah? Bagi banyak orang, kebesaran Allah di hari-hari ini dipahami entah secara intelektual melalui pergumulan-pergumulan dan pemikiran-pemikiran teologis atau secara emosional, melalui pengalaman-pengalaman bernuansa rohani yang menggerakkan perasaan. Masih ada cara lain untuk memahami kebesaran Allah, yaitu cara yang telah digunakan oleh manusia sejak zaman Adam dan Hawa, cara yang seringkali kita lupakan di tengah kesibukan kita sehari-hari. Cara itu adalah melalui alam yang Allah ciptakan dan pelihara.

Mazmur 104 menggambarkan dengan indah bagaimana berbagai unsur alam ciptaan Tuhan menyatakan keagungan dan semarak-Nya. Keindahan yang luar biasa Tuhan padu-padankan dengan fungsi yang tertata dengan begitu baik sehingga seluruh dunia tetap terpelihara dengan baik. Tuhan mencipta dan juga memelihara ciptaan-Nya.

Ketika Anda merasa penat dan letih, ingatlah bahwa Tuhan juga ingin memberikan kepada kita kelegaan dan sukaria (15). Tuhan memberikan kepada kita tugas untuk berkarya, tetapi juga untuk menikmati dan bersukaria dalam alam ciptaan-Nya.

Kemuliaan dan pemeliharaan Tuhan tampak di dalam segala dinamika alam ini. Betapa pun dahsyat dan menakutkannya fenomena alam serta hewan-hewan yang ada, Tuhan melampaui semua itu (26-32). Dia layak menerima segala pujian dari relung hati kita yang terdalam.

Dalam kesibukan kita, marilah kita menyediakan waktu dan berhenti sejenak. Beristirahat. Merenung. Menikmati alam ciptaan Tuhan. Bersukaria di dalam keagungan dan semarak Tuhan. Memuji Tuhan sebab Dia yang begitu agung mengenal kita dan peduli kepada kita.

Penyertaan Tuhan


Setiap orang adalah pemimpin. Setuju? Paling sedikit, ia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Ada orang yang dipercaya memimpin sebuah perusahaan, lembaga, organisasi, atau bahkan sebuah bangsa. 

Daud adalah pemimpin bangsa. Mazmur 18 adalah mazmur syukur karena Tuhan menyertai (2-20) dan berlaku adil terhadap (21-30) Daud sebagai pribadi, tetapi juga sebagai pemimpin umat Israel (31-51). Tuhan mengurapi Daud sebagai raja Israel bahkan takhtanya dijanjikan langgeng turun temurun (51).

Sebenarnya pengurapan Daud terjadi jauh sebelum ia naik takhta. Ada proses yang panjang dan penuh pergumulan. Pada zaman Saul menjadi raja, Daud diurapi. Itulah sebabnya Saul mengejar Daud dan hendak membunuh dia, karena dianggap mengancam takhtanya. Luput dari Saul tidak berarti persoalan selesai. Ia sendiri kemudian harus menghadapi kudeta dari Absalom, putranya sendiri. Maka Daud harus mengungsi sebelum pemberontakan Absalom dihancurkan. Bahkan menjelang tutup usia, seorang putra Daud yaitu Adonia, merebut takhta dengan menobatkan diri menjadi raja menggantikan Daud.

Kalau Daud tetap di takhta dan memerintah Israel dengan berjaya; kalau para musuhnya akhirnya kalah dan ditaklukkan; kalau Salomo akhirnya menggantikan dia sebagai raja pilihan Allah; semua itu semata-mata karena kasih setia Tuhan kepada Daud (51). Maka tidak ada kata lain yang keluar dari mulut Daud, hanya syukur, pujian, dan sembah (32, 47, 50).

Penyertaan, keadilan, dan kasih setia Allah tidak pernah berubah dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Daud mengalaminya sehingga ia bisa memimpin umatnya, maka hidupnya pun limpah dengan syukur. Percayakah Anda bahwa Anda pun dapat mengalami kasih setia Allah dalam kapasitas kepemimpinan yang Tuhan percayakan kepada Anda? Naikkan syukur kepada Allah di dalam Kristus Yesus yang memungkinkan semua itu

Dasar Doa Yang Benar



_Mazmur 143:8 (TB) Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku._

adalah mengakui kebenaran Allah. Pemazmur berada dalam kesulitan. Ia merasa sedemikian beratnya seolah Tuhan menyembunyikan wajah-Nya. Namun perasaan ini cepat ditepiskan dengan kesadaran penuh bahwa tidak seorang pun yang benar di hadapan Tuhan, dan tidak seorang pun yang layak memohon kepada Allah (ayat 2). Karena itu pemazmur melandasi permohonan dan pengharapannya semata-mata pada kesetiaan, keadilan, dan kebaikan Allah (ayat 1b, 5). 

Percaya berarti pasrah pada kehendak Tuhan. Pemazmur menegaskan bahwa percaya berarti kerelaan menerima dan menempuh kehendak Tuhan. Kerelaan melakukan kehendak Tuhan (ayat 8, 9) adalah buah dari percaya. Melakukan kehendak Allah bukan pula sebagai suatu syarat agar doa seseorang dijawab, sebab doa merupakan bagian dari penyerahan diri kepada Allah. Karena itu, melakukan kehendak Tuhan maupun permohonan doa merupakan penyerahan diri kepada kebaikan Tuhan. Dengan demikian, pemazmur memohon agar ia dilepaskan dari segala tekanan dan kesesakan bukan karena ia baik tetapi semata karena kebaikan Allah.

Ketaatan Membawa Berkat


Masa depan, siapa yang dapat meramalkannya? Para cenayang (=dukun yang dapat berhubungan dengan makhluk halus) mencoba membaca masa depan. Tidak disangkal, roh jahat memiliki pengetahuan dan kekuatan yang melampaui manusia. Namun kendali sejarah hanya ada di tangan Allah pencipta. 

