Seorang teolog bernama Charles.S. Lewis pernah berkata, "Integritas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang mengawasi." Terkait dengan integritas, pada Mazmur 26 Daud menilai dirinya telah hidup dalam integritas. Hal ini dapat kita pahami dari frase "aku telah hidup dalam ketulusan" di ayat 1 (I have walked in my integrity).
Pernyataan Daud bukan untuk memperlihatkan dirinya sombong melainkan didasarkan pada fakta bahwa ia telah menjalani hidup bermoral (4-5) dan berkomitmen dalam beribadah (6-8). Daud berkomitmen, apapun yang terjadi dalam hidupnya, ia akan tetap menjaga hidup yang berintegritas. Hal ini terlihat pada ayat 1 Daud berkata, "?aku telah hidup dalam ketulusan?" dan pada ayat 11, "?aku (akan; will) hidup dalam ketulusan?".
Meski demikian, Daud menyadari bahwa integritasnya tidak sempurna, walau ia rindu untuk menjalani hidup benar di hadapan Tuhan. Daud sadar bahwa ia masih mungkin untuk jatuh ke dalam dosa. Karena itu, ia meminta Allah untuk menilainya (1). Karena Allah adalah Hakim yang adil, Allah pasti mampu menilai integritasnya dengan tepat dan benar. Daud juga memohon belas kasihan Tuhan untuk menyelamatkannya (11b) karena ia menyadari betapa rentan hidupnya, meski ia berusaha hidup berintegritas.
Bagaimanakah Daud membangun integritasnya? Integritas Daud dibangun bukan dari kemampuan kepemimpinan, prestasi, atau karakternya. Ia membangunnya di dalam Tuhan (1), di dalam kasih setia dan kebenaran Tuhan (3). Ini artinya, integritas Daud bukan didasarkan pada kemampuan dirinya, melainkan pada kasih dan kebenaran Tuhan. Hal ini menjadi penghiburan sekaligus dorongan bagi kita. Dalam kondisi bangsa yang terpuruk seperti sekarang ini, anak-anak Tuhan terpanggil untuk menjadi teladan dalam integritas hidup, yang berdasarkan kasih dan kebenaran Tuhan.