Sabtu, 06 April 2024

RENUNGAN ALKITAB - TROBOSAN / TERUSAN PANAMA

2 Samuel 5:17-25
2 Samuel 5 : 20
Lalu datanglah Daud di Baal-Perasim dan memukul mereka kalah di sana. Berkatalah ia: "TUHAN telah menerobos musuhku di depanku seperti air menerobos." Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim.

Ada kata yg bagus Tuhan menerobos
Teman² di dunia ini ada banyak terusan tapi ada 2 yg terkenal
Yaitu terusan suez dan panama 
Tpi sebenarnya masi ada banyak lagi yg di eropa

Dimna orng² membela daratan supaya bisa lewat kapal² tapi yg terkenal cuman suez dan panama 

Na terusan ini membela 2 daerah yaitu amrik utara dan selatan

Sebelumnya kapal² yg mau mencapai ke utara dan selatan harus menempuh jarak dan waktu yg cukup lama

Tetapi dgn di bangunnya terusan ini kapal² bisa lebih singkat perjalananya bahkan lebih bisa menghemat 60% waktunnya dan bahkan per tshun itu bisa di perkirakan kapal² yg lewat bisa mencapai 13ribu di terusan panama hingga menghemat waktu perjalanan..

Panjang 82km membela daratan  

Siapa orang pertama yg menyusulkan terusan ini, raja carles 5 dari spanyol .. setelah 400thn baru terealisasi terusan ini

Terusan sesuatu yg di terobos

Teman² Tuhan pengen sekali membuat trobosan dalam hidup kita
Sehingga semua perjalanan yg panjang yg memboroskan waktu,tenaga dan bahkan melelahkan itu bisa menjadi lebih hematt

Tiap kali Tuhan menerobos dalam hidup kita Dia sedang nembuat semua yg panjang menjadi lebih singkat dan lebih cepat dalan hidup kita

dan dia mau menberikan trobosan dalam hidup kita agas hidup kita berdampak
TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERBUAH

Matius 3:1-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Yohanes Pembaptis telah menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk dibaptis supaya mereka jangan hanya berhenti menjadi orang Kristen dan kemudian dibaptis saja, tetapi mereka harus melangkah ke tahap selanjutnya yaitu mengeluarkan buah-buah kehidupan yang berpadanan dengan Injil, sebab jika hidup orang Kristen tidak berbuah, maka  "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api."  (ayat 10), sebab bukan orang yang berseru Tuhan, Tuhan...yang akan masuk Kerajaan Sorga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa  (baca  Matius 7:21).  Melakukan kehendak Bapa ini berbicara tentang buah!

     Dalam perumpamaan pokok anggur yang benar dikatakan:  "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."  (Yohanes 15:2).  Proses pembersihan disebut proses pembentukan dan Tuhan memiliki banyak cara untuk membentuk kita, bisa melalui masalah, hajaran atau situasi padang gurun.  Pembentukan itu bertujuan untuk mendisiplinkan kita dan menarik kita semakin mendekat kepada-Nya.  Kunci untuk berbuah adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya;  bahkan untuk menegaskan hal ini kata tinggal ditulis sampai 10x dalam sepuluh ayat pertama dalam Yohanes pasal 15.  Jadi menghasilkan buah adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya yang bersifat mutlak, sebab melalui buah yang dihasilkan, kekristenan seseorang dapat dilihat dan dinilai oleh dunia.  "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."  (Matius 7:20).

     Buah-buah apa yang harus dihasilkan?  1.  Buah jiwa.  Berbicara tentang seberapa jauh kehidupan kita berdampak bagi orang lain atau lingkungan.  2.  Buah memberi.  Pengorbanan yang kita berikan kepada Tuhan:  waktu, tenaga, pikiran, dan uang  (materi)  adalah buah-buah yang dapat mendukung Injil diberitakan.  3.  Buah Roh.  Orang yang tinggal di dalam firman Tuhan pasti merefleksikan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, karakter Ilahi akan terpancar  (baca  Galatia 5:22-23a).

"Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik...supaya hidup mereka jangan tidak berbuah."  Titus 3:14




YOHANES PEMBAPTIS: Pribadi yang Rendah Hati

Matius 3:1-12

"Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."  Matius 3:3

Alkitab menyatakan bahwa Yohanes pembaptis memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus (sepupu) karena ibunya (Elisabet) masih ada hubungan kekerabatan (sepupu pula) dengan Maria (ibu Yesus).  Selain itu kelahiran Yohanes pembaptis juga ajaib dan mengherankan sebab ia dilahirkan dari seorang wanita yang sebenarnya mandul.  Juga ketika ia berada dalam kandungan, ayahnya mendadak menjadi bisu, dan baru dapat berbicara ketika ia lahir.

     Sesungguhnya ada banyak alasan bagi Yohanes untuk membanggakan diri atau menjadi seorang yang 'besar'.  Namun Yohanes tidak melakukan itu, ia tetaplah seorang yang rendah hati.  Padahal ia adalah pembuka jalan bagi kedatangan Sang Juruselamat yang sudah dinubuatkan sejak zaman nabi Yesaya (baca Yesaya 40:3).  Yohanes berkata,  "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api." (Matius 3:11).  Simak pula pernyataan Yohanes,  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Hal ini menunjukkan bahwa Yohanes tidak haus pujian atau ingin dihormati, ia tetap menempatkan Yesus sebagai yang utama dan terbesar.  Dialah yang patut ditinggikan dan diagungkan, bukan dirinya.

     Yohanes pembaptis telah memberikan teladan yang luar biasa bagi setiap orang percaya, terlebih lagi bagi para pelayan Tuhan bagaimana memiliki hati hamba dan rendah hati.  Seringkali ketika seseorang sudah dipercaya untuk melayani Tuhan, hatinya mulai berubah.  Apalagi yang sudah menyandang predikat 'hamba Tuhan' dengan 'jam terbang' yang sudah tinggi, penuh urapan dan terkenal.  Kita mulai membusungkan dada sehingga dalam hal pelayanan kita pun pilih-pilih, bahkan berani memasang bandrol alias pasang tarif:  mau melayani asal fasilitas yang disediakan sesuai dengan yang dikehendaki.  Kita sudah lupa dengan esensi seorang 'hamba':  tugas seorang hamba adalah untuk melayani, bukan dilayani.

Tuhan Yesus berkata,  "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu,"  Matius 20:26b-27


IKUTLAH AKU

Matius 8 : 22 

Bacaan Nats Firman Tuhan " Tetapi Yesus berkata kepadanya: " Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati mengubur orang-orang mati mereka "". 

Setiap orang yang dipanggil Tuhan Yesus untuk mengikutinya haruslah benar-benar  dari hati yang tulus dan bersih sebab sekali kita mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus dalam hidup kita, untuk tidak pernah lagi menghianatiNya. Keputusan mengikuti Yesus dengan setia adalah keputusan yang penting yang tidak pernah kita sesali seumur kita. Dalam cerita nats kita diatas Yesus bertemu dengan seorang muridNya dan hampir memasuki suatu hubungan yang lebih erat dengan mengikuti Tuhan Yesus.


Yesus sendiri yang memanggil orang itu untuk mengikuti Dia tetapi orang itu berkata " izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku " tetapi Yesus berkata padanya: " Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka " bagaimana mungkin orang mati menguburkan yang mati? sebenarnya orang yang dipanggil Yesus  hendak berkata : Biarlah dulu aku merawat bapak ku hingga sampai meninggal dan mengkuburkannya baru kemudian aku  mengikutiMu tetapi apapun alasannya dari orang tersebut Yesus memberi jawaban yang keras dengan berkata Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati (Orang mati secara rohani) menguburkan orang-orang mati mereka, Bukan maksud Yesus bahwa kita tidak boleh mengasihi orang tua kita, tetapi dalan hal ini Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa hal-hal kerajaan Allah lebih penting dari pada hubungan keluarga.