Israel sudah tiba di ambang pintu tanah Perjanjian. Musa dengan setia menghantar mereka sampai di situ. Namun, Musa tidak diijinkan Allah masuk ke tanah Kanaan. Yosualah yang akan menggantikan Musa memimpin umat Israel memasuki negeri itu. Ada dua masalah besar. Pertama, Israel tidak memiliki pasukan untuk berperang merebut negeri yang penduduknya ahli berperang. Kedua, walaupun Yosua pernah memimpin pasukan Israel mengalahkan Amalek empat puluh tahun yang lampau (Kel. 17:8-16), sekarang ia sudah tua. Mampukah ia menggantikan Musa dan memimpin mereka menaklukkan Kanaan? 

Tidak seorang pun yang dapat menjamin Israel mampu menduduki tanah Kanaan di bawah kepemimpinan Yosua. Tetapi Allah mampu! Bukankah Dia yang mengendalikan sejarah? Oleh sebab itu Musa menasihati Israel untuk mempercayakan diri mereka kepada Allah. Allahlah yang berperang bagi mereka. Allah akan memakai Yosua sebagai pemimpin mereka mengalahkan musuh (ayat 6). Pesan untuk Yosua sama intinya, "kuatkan dan teguhkanlah hatimu ... Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (ayat 7). 

Siapa yang dapat meramal masa depan Indonesia? Mungin kita pesimis melihat gejolak politik berkaitan dengan pemilu. Orang yang menilai diri mereka layak jadi pemimpin jauh dari kualitas Musa ataupun Yosua. Namun masa depan kita tidak terletak pada mereka tetapi pada Allah pencipta, yang berdaulat atas sejarah manusia.

Hidup Yang Berintegritas


Seorang teolog bernama Charles.S. Lewis pernah berkata, "Integritas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang mengawasi." Terkait dengan integritas, pada Mazmur 26 Daud menilai dirinya telah hidup dalam integritas. Hal ini dapat kita pahami dari frase "aku telah hidup dalam ketulusan" di ayat 1 (I have walked in my integrity).

Pernyataan Daud bukan untuk memperlihatkan dirinya sombong melainkan didasarkan pada fakta bahwa ia telah menjalani hidup bermoral (4-5) dan berkomitmen dalam beribadah (6-8). Daud berkomitmen, apapun yang terjadi dalam hidupnya, ia akan tetap menjaga hidup yang berintegritas. Hal ini terlihat pada ayat 1 Daud berkata, "?aku telah hidup dalam ketulusan?" dan pada ayat 11, "?aku (akan; will) hidup dalam ketulusan?".

Meski demikian, Daud menyadari bahwa integritasnya tidak sempurna, walau ia rindu untuk menjalani hidup benar di hadapan Tuhan. Daud sadar bahwa ia masih mungkin untuk jatuh ke dalam dosa. Karena itu, ia meminta Allah untuk menilainya (1). Karena Allah adalah Hakim yang adil, Allah pasti mampu menilai integritasnya dengan tepat dan benar. Daud juga memohon belas kasihan Tuhan untuk menyelamatkannya (11b) karena ia menyadari betapa rentan hidupnya, meski ia berusaha hidup berintegritas.

Bagaimanakah Daud membangun integritasnya? Integritas Daud dibangun bukan dari kemampuan kepemimpinan, prestasi, atau karakternya. Ia membangunnya di dalam Tuhan (1), di dalam kasih setia dan kebenaran Tuhan (3). Ini artinya, integritas Daud bukan didasarkan pada kemampuan dirinya, melainkan pada kasih dan kebenaran Tuhan. Hal ini menjadi penghiburan sekaligus dorongan bagi kita. Dalam kondisi bangsa yang terpuruk seperti sekarang ini, anak-anak Tuhan terpanggil untuk menjadi teladan dalam integritas hidup, yang berdasarkan kasih dan kebenaran Tuhan.

Mengerti kebenaran-Nya adalah anugerah


_Matius 13:4 (TB) Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Banyak Kristen datang beribadah, namun ketika mereka meninggalkan ruang ibadah, apakah dengan pengertian yang sama? Ada yang hanya mendengar namun sibuk dengan pikirannya sendiri; ada yang mendengar tetapi tidak mengerti; ada yang mendengar tetapi kemudian menafsirkannya sendiri; ada juga yang sungguh- sungguh mendengar dan mengerti kebenarannya. Tempat yang sama, nas Alkitab yang sama, dan pengkhotbah yang sama, tidak menentukan jemaat yang hadir mendapatkan pengertian yang sama pula. Mengapa demikian? Mengerti kebenaran firman-Nya adalah anugerah, yang dinyatakan bagi mereka yang mau terbuka kepada kebenaran-Nya. 

Inilah yang dijelaskan Yesus ketika murid-murid-Nya menanyakan mengapa Ia memakai metode perumpamaan. Banyak orang berbondong-bondong datang, tetapi seperti nubuat nabi Yesaya bahwa mereka mendengar dan melihat namun tidak mengerti. Bukan karena Ia tidak mau menyatakan kebenaran kepada mereka, tetapi karena mereka yang mengeraskan hati, sehingga mereka tidak bertemu dengan kebenaran itu, yakni Yesus sendiri. Zaman kini banyak orang berbondong-bondong mencari gereja, tetapi berapa banyak yang sungguh-sungguh mau terbuka kepada kebenaran firman-Nya, sehingga ia mengerti, percaya, dan menyimpan kebenaran itu dalam hatinya? Bukan orang-orang yang secara fisik hadir di gereja yang dapat mengerti kebenaran-Nya, tetapi anugerah pengertian dinyatakan bagi Kristen yang haus akan kebenaran. 

Arti perumpamaan seorang penabur adalah bahwa tidak semua orang yang menerima kebenaran kemudian akan berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Firman kebenaran itu harus dimengerti (diterima); diresapi (berakar); dihayati sehingga mempengaruhi pola pikir, perilaku, gaya hidup (bertumbuh); dan dipertahankan sampai menghasilkan berlipatganda (berbuah). Pergumulan, masalah, kesulitan, kekuatiran, dan segala bentuk tantangan akan merupakan ujian bagi Kristen, apakah Kristen sanggup berakar, bertumbuh, dan kemudian berbuah di tengah dunia yang menentang kebenaran.

Hati Sebagai Pusat Pengendalian Sikap*


_Amsal 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan._

Tubuh manusia memuat sekitar 100.000 gen. Uniknya, setiap gen memiliki fungsi sebagai mengendali semua aktivitas yang dilakukan oleh setiap sel di tubuh kita. Gen bekerja tanpa henti setiap detik memberi instruksi kepada sel untuk memproduksi zat-zat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Akan tetapi, ada unsur lain dalam diri manusia yang juga bekerja tanpa henti, memberi instruksi kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita bersikap. Unsur itu adalah hati manusia. Hati manusia adalah pusat pengendalian sikap dan darinyalah keluar instruksi yang biasanya kita jalani dengan patuh. Hati adalah saripati manusia, hati mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Hati tidak berbohong, namun hati dapat memerintahkan kita untuk berbohong. Hati tidak bisa membunuh, tetapi hati sanggup menyuruh tangan untuk membunuh. Hati adalah perangkat lunak dalam komputer otak manusia yang dapat memprogramkan kita berbuat seturut kehendaknya. Betapa berkuasanya hati! Itu sebabnya firman Tuhan mengingatkan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan “ (ayat 4:23). Hati adalah sumber mata air, bila sumbernya kotor, maka kotorlah airnya, namun bila sumbernya bersih, maka bersihlah airnya. Rupanya hati tidak dengan sendirinya bersih, kita harus menjaganya dengan seksama. Kita harus selalu melindunginya agar tidak tercemari. Bill Bright (alm.), pendiri Campus Crusade for Christ, menawarkan resep untuk menjaga kebersihan hati yaitu dengan cara “bernapas” secara rohani. Jika kita mendukakan Roh Kudus, akuilah dosa; dengan kata lain, “hembuskan napas.” Setelah itu, dengan iman, “tariklah napas”, terimalah kuasa Roh Kudus kembali. Hanya Roh Kuduslah yang dapat menolong kita menjaga hati agar tetap bersih.

kepuasan

Kepuasan adalah yang selalu di cari dan diharapkan oleh setiap manusia dalam hidupnya.Kepuasan duniawi memang mudah untuk mendapatkannya tapi takkan pernah membuat orang lega.seperti hal nya kita meminum air laut,setelah meminumnya kita akan haus lagi. Manusia dalam hidupnya ternyata tidak pernah puas kalau hanya dengan kepuasan lahiriah saja tanpa kepuasan rohaniah.

Beberapa contoh dapat kita bandingkan dengan kehidupan pribadi Zakheus kepala pemungut cukai yang kaya (Luk.19:1-10 ),Perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di sumur Jakup(Yoh.4:1-42),Pemuda yang kaya (Mat.19:16 -26),Anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus (Luk.15:11-32). Dengan contoh tersebut dapat bermanfaat bagi kita untuk intropeksi diri,dan menjadi kesimpulan bagi kita bahwa kebutuhan yang utama yang menjadi perjuangan kita adalah kepuasan rohani. Kepuasan rohanilah yang menyempurnakan kepuasan lahiriah. Bagaimana dan dimana kita dapat memperolehnya? Hanya Yesus sumber air yang memberi hidup dan kelegaan. Setiap orang yang percaya,yang datang kepada Yesus,mereka akan memperoleh kelegaan dari padaNya.(Mat.11:28),( Yoh.7:38 )

Pendalaman Nats

Dalam sejarah kehidupan bangsa Israel selalu melaksanakan perayan yang penting yaitu Hari Raya dan Tahun Raya seperti : Hari Sabat,Tiga pesta besar: Pesta Paskah,Pesta Pentakosta dan Pesta Pondok Daun,Hari Perdamaian dan Tahun Raya. Sesuai dengan nats khotbah dalam Yohanes 7:37-38

Dalam ay.37,Yesus menegaskan bahwa Dia dapat menyediakan air lain yang lebih baik dari air upacara itu. Yesus adalah sumber air hidup;”MATA AIR DI DALAM DIRI NYA ,YANG TERUS-MENERUS MEMANCAR SAMPAI KEPADA HIDUP YANG KEKAL”(Yoh.4:10-14). Dalam upacara pembabtisan Kristen,air memiliki dua arti simbolis. Air babtisan adalah sumber kematian dan kehidupan. Dalam air babtisan,para pengikut Kristus mati(ditenggelamkan atau di kubur)bersama Kristus yang mati untuk mengalahkan kuasa dosa,tetapi dengan keluar dari air mereka juga akan di bangkitkan untuk hidup baru,(Rom.6:3,4,8-11). Air babtisan adalah symbol pentahiran atau bersih(bebas) dari kuasa dosa,(Mat.3:11;Rom.6:5-7;Mark.16:16). Yesus adalah sumber kepuasan dan kelegaan bagi yang haus.

Ay.38,Hanya orang percayalah yang dapat memperoleh kelegaan atau aliran-aliran air hidup artinya orang yang hanya bertemu dan mendengar perkataan Yesus tanpa melakukannya dan percaya tidak akan memperolehnya,(Mat.7:21-23) Orang percaya adalah orang yang tinggal dan hidup dalam FirmanNya,(Yoh.15:7). Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering dan akan mebaharui kekuatanmu,engkau akan seperti taman yang di airi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan,(Yes.58: 11). Demikianlah mereka yang selalu mengedepankan perjuangan imannya di da – lam kuasa dan kasih Yesus Kristus. Sebab Dialah kebenaran dan hidup.(Yoh.14:6) Sehingga oleh iman kita,kristus diam di hati kita dan berakar dalam kasih,(Ep.3:17)

Pointer Aplikasi

• Didunia ini banyak orang yang haus. Haus akan air,haus pangkat,kedudukan, jabatan,kekuasaan, haus harta,haus kasih sayang, dan seterusnya.Rasa haus tak-ada batasnya dalam kehidupan manusia. Bagi orang yang tidak percaya kepa da Tuhan,tidak akan pernah berahir dalam kepuasan atau kelegaan. Bagi yangpercaya senantiasa di puaskan,disegarkan dengan air hidup yang ada di dalamYesus kristus yang adalah sumber air hidup.