Memang ketika kita mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus  tidaklah semudah yang kita bayangkan dan pikirkan karena banyak tantangan yang harus kita hadapi untuk mengikutiNya. Yesus sendiri berkata : Barang siapa yang mau mengikuti Aku dia harus pikul Salib dan sangkal diri oleh sebab itu siapapun yang sudah memutuskan untuk mengikuti Yesus dalan kehidupannya tetap setia apapun itu tantangan yang akan kita hadapi dan janganlah pernah ragu karena Tuhan ada untuk kita selamanya.Amin


PERSEMBAHAN ORANG MAJUS


Matius 2:1-12
"Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur."  Matius 2:11b

Kelahiran Yesus Sang Juruselamat ditandai dengan adanya bintang di timur, dan bintang itulah yang menjadi penunjuk jalan yang menuntun orang-orang Majus ke tempat dimana Yesus dilahirkan.  "Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia."  (Matius 2:10-11).

     Siapa orang-orang Majus itu?  Orang Majus disebut pula orang bijak atau raja-raja dari timur.  Mereka adalah ahli astronomi  (ilmu perbintangan), tahu benar letak bintang, pergerakan dan tanda-tandanya.  Bukan hanya itu, mereka juga percaya bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang secara periodik memberi tanda-tanda yang dapat dipakai meramalkan peristiwa-peristiwa masa depan dan nasib seseorang atau bangsa.  Karena itu mereka tahu benar apa arti bintang yang nampak di timur tersebut.  Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa Allah dapat memakai siapa saja dan apa saja untuk menggenapi setiap rencana-Nya.  Selain memanggil dan memilih orang-orang yang sederhana, seperti Maria dan Yusuf, serta para gembala di padang yang menurut pandangan manusia tidak pantas dan tidak layak, ternyata Allah juga memakai orang-orang terpelajar supaya dengan pengetahuan yang dimiliki mereka memahami kehendak Allah dalam hidupnya.  Selain itu kita dapat belajar tentang kerendahan hati.  Kita tahu bahwa orang-orang Majus ini adalah raja-raja dari timur dan astronom, tetapi mereka rela meninggalkan kesibukan dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk mencari bayi yang baru dilahirkan.

     Setelah bertemu dengan Yesus mereka sujud menyembah Dia.  Bagi mereka Yesus jauh lebih utama dan jauh lebih berharga dari segala sesuatu yang dimilikinya.  Mereka pun  "...mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur."  (ayat nas).  Emas gambaran dari barang yang berharga, kemenyan berbicara tentang pujian dan penyembahan, sedangkan mur berbicara tentang ketekunan.

Sudahkah kita memberi yang terbaik kepada Tuhan Yesus dan punya kerendahan hati seperti orang-orang Majus ini?
Lahir Juruselamat Dunia

Matius 3:13-17

Dalam injil hari ini kita telah mendengar kisah tentang Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Inilah minggu terakhir dari masa natal dan besok kita akan memasuki masa biasa. 

Mari kita mencermati makna dari pembabtisan Yesus. Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis sebagai tanda bahwa Ia adalah anak Allah. Setelah dibaptis Yesus keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari Surga yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” 

Makna lain dari pembabtisan Yesus ialah penegasan dan perutusan-Nya dari Bapa-Nya. Sejak itu Yesus mulai melaksanakan tugas perutusan-Nya mewartakan kabar gembira dengan mengajar, menyembuhkan, mengampuni dan bahkan membangkitkan orang mati. Yesus juga diutus mewartakan kabar gembira untuk orang miskin, hina, papa, sakit dan di penjara. Ia akan melepaskan belenggu orang-orang yang tertindas. Belenggu ketertindasan di sini bukan terutama ketertindasan secara fisik namun secara psikis, hati dan perasaan. Banyak orang tertekan dan tertindas karena ketidak adilan. Dia juga diutus membebebaskan para penguasa dari belenggu keegosian, ketamakan dan kerakusan. 

Makna ditenggelamkan ke dalam air berarti Yesus dengan rela mau merendahkan diri sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Yesus juga akan menderita secara jasmani, rohani dan mental ketika ia mengalami penderitaan dalam sengsara dan wafat-Nya di salib sebagaimana kita juga menderita dalam mengemban salib hidup kita. Itu juga berarti bahwa Yesus dekat dengan kita dan memahami kondisi kita yang penuh dengan kelemahan, kekurangan dan dosa. Ia solider dengan apa yang kita alami dan rasakan. Ia ikut merasakan suka duka kita.

Para sahabat terkasih setelah kita mencermati makna pembaptisan Yesus sekarang kita diajak merenungkan makna pembabtisan kita sendiri. Ketika kita menerima sakramen pembaptisan sekurang-kurangnya kita menerima tiga buah dari situ: yakni menjadi putera-puteri Allah, menjadi anggota resmi Gereja dan dimurnikan dari dosa asal. Dengan baptisan kita menjadi orang Kristen yang berarti menjadi pengikut Kristus. Dengan Baptisan hati kita menjadi tempat kediaman Roh Kudus yang menghibur dan membimbing kita pada jalan ke Surga. 

Melalui baptisan kita diberi kekuatan oleh Tuhan supaya kita tidak lagi berdosa, tetapi hidup dan bertingkah laku baik. Dengan dibaptis kita diangkat pula menjadi anak Allah. Setelah kita dibebaskan dari dosa, maka kita akan menjadi sama dengan Yesus yang tidak berdosa itu. Seperti Kristus yg telah dibaptis dan diangkat menjadi Putera Allah, maka kita pun juga demikian: sebab kita telah menjadi sama dengan Yesus yg sudah terbebas dari dosa. Dan kitapun juga diangkatNya menjadi putera yang dikasihiNya. Dengan menerima pembaptisan kita juga diangkat menjadi anggota Gereja. Setiap anggota Gereja dipersatukan dengan anggota Gereja yg lain yg sudah dipermandikan. 

Namun ada catatan atau berupa kritik bagi kita. Kita kerap melupakan janji pembabtisan untuk melaksanakan kehendak Allah dan hidup sesuai dengan iman Katolik. Kita membawa anak untuk dibaptis bukan karena motivasi yang luhur demi perkembangan iman, namun demi seremonial saja. Banyak orang melihat pembaptisan sebagai suatu ritus keagamaan belaka, atau hanya mendapat surat atau serfitikat permandian. Mereka lupa bahwa pembaptisan seharusnya membawa pembaharuan cara hidup. Suatu kehidupan baru sebagai makhluk tertebus, sebagai anak Allah. (2 Kor 5:7)

Ingatlah bahwa pembabtisan hanya merupakan langkah awal dan itu tidak membuat kita otomatis menjadi orang katolik yang baik. Pembabtisan tidak juga menjamin kita masuk Surga. Proses yang lain harus kita lewati dan itulah proses pembelajaran dalam keberimanan dan menghayati apa yang diajarkan oleh Gereja kita. Kita tidak otomatis menemukan Yesus kita menerima baptisan. Kita harus bertobat dan memperbaharui diri terus menerus.
Jalan Hidup Orang Benar dan Orang Fasik

Mazmur 1: 1-6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Mazmur ini adalah suatu pengajaran bagi kita seperti menggunakan media cermin untuk menampilkan diri kita saat ini. Seperti apa diri kita ketika di perhadapkan dengan Firman Tuhan. Maka akan terlihat seperti apa dan bagaimana kita menempatkan diri kita saat ini. Apakah kita benar-benar bahagia? – jalan seperti apa yang sedang kita tempuh? – kita sedang duduk di mana? – kita sedang berdiri dimana?