Pemeliharaan di Tengah-tengah Hukuman

(Kej 7:1-24) Kejadian 7:1
Syalom saudaraku..
Sering kita bertanya dalam hati mungkin kita tidak mengerti mengapa Tuhan itu mengijinkan masalah itu terjadi. Melalui renungan ini atau khotbah ini mengajak kita bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaan Tuhan kepada kita.

Kita percaya bahwa Tuhan itu penolongku dan perisaiku. Namun bagaimana kita bisa mengerti pemeliharaan Tuhan ditengah-tengah masalah yang kita hadapi?


Artinya ketika hukuman dijatuhkan kita masih mendapat pemeliharan dari Tuhan. Tentu tema ini tidak mudah dipahami karena Tuhan menjatuhkan hukuman dan sekaligus ada pemeliharaan dari-Nya. Dalam pemikiran kita, umumnya hukuman pasti akan mendatangkan penderitaan, kesulitan, dan lain-lain.
Tapi mari kita melihat pemeliharaan Tuhan pada nabi Nuh ketika hukuman Tuhan akan dijatuhkan pada masa kehidupannya. Hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya pada zaman nabi Nuh sangat dahsyat.
Dalam Kej. 7:4 dicatat bahwa TUHAN akan menurunkan hujan selama 40 hari 40 malam untuk menghapuskan segala yang ada di muka bumi, seharusnya ini termasuk nabi Nuh.
Dan apa yang sudah ditetapkan TUHAN akhirnya terjadi. Kejadian 7:11-12 terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Kemudian di Kejadian 7:21-22 Lalu mati binasalah segala yang hidup. Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat. ,  Kej. 7: 23 memgatakan “hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu.” Nuh memperoleh pemeliharaan Tuhan yang luar biasa di tengah-tengah TUHAN menjatuhkan hukuman atas bumi dan segala isinya.

Mengapa Nuh mendapat pemeliharaan TUHAN? Karena Nuh memiliki kehidupan yang berkenan dihati Tuhan. Inilah yang perlu diteladani oleh kita semua.  Kita tidak tahu kapan lagi TUHAN akan menghukum bumi dan segala isinya. Firman Tuhan di dalam Kej. 6:5 dikatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan hati selalu berbuat jahat. Karena itu di tengah dunia yang semakin jahat ini, kita harus memiliki hidup yang baik supaya senantiasa dalam pemeliharaan Tuhan.

Bagaimana kehidupan Nuh di tengah-tengah begitu jahatnya manusia?

Pertama, Nuh tetap mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan. 
Hal ini bisa dilihat bagaimana Nuh mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan karna Nuh selalu menyenangkan hati Tuhan. Na karna manusia pada zaman Nuh itu hanya dia saja yang didapati Tuhan hidup benar di hadapan Allah.

Kedua, Nuh tetap mempertahankan IMAN (Kepercayaan) kepada Tuhan.
Nuh mendengar dan menaati perintah Tuhan. Ketika ia diperintahkan untuk membuat bahtera, Firman Tuhan sangat jelas mengatakan Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya (Kej. 6:22). Dan setelah bahtera selesai dibuat, ia diperintahkan lagi untuk membawa seisi keluarga dan semua binatang sepasang masuk ke dalam bahtera padahal belum ada tanda-tanda air bah akan datang, namun Nuh taat melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya (Kej. 7:5). Karena Nuh percaya pada setiap perkataan Tuhan . Jelaslah bahwa Nuh memiliki iman yang luar biasa kepada Tuhan.

Ketiga, Nuh tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Tuhan.
Setelah Nuh menaati perintah TUHAN masuk ke dalam bahtera beserta dengan semua binatang, tanda-tanda air bah akan datang masih belum terjadi.  Tujuh hari kemudian barulah air bah mulai datang (Kejadian 7:10). Sebenarnya, bukan hanya tujuh hari Nuh dengan setia dan sabar menunggu Tuhan, tetapi berpuluh-puluh tahun Nuh dengan sabar dan setia hidup bersama dengan Tuhan sampai air bah itu benar-benar datang.

Biarlah melalui pengalaman hidup nabi Nuh ini membuat kita senantiasa hidup benar dan percaya kepada Tuhan serta setia kepada-Nya. Sehingga, bila ada penghukuman atas dunia ini, kita tetap mendapatkan pemeliharaan dari Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

MEMUJI TUHAN: Membungkam Musuh


Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Maret 2014

Baca:  1 Samuel 16:14-23

"Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya."  1 Samuel 16:23

Tuhan suka dipuji dan disembah bukan berarti haus akan pujian umatNya sehingga Ia ingin terus dipuji-puji.  Jangan pernah berpikir bahwa ketika kita memuji-muji Tuhan semuanya itu untuk kepentinganNya, tapi sesungguhnya yang terutama adalah untuk kepentingan kita sendiri, sebab pada saat kita memuji Tuhan ada perkara besar yang Tuhan kerjakan bagi kita, yaitu Tuhan sedang membungkam musuh dan pendendam,  "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam."  (Mazmur 8:3).

     Saat kita memuji-muji Tuhan berarti kita sedang mempercayai Tuhan berperang ganti kita.  Tuhan akan berperang ganti kita.  Tuhan akan menghancurkan pekerjaan Iblis dan menggagalkan setiap rencana jahatnya supaya Iblis menjadi tidak berdaya dan bertekuk lutut, sehingga jarahan-jarahan yang sudah dicuri Iblis dapat direbut kembali.  Jika saat ini kita sedang disakiti, diserang dan diintimidasi Iblis dengan berbagai masalah dan sakit penyakit jangan sekali-kali kita menyerah, sebaliknya angkatlah suara dan pujilah Tuhan!  Katakan,  "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!"  (Mazmur 42:6).

     Saat pujian kita naikkan kepada Tuhan, saat itu pula Tuhan membungkam kekuatan musuh.  Ketika roh jahat mengganggu Saul, Daud pun memainkan kecapi sambil memuji-muji Tuhan, saat itu pula roh jahat undur dan lari daripada Saul.  Pula ketika Yosafat diserang oleh bani Moab dan Amon, ia pun menaruh tim pujian di depan barisan pasukan perangnya.  "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"  (2 Tawarikh 20:21), dan ketika mereka mulai bersorak-sorai sambil memuji Tuhan,  "...dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah."  (2 Tawarikh 20:22).