 Dari sini kita sudah dapat mengidentifikasi diri kita, apakah hidup yang aku jalani saat ini adalah perilaku hidup orang benar atau perilaku hidup orang fasik. Kata kuncinya ada pada ayat 2 “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”.

Jika Anda sudah dapat mengidentifikasi diri dengan berkata “bahwa saya berada pada jalan hidup orang benar” – itu bagus, namun jangan lantas tinggi hati dan merasa hebat dari orang lain, justru ini adalah pertanda Anda sedang berbelok arah menuju jalan hidup orang fasik. Adalah bijak jika kita berkata dalam diri “Tuhan, aku mau hidup dalam pengajaranMu”

Orang benar dan orang fasik adalah sama-sama berdosa, namun orang benar mengenal dirinya sebagai orang berdosa, sehingga dia memerlukan keselamatan dari Tuhan, dia membutuhkan tuntunan Tuhan. Dapat kita ibaratkan dengan orang yang sedang sakit, jika dia sadar sedang sakit, maka dia pun akan mencari obat untuk kesembuhannya, namun orang fasik itu seperti orang sakit yang merasa sehat, dia menyimpan sakitnya.

Jalan hidup orang benar itu kesukaannya adalah Taurat Tuhan, dia membutuhkan tuntunan Tuhan, dia tidak bisa hidup tanpa Firman Tuhan. Maka dia akan membaca, mendengar, merenungkan, mempercayai dan melakukan Firman Tuhan. Namun, tidak demikian dengan orang fasik, dia seperti sekam, yang dengan mudahnya di tiupkan angin kemanapun berhembus. Dia tidak mengasihi dirinya, yang penting keinginan dan nafsunya tercapai. Tidak perduli itu baik atau tidak, jika sudah menjadi keinginannya maka akan dilakukannya, tidak perduli itu makanan sehat atau tidak, jika sudah selera dengan makanan itu akan di makannya.

Dalam mazmur ini memberikan kepada kita kekuatan “berbahagialah….” Jika kita hidup di jalan orang yang benar. Di ibaratkan seperti pohon yang di tanam di tepi aliran air, berbuah pada musimnya, daunnya tidak layu dan akan berhasil. Artinya, bahwa Firman Tuhan yang kita serap masuk dalam diri kita adalah sumber kehidupan, sumber kekuatan, sumber kebahagiaan dan sumber keberhasilan. Sebab firman Tuhan yang kita baca, dengarkan, renungkan, percayai dan yang kita lakukan itu pasti akan berhasil, sebagaimana rasul Paulus menuliskannya di Roma 9: 6 “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal”.

Firman Tuhan pasti akan berbuah dalam diri kita, pada saat yang tepat, sesuai dengan kebutuhan kita bukan keinginan kita. Firman Tuhan akan bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencana dan kasih karunia Tuhan. 
YESUS KRISTUS SUDAH MENYELESAIKAN!

Yohanes 19:28-42

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  Yohanes 19:30

Pernyataan Yesus sudah selesai menunjukkan bahwa bagi Yesus salib bukan hanya sekedar penderitaan atau aniaya bagiNya, tetapi salib adalah sebuah tugas dan misi yang harus Ia emban dari Bapa.  Karena salib itu merupakan tugas yang tidak mudah, Yesus pun sujud dan berdoa,  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).

     Ungkapan sudah selesai juga ungkapan bahwa Yesus telah menyelesaikannya dan taat sampai akhir seperti yang juga disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi,  "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8).  Ketika Yesus disalibkan, Ia ditinggalkan oleh murid-muridNya.  Mereka kecewa karena Yesus tidak menyatakan diri sebagai raja, malah disalibkan.  Itulah sebabnya orang-orang Yahudi sampai hari ini tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.

     Karena dosa, seharusnya kita yang menanggung hukuman, tapi kini telah diselesaikan oleh Kristus;  dan segala harga yang seharusnya kita bayar telah dilunasi olehNya.  Alkitab menyatakan,  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:  Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."  (1 Korintus 6:20).  Kita tahu harga dosa adalah maut dan penghukuman kekal.  Tetapi dalam Yesus Kristus telah diubah segala kutuk menjadi berkat;  dimerdekakan dari dosa menjadi hamba kebenaran!

     Bagaimana respons kita terhadap pengorbanan Kristus ini?  Dikatakan,  "Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."  Keselamatan adalah anugerah terbesar dalam hidup kita, karena itu jangan pernah sia-siakan.  Jangan lagi kita hidup dalam dosa, melainkan mari kita hidup sebagai  'manusia baru'.  Dan selagi masih ada kesempatan mari kita gunakan untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan memberi yang terbaik bagi Dia!

Ingatlah bahwa tidak ada satu pun orang yang tidak di dalam Yesus Kristus yang bisa lolos dari kebinasaan kekal, karena itu jangan sia-siakan keselamatan yang sudah kita terima ini;  mari kita kerjakan keselamatan ini dengan takut dan gentar pula!


MUJIZAT DI KANA: Air Menjadi Anggur.

Yohanes 2:1-11

"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."  Yohanes 2:10

Perkawinan adalah momen yang sangat spesial dan tak terlupakan dalam hidup seseorang.  Itulah sebabnya setiap orang yang hendak menikah dan mempersiapkan 'hari bersejarah' itu secara matang dan sebaik mungkin.  Karena momen itu begitu penting, maka tidak sedikit orang yang menangkapnya sebagai peluang bisnis sehingga muncullah istilah event organizer (EO) yang dapat menangani pesta perkawinan.  Jadi kita tidak perlu repot-repot menangani dan mempersiapkan rencana pesta perkawinan itu, tinggal mempercayakannya kepada EO, maka semuanya akan beres.  Tak terkecuali bagi bangsa Israel, perkawinan juga merupakan salah satu peristiwa yang sangat disakralkan.  Mereka sangat menghargai dan menghormati perkawinan, karena perkawinan itu kudus di hadapan Tuhan.

     Orang Yahudi memiliki kebiasaan menggelar pesta perkawinan besar-besaran dengan mengundang banyak orang, bahkan acara tersebut mereka gelar selama beberapa hari disertai perjamuan anggur di malam harinya.  Tak seorang pun berharap pesta perkawinan yang mereka gelar itu berakhir dengan kegagalan.  Inilah yang terjadi di pesta perkawinan di Kana.  Saat pesta tengah berlangsung mereka mengalami kekurangan anggur.  Bagaimana mungkin?  Bukankah mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik?  Namun ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.  Rencana dan rancangan manusia tidak ada yang sempurna, kegagalan adalah buktinya, namun,  "...tidak ada rencana-Mu yang gagal."  (Ayub 42:1).  Kekurangan anggur di tengah pesta adalah masalah serius dan sangat memalukan, menunjukkan bahwa si tuan rumah tidak bisa menjamu para tamunya dengan baik, dan ini bisa menodai acara, serta akan menjadi peristiwa yang tak mudah untuk dilupakan oleh si tuan rumah, kedua mempelai dan juga para undangan.  Tamu yang datang lebih awal beruntung karena mereka dapat menikmati anggur yang disediakan, tapi tamu yang datang belakangan tidak bisa menikmatinya.