Saat kita memuji Tuhan,  "TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."  Keluaran 14:14

Miliki focus yang benar


Ibrani 12 : 2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Suatu hari saya dan teman-teman saya pergi ke Bali dan hari itu kami pergi ke pantai kuta dan di pantai kuta itu sebelum kita masuk menuju ke pantai ada yg namanya org² itu berjualan kek pasar gitulah itu mereka menjual pakian bali, gelang, pokok desain tradisional balilah..

di sana juga saya melihat ada sangat banyak desain baju sangat banyak karya dari seorang yang bernama Erik & Regina..

Waktu itu saya lihat pakian/desainnya sebenarnya saya mau berkata ini karya apasih ini masih lebih bagusan baju yang lain juga kok

Trus saya tanya penjual trus penjual ini bilang Katanya kalau karya itu dijual harganya sangat² mahal..

Ada 2 poin yang akan saya bagikan untul kita semua, yaitu;

[ ] Baju itu mahal bukan karena bajunya tapi karena siapa yang menciptakan..
Sama dengan kehidupan kita nilaimu bukan tentang yang orang nilai tentang engkau baik atau buruk tapi nilaimu ditentukan oleh siapa yang menciptakanMu.....
Mari fokus kepada Siapa yang menciptakan kita maka engkau akan temukan nilai-nilaimu disana bersamanya.

[ ] Teman² saat saya kesana sejujurnya dalam hati saya ada sedikit kekecewaan yang berkata aku udah bayar mahal-mahal ke sini aku cuman ngeliatin kayak gini doang.
Dalam hidup kamu mungkin sering kecewa dengan apapun, mungkin dengan teman, orang tua, circle, bahkan bisa kecewa dengan Tuhan mungkin karena di lagi dalam masa sulit, down dia menganggap bahwa Tuhan itu ga ada buat dia sampai dia kecewa sama Tuhan.....
Teman² saat saya kecewa dengan karya/ hasi dari desain itu.....
tapi saya melihat teman saya yang lain, hampir semua teman saya sangat bahagia sangat bangga untuk pergi ke namanya bali karena mungkin itu yang pertama kali mereka datang kebali......
Saya tanya kenapa kalian senang? Trus mereka jawab; buat mereka, mereka bangga mereka senang karena mereka bisa melihat karya dari seorang desainer terkenal dibali yang bernama erik & regina ini..

Teman² dalam hidup ini kalau engkau kecewa dengan apapun dalam hidupmu saya tanyakan saat ini fokus mu kemana.... (APAKAH?)

Engkau akan dengan sangat mudah dikecewakan kalau fokus hanya kepada dirimu sendiri , kalau fokus hanya ke hasil..

Tapi engkau tidak akan pernah dikecewakan kalau fokus pada sang pencipta kalau fokus pada hati Tuhan..
Fix your eyes on Him
makan engkau tidak akan pernah dikecewakan.

Manfaat memiliki fokus hidup yang benar:
1. Fokus membuat kita tidak mudah dialihkan oleh kesuksesan awal atau sementara (tidak LUPA DIRI).
2. Fokus membuat perhatian kita tidak mudah dialihkan oleh tantangan dan kesusahan hidup (PERCAYA DIRI).
3. Fokus akan membuat hidup kita menjadi tenang di saat berada di dalam goncangan badai kehidupan (TUHANKU LEBIH BESAR DARI MASALAHKU).


MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA”

 (KISAH PARA RASUL 13:47)

Renungan hari ini:

“MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA” 

Kisah Para Rasul 13:47 (TB) Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: "Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi" 

Acts 13:47 (NET) For this is what the Lord has commanded us: "I have appointed you to be a light for the Gentiles, to bring salvation to the ends of the earth”

Menjadi terang bagi bangsa-bangsa adalah panggilan setiap orang Kristen. Yesus adalah terang dunia dan kita telah ditetapkan untuk membawa dan menyatakan terang kepada dunia ini. Sebagaimana dalam Matius 5:14–16, Yesus berkata ”Kamu adalah terang dunia artinya menerangi lingkungan sekitar dimana kita berada.Terang kita tidak dirancang untuk disembunyikan tapi untuk diperlihatkan kepada banyak orang dan mempengaruhi mereka.

Salah satu tugas panggilan TUHAN bagi kita adalah untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Menjadi terang bagi bangsa-bangsa,  artinya kehidupan kita harus memancarkan suatu kebenaran Kristus yang bercahaya menerangi orang yang hidupnya dibelenggu oleh ketidakbenaran/dalam kegelapan yang menguasainya dalam keyakinan/kepercayaan yang sia-sia, kebiasaan hidup yang tidak membangun, hidup dalam hawa nafsu dosa, keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup dan kejahatan. 

Semua orang bisa menjadi terang bagi bangsa (baca: dunia), namun tidak mudah untuk bisa menjadi terang dunia. Sama seperti menjadi garam dunia perlu proses, demikian juga menjadi terang dunia perlu sebuah proses. Tentunya tidak sembarangan Tuhan menetapkan seseorang untuk menjadi terang dunia. Tuhan memproses bangsa Israel sedemikian rupa, dipersiapkan untuk menjadi terang untuk bangsa-bangsa. Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa (Yes. 42:6). Dari teks ini kita bisa belajar bahwa tahapan untuk menjadi terang itu adalah:

• dipanggil (harus ada respon mau atau tidak),

• dipegang tangannya (harus menurut tidak boleh memberontak/melawan ingin lepas),

• dibentuk (merelakan bentuk/tabiat asli diubah sama sekali)

• menjadi perjanjian (ikatan kekal)

• menjadi terang (terus bercahaya) 

Tugas yang sama Tuhan amanatkan agar kita menjadi terang dan saksi Tuhan serta membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Ini bukan tentang kehebatan kita menjadi saksi Tuhan, tetapi apakah kita bersedia dipakai dalam pelayananNya. Apabila kita tidak bersedia pun, Tuhan punya banyak cara untuk memanggil orang untuk datang dan percaya kepada Tuhan. Tuhan bisa menggerakkan hati seseorang tanpa perantaraan manusia sekalipun. Namun apabila kita bersedia menjadi saksi Tuhan dan membawa keslamatan pada orang yang belum percaya maka Tuhan akan menyertai pelayanan kita sebagaimana Paulus mendapat penyertaan Tuhan dalam pelayanannya. 

Ada banyak orang di dunia ini yang sudah ditentukan Allah untuk menjadi menjadi percaya tetapi masih hidup dalam kegelapan sampai saat ini. Maukah anda dipakai menjadi alatNya? Mari bergerak melayani Tuhan dan memberi kesaksian tentang keslamatan dengan berbagai cara atau media apapun yang dapat kita gunakan. Ucapan “Tuhan memberkati” atau “Tuhan mengasihimu” kepada orang lain akan menyentuh hatinya bila selama ini ia tidak pernah merasakan kasih dan berkat yang sejati. Perdengarkan lagu-lagu rohani, share ayat Firman Tuhan ataupun renungan Alkitab di media sosialmu seperti Facebook, Twitter, Path, Instragram atau lainnya. Mungkin kita tidak pernah pernah melihat hasil kesaksian kita secara nyata, tapi lakukanlah dengan penuh iman bahwa ada seseorang di “luar sana” yang telah ditetapkan Allah untuk percaya tetapi masih dalam kegelapan dan perlu mendengar dan membaca tentang Yesus dan orang itu menjadi percaya.

Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi (Kis. 13:47). Bagaimana proses yang dialami oleh para rasul hingga mereka menjadi terang dunia? Sungguh berat yang mereka alami. Karena itu, berjuanglah terus untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa sepanjang hidup kita. (rsnh)

Selamat berkarya untuk TUHAN




Membangun kekuatan otot² ronani

Yakobus 1 : 19-20
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Seuatu hari ada satu perguruan silat dan ada satu org guru yg sudah cukup umur 
Beliau berkata bahwa ia akan memberikan warisan ilmu silatnya bagi 1 org yg terkuat di antara semua muridnya....

Dan semua murid pun berusaha yg paling kuat di depan gurunya..

Tapi kemudian pada satu titik guru ini memanggil seorg anak katakanlah kita sebut namanya jerilahh

Dan anak ink di panggil Jerri jurus silat dari antara semua murid² yg lain, kamuh yg terkuat..

Sedangkan jeri ni melihat kembali ke tubuhnya sendiri , kalo dia ni sangat kurus dan kelihatanya dia gak punya kekuatan yg sangat hebat..

Tapi kemudian guru bilang ke dia tapi saya punya tugas untuk kamu..

Dia jerii ni dgn senang menjawab tugas apa itu guru.. 

Dan kemudia guru ini berkata kamu setiap pagi , jam 5 kamu naik ke atas gunung dan di atas gunung itu ada batu yg sangat besar, kamu dorong batu itu setiap hari , kemudian kamu turun lagi dan latihan seperti biasa..

Kemudian jeri ni dgn semangat melakukan tugasnya..

Dia lakukan di hari pertama , kedua, ketiga , dia naik ke atas gunung itu untuk mendorong batu itu dan apa yg terjadi sedikit pun batu itu tidak bergeser.. dia turun lagi..

Dia naik lagi dan berkali kali dia lakukan itu dan bahkan sampai bertahun² dia lakukan itu..

Tapi kenyataannya batu itu tidak bergeser sedikit pun dan bahkan 1 cm tdk bergeser..

Dan dengan muka kecewa dan muka gagal jeri dtng ke gurunya dan berkata "Guru ternyata aku sudah gagal Aku sudah coba untuk dorong batu itu, tapi batu itu tidak bergeser sama sekali, mungkin guru salah
memilih saya"...

Tapi kemudian guru itu berkata "jeri yang saya suruh untuk kamu lakukan adalah mendorong batu itu, bukan untuk menggeser batu itu" .....

Dan jeri terkejut,
dan hari itu guru itu berkata "Sekarang bukan tentang batunya tapi lihat otot-otot tubuhmu sekarang sudah terbentuk dengan sangat kuat"....

"Lihat tanganmu karena engkau melakukan dengan displin Kakimu setiap kali naik ke atas gunung, kakimu jadi sangat kuat" ...

Dan hari itu betul jeri jadi murid yang paling kuat di antara yang lainnya...

Karena dibentuk dalam namanya sebuah "KEDISIPLINAN" dan "KESETIAAN" yang setiap hari bertahun-tahun dia lakukan terus terus dan terus ....

Teman² apa maksud dari cerita ini Sering kali saat kita berkata Tuhan kenapa sih masalah hidupku gak selesai².....

Dan hari ini Tuhan berkata kepada kita
"Nak, bukan tentang batunya yang bergeser, bukan tentang permasalahnya yang selesai...

Tapi lihat setiap kali engkau mengucap syukur diatas setiap masalahmu..

Setiap kali engkau tetap "Berdoa" hari ini "Kekuatan Doamu" jadi Begitu "Kuat"...

Engkau jadi punya "Iman" yang sangat kuat kepada Tuhan...

Sekali lagi saat engkau menghadapi masalah yang seakan-akan batumu tidak bergeser, tujuan Tuhan Mengizinkan batu itu ada disana...

Mungkin bukan untuk batu itu bergeser tapi untuk "Kekuatan Iman" kita...

Supaya "Otot-otot Rohani Kita" "Otot Doa Kita" "Otot Ucapan Syukur Kita" terbentuk jadi semakin kuat...

Jadi Tetaplah mendoakan apapun pergulanmu meskipun kelihatannya tidak ada hasil yang kita lihat..

Supaya kita tidak salah fokus , Fokusnya Tuhan bukan ke masalahnya....

Karena Tuhan lebih peduli kepada kita dari pada kepada masalah yang sedang kita di hadapi...