     Dalam kondisi terjepit, apa yang bisa mereka perbuat?  Adakah orang lain yang sanggup menolong?  Tidak ada jalan lain selain kita datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan!
RENDAH HATI DAN APA ADANYA

Yohanes 1:19-28

"Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"  Yohanes 1:22

Ketika para imam dan orang-orang Lewi datang kepada Yohanes Pembaptis untuk mempertanyakan tentang keberadaannya, Yohanes Pembaptis menjawab dengan jujur dan apa adanya bahwa dia bukanlah Mesias, bukan Elia, dan bukan juga nabi yang sedang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel.  Ia menegaskan kepada mereka,  "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."  (Yohanes 1:23).  Pernyataan Yohanes Pembaptis ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rendah hati, orang yang tidak haus akan jabatan, orang yang tidak haus pujian dan sanjungan dari manusia, dan orang yang tahu apa yang menjadi porsi atau tugasnya di hadapan Tuhan.

     Di zaman sekarang ini bukan hal yang mengejutkan lagi bila di dalam suatu organisasi gereja atau di suatu ladang pelayanan masih ada orang-orang yang saling berebut posisi atau jabatan;  mereka menginginkan posisi tertentu yang strategis, sekalipun posisi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan karunia yang dimilikinya tapi tetap saja dipaksakan.  Yang mereka incar dan kejar adalah posisi, bukan tugas!  Jelas sekali bahwa yang menjadi motivasi mereka adalah kepentingan pribadi, bukan kemuliaan Tuhan.  Bahkan tidak sedikit para pelayan Tuhan yang saling menjatuhkan satu sama lain, tujuannya adalah untuk kemegahan diri sendiri.  Tidak demikian halnya dengan Yohanes Pembaptis, ia tidak mengaku-aku diri sebagai Musa atau Elia yang sudah populer di kalangan orang-orang Yahudi, supaya orang mengelu-elukan dia, karena memang ia bukanlah Elia dan juga bukan Musa.  Yohanes Pembaptis tetap tampil apa adanya!

     Setiap kita dipercaya Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda untuk saling melengkapi dan saling membangun dalam pelayanan  (1 Korintus 12:4-11), karena itu kita tidak perlu merasa iri hati kepada kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh orang lain.  Tetaplah menjadi diri sendiri dan kerjakan sesuai dengan porsi kita, karena Tuhan menciptakan kita istimewa, dan yang terutama adalah tetap rendah hati.

Milikilah motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, jangan sekali-kali melayani disertai dengan ambisi pribadi atau tendensi untuk mencari nama!


Jangan ragukan kuasa Tuhan


Yohanes 18:1 11

Ketika Ia berkata kepada mereka: Akulah Dia, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
Yohanes 18:6

Banyak orang di luar iman Kristen yang mengakui Yesus sebagai guru yang baik, seorang penuh hikmat, pribadi yang penuh kasih, dan pengakuan pengakuan lainnya. Namun, kalau mereka disuruh mengakui Yesus sebagai Tuhan, itu lain cerita.

Nah sekarang, bagaimana dengan Anda? Siapakah Yesus bagi Anda? Cara pandang Anda mengenai siapa Yesus sangat memengaruhi seluruh aspek kehidupan Anda. Cara Anda menjalani hidup, beribadah, merespons saat menghadapi masalah atau bersikap terhadap sesama, sangat dipengaruhi oleh pandangan Anda mengenai Yesus.

Peristiwa penangkapan Tuhan Yesus di taman Getsemani menyelipkan sebuah fakta yang sangat hebat. Yudas, si pengkhianat, datang bersama para pasukan yang pastinya terlatih untuk menangkap Yesus. Peristiwa penangkapan diawali dengan pertanyaan pembuka dari Yesus, Siapakah yang kamu cari? Mereka menjawab, Yesus dari Nazaret. Respons Yesus hanya menjawab singkat, Akulah Dia.
Tapi perkataan Akulah Dia membuat orang orang yang mau menangkapnya seketika mundur dan terjatuh ke tanah.

Mungkin kita tidak terlalu menyadari reaksi orang orang tersebut, padahal respons ini menyatakan hal yang luar biasa. Pengakuan Yesus akan diri Nya dan perkataan Nya itu membuat mereka tersungkur di hadapan Nya. Yesus tidak melakukan gerakan apa pun, Dia hanya berbicara. Kalau Yesus bukan Tuhan, perkataan Akulah Dia, tidak akan membuat mereka terjerembab jatuh. Yesus ditangkap bukan karena Dia tidak berdaya dan tidak punya kuasa tetapi karena Dia mengizinkan diri Nya ditangkap. Begitu pula dengan kematian Nya di atas kayu salib, bukan karena orang banyak membunuh Nya tetapi karena Dia menyerahkan nyawa Nya.

Tuhan Yesus adalah manusia dan Allah yang berkuasa, Dia memegang seluruh hidup Anda. Pengenalan Anda akan siapa Yesus sangatlah penting. Dia adalah Tuhan yang berkuasa tapi rela menyerahkan diri Nya untuk mati menebus dosa dosa kita semua. Konsekuensinya, seharusnya Anda menghargai pengorbanan Nya, mengakui kekuasaan Nya atas maut, dan tidak sembarangan dalam beribadah. Akuilah Yesus dalam segenap jalan hidup Anda, maka Anda bisa berharap sepenuhnya kepada Allah yang Maha Besar. Tuhan Yesus membuat Anda punya pengharapan yang teguh.

Refleksi Diri:

Masalah masalah apa yang biasanya membuat Anda meragukan kuasa Tuhan Yesus?

Apakah Anda selama ini sudah beribadah kepada Tuhan dengan sikap yang benar?
Contohilah teladanNya Tuhan Yesus

(Yohanes 13:15)
Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Ayat yang diucapkan oleh Yesus tersebut terdapat dalam kisah di mana Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Peristiwa pembasuhan kaki mereka terjadi menjelang penangkapan dan penyaliban Yesus. Yesus mengetahui bahwa tidak semua murid-murid-Nya "bersih" karena di antara mereka ada yang hatinya tidak benar dan tidak tulus dalam mengikut Dia. Yesus memberikan contoh kepada mereka agar mereka juga mengikuti teladan-Nya. Teladan apakah yang Yesus kehendaki supaya mereka lakukan?

Salah satu teladan yang Yesus berikan adalah supaya mereka saling merendahkan diri dan saling memaafkan satu sama lain. Untuk melakukan 'pembasuhan kaki' sesama kita, perlu adanya kerendahan hati dan tidak merasa gengsi atau merasa derajat kita lebih tinggi dari orang lain. Hal ini merupakan sikap hati yang paling penting untuk dapat melakukannya. Yesus telah melakukannya, sebab itu kita semua juga pasti dapat melakukannya, yaitu jika kita mau menyangkal diri di hadapan Tuhan dan sesama.

Teladan lain yang Yesus berikan adalah supaya memiliki hati yang bersih dan tulus dalam mengikut Tuhan. Banyak orang yang mengikut Tuhan dengan maksud yang tidak benar di hadapan Tuhan. Ada yang mengikut Tuhan hanya untuk mencari keuntungan pribadi, untuk mengenyangkan perut mereka dan berbagai motivasi lainnya (Roma 16:18; Filipi 3:19) Di antara para murid kita mengetahui bahwa Yudas Iskariot adalah orang yang seperti itu. Ia suka mencuri uang kas pelayanan Yesus. Bahkan karena uang ia rela menjual Yesus.

Bagaimanakah sikap hati kita dalam mengikut Tuhan? Adakah motivasi yang seperti Yudas Iskariot ataukah kita mengikut Yesus dengan segenap hati kita? Biarlah kita berusaha untuk hidup menyenangkan hati Tuhan dengan segala pikiran, perasaan dan perbuatan kita. Tuhan tahu bahwa kita masih penuh dengan kelemahan dan kekurangan dalam mengikut Dia. Seringkali kita masih sombong dan berat hati untuk memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Yesus telah memberikan sebuah teladan yang baik bagi kita, agar kita juga hidup sebagaimana