Bekerja di belakang layar

Matahari pagi tidak lebih indah dari apa yg ia rencanakan pagi ini untukmu

BERDOA DAN MERENDAHKAN DIRI



Baca:  2 Tawarikh 7:11-22

"dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."  2 Tawarikh 7:14

Bagaimana caranya kita merendahkan diri kita
Kita lihat caranya Tuhan
Bagaimana Tuhan mendidik agar umatNya rendah hati? Dinyatakan “di padang gurun .. dengan maksud merendahkan hatimu .. membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna” (Ul 8:2-3).
Hidup seseorang dan masa depannya tidak tergantung dari apa yang orang lain katakan, tetapi sepenuhnya ada dalam kuasa Tuhan dan firman-Nya.  Karena itu jangan sekalipun terpengaruh oleh omongan orang lain yang cenderung melemahkan.  Jangan pula terintimidasi oleh hasutan Iblis yang selalu mengungkit-ungkit masa lalu, kelemahan dan kegagalan kita.  Tetapi arahkan mata rohani kita kepada Tuhan, karena Ia memiliki  "...rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."  (Yeremia 29:11).

     Mindset inilah yang membangkitkan iman Yabes dan mendorongnya untuk berdoa dan berseru-seru kepada Tuhan, karena tidak ada yang tak mungkin saat orang benar berdoa dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.  Inilah janji Tuhan!  "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,"  (Yeremia 29:12-13).  Yabes pun berdoa kepada Tuhan,  "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu."  (1 Tawarikh 4:10).

    Meski tampak singkat dan sederhana, doa Yabes mengandung isi yang luar biasa!  Saat dalam tekanan yang berat Yabes bisa saja frustasi atau mencari jalan pintas dengan meminta pertolongan kepada dukun untuk diramal supaya terbebas dari kesialan, tapi hal itu tidak dilakukan oleh Yabes.  Ia lari kepada Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya, karena percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Dialah Jehovah Jireh, yang sanggup menyediakan segala kebutuhannya.  "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."  (Filipi 4:19).

Hanya Tuhan yang sanggup menolong dan memberi kita kelegaan.


Raja yang Kudus


_Mazmur 99:9 (TB) Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!_

Biasanya, yang sering digembar-gemborkan mengenai seorang pemimpin adalah kekuasaan dan kepandaiannya. Karena berkuasa, ia bisa memerintah. Kadang kala justru ia ditakuti karena menyalahgunakan kuasa. Karena pandai, maka pemerintahannya pun menghasilkan sesuatu yang baik. Tidak jarang kepandaiannya dipakai untuk memanipulasi rakyat demi kepentingan sendiri.

Mazmur 99 mulai dengan bait pertamanya mengagungkan Allah sebagai Raja yang Maha kuasa dan dahsyat (1-3). Di takhta-Nya di surga, kebesaran Allah nyata. Bahkan di bumi, bangsa-bangsa tunduk kepada Dia yang bertakhta di Sion. Di bait-bait selanjutnya Mazmur 99 ini menegaskan sisi lain sang Raja (4-5, 6-9). Ketiga bait mazmur ini memiliki refrein yang menekankan kekudusan Allah (3b, 5b, 9b), dan ajakan untuk meninggikan Dia (5a, 9a).

Bait kedua mazmur ini menekankan Tuhan sebagai Raja yang mencintai hukum sehingga Ia menegakkan kebenaran dan keadilan. Rakyat yang memiliki raja seperti itu, pasti merasa aman dan tenteram karena ada kepastian hukum.Orang kecil tidak takut tertindas, orang kaya tidak berani bertindak sewenang-wenang.

Bait ketiga mazmur ini memperkenalkan Raja yang menjawab doa umat-Nya, serta memberikan firman-Nya untuk ditaati dan dilakukan. Raja yang sedemikian dekat dengan umat-Nya dan pasti dicintai mereka.

Mari kita bersyukur karena Kristuslah Raja yang telah hadir dalam sejarah manusia. Kristus datang ke dalam dunia. Dia telah hadir untuk menegakkan hukum dan keadilan. Dia sendiri

menjamin kepastian hukum dengan tunduk pada hukum. Pada puncaknya, Dia menerima kematian demi kekudusan Allah. Kita anak-anak-Nya terpanggil untuk menyatakan kekudusan Allah melalui hidup kita yang meneladani Kristus. Patuhi hukum, tegakkan keadilan, jangan salah gunakan kuasa dan kepandaian kita.

SELALU BERSYUKUR DALAM SETIAP KEADAAN/MOMENT HIDUPMU



Beratnya medan pelayanan yang dialami Rasul Paulus sama sekali gak membuat di lemah/kalah dgn keadaan.

Dia tetap bisa berdiri kokoh di tengah-tengah badai. Apa rahasianya? Rahasianya adalah karena ia selalu mengucap syukur kepada Allah, sehingga hatinya kuat (28:15).

Paulus adalah seorang rasul yang telah mengalami pembentukan Tuhan secara luar biasa. Kita lihat Perjalanan menuju Roma untuk menyampaikan berita Injil harus melalui proses yang panjang dan berliku, antara lain adalah dia mau di tangkap, aniaya dan di bunuh dari pihak orang-orang Yahudi yang diserahkan kepada pihak Romawi (pasal 21-22).

Rasul Paulus harus menghadapi Mahkamah Agama dan dipindahkan ke Kaisarea (pasal 23). Ia harus menghadapi Feliks, Festus, dan Agripa (pasal 24-26). Ketika berlayar menuju Roma, angin ribut dan gelombang laut yang tinggi menghempaskan kapal yang ia tumpangi sehingga kapal itu kandas (pasal 27). Ketika berada di pulau Malta, ia terkena gigitan ular beludak (28:1-10).

Banyak bangat masalah yg dialami tanpa keluhan. Tapi apa , Setibanya di Roma, ia mengucap syukur dan menjadi kuat hatinya setelah melihat kasih karunia Allah juga bekerja di sana (28:15). Dia tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah atas apa yang dia alami.

Selalu ada saja alasan untuk bersyukur! Itulah prinsip hidup yang didemonstrasikan oleh Rasul Paulus dalam hidupnya. 

Cerita kuda oleh seseorang yg salah melihat proses Tuhan dalam hidupnya..

1 Tesalonika 5:18
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”


PEMBUATAN MUTIARA


Yakobus 1:2-3 (TB) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 

Mutiara adalah salah satu benda mulia atau barang mulia yang termasuk dianggap batu-batu yang berharga cukup mahal. Pada zaman dahulu, mutiara ini adalah barang yang cukup langka, karena ditemukan dalam beberapa tiram saja. Tapi hari ini teknologi dari jepang itu bisa membuat mutiara-mutiara dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan bisa diatur ukurannya bahkan warnanya, ada mutiara yang berwarna putih, ada yang silver, juga ada warna gold. Kecanggihan teknologi ini membuat bisa menciptakan mutiara dalam jumlah yang sangat banyak dan sangat indah. Bagaimana mutiara tercipta? Ketika di sebuah benda asing yang dimasukkan atau masuk kedalam tubuh tiram yang membuat tiram akan bereaksi mengeluarkan cairan dan menutup benda asing itu sehingga terciptalah sebuah benda yang sangat indah, darimana? ada benda asing yang masuk. Saudara dalam hidup kita ini, ada begitu banyak hal-hal asing yang tidak kita sukai dalam hidup kita. Yang masuk dalam hidup kita tanpa kita minta. Reaksi kita menentukan apakah engkau menjadi pahit atau menjadi seperti tiram yang menghasilkan mutiara. Setiap reaksi yang benar dari hidup kita akan menghasilkan mutiara kehidupan yang luar biasa. 

Saya berdoa hari ini responi, bereaksi lah dengan tepat ketika tantangan, persoalan, hal-hal asing yang tidak kau sukai masuk dalam hidupmu. Saya berdoa renungan hari ini memberkati kita semua. 

God bless you ~

Dosa Tidak Menghambat Kasih Setia-Nya

 (Mazmur 25 : 1-7)

Reformator DR Martin Luther sebelum memulai gerakan reformasi di Jerman, terlebih dahulu melakukan renungan pribadi secara khusuk dengan cara berpuasa di kamarnya. Pada masa puasa tersebut, dia ingin menyerahkan seluruh pergumulannya pada Tuhan dengan tekun untuk memohon perlindungan-Nya. Namun tiba-tiba iblis datang menghampiri dirinya dengan menunjukkan sebuah tulisan yang berisikan daftar dosa-dosa pada masa lalunya.

Dengan tegar kemudian Luther pun menjawabnya dan berkata; 'Benar! Semua yang kamu tulis itu adalah dosa-dosaku'. Tetapi dengan tegas Luther melawan, katanya,: 'Pergilah wahai iblis, sebab dosaku yang banyak itu tidak lebih besar dari kasih setia Tuhan yang kuterima dalam hidupku!'

Menurut M.Luther bahwa keyakinan akan pengampunan Tuhan atas dosanya, membuatnya menjadi manusia yang terus menerus diperbaharui. Dosa-dosanya tidak lagi membatasi ruang geraknya untuk memformasi ulang kebenaran dan keyakinanNya. Dosa tidak membuatnya berhenti memperjuangkan yang baik. Selama masih ada pengharapan yang disediakan oleh Tuhan.

Bgaimna kondisi ketika kita menghadapi suatu pergumulan berat seperti, kita dimusuhi, dihina dan diperlakukan tidak sepantasnya. Apakah kita tetap melayani Tuhan dengan baik, apakah kita tetap mau mempersembahkan hidup kita yang terbaik bagi Tuhan, apakah kita tetap rendah hati untuk selalu mencari Tuhan? Kalau seperti itu kondisi teman², ingatlah, bukan hanya teman²/saya yang pernah mengalami pergumulan hidup seperti itu.
Sang pemazmur, Raja Daud pun pernah mengalami pergumulan seperti itu. Nats ini mengungkapkan tentang pengakuan, kesadaran dan kesaksian hamba-Nya, Daud yang merasa terbeban dengan dosa-dosanya pada masa mudanya namun Allah tidak memperhitungkan kesalahan dan dosanya untuk menerima rahmat dan kasih setia-Nya.

Mazmur 25 ini mengisahkan betapa beratnya pergumulan yang dialami oleh Daud. Dari ungkapan-ungkapan doanya terlihat jelas betapa beratnya beban pergumulan yang dialaminya.
Saat Daud dipermalukan, dihina dan dikudeta kepemimpinannya oleh orang yang sangat dekat dengannya, yaitu anaknya sendiri, Absalom. Absalom berusaha untuk menggulingkan tahta kerajaan ayahnya sendiri sebagai raja dan akan berencana mengambil alih kepemimpinan sebagai raja dengan cara yang sangat tidak pantas. Absalom melakukan tindakan amoral terhadap ayahnya sendiri dengan menyetubuhi gundik-gundik ayahnya sendiri di depan mata seluruh bangsa Israel (2 Samuel 16:22).

Di tengah kepedihan hatinya, di tengah merasa berdosa dan di tengah penghinaan yang luar biasa yang dialaminya, apa yang Daud lakukan?

Pertama, ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan untuk berdoa. Artinya ia mengarahkan seluruh perhatiannya hanya kepada Tuhan.
Kedua, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa ia tidak mungkin dipermalukan oleh musuhnya, sebab Tuhanlah yang menjadi Pembelanya.
Ketiga, ia menanti-nantikan Tuhan sedemikian rupa, dengan pengharapan dan janji Tuhan pasti digenapi. Kata "menantikan" terdapat tiga kali dalam perikop ini (ay 3, 5, 21).

Pengampunan adalah cara masuk pada kebenaran Allah. Tidak ada kekuatan apapun dari manusia yang dapat membuatnya boleh menjadi orang benar di hadapan Allah, oleh karena itu hiduplah menurut jalanNya Tuhan dan dalam tuntunan Roh-Nya, supaya kita semakin mengerti jalan-jalanNya. Oleh karena pengampunan dan kasih setia Tuhan yang memampukan Daud untuk berdiri tegak menjadi hamba-Nya, memimpin umat-Nya sebagai pemimpin pada kerajaan Israel. Allah tidak memperhitungkan dosa kita bila kita menaruh percaya kepada-Nya.



RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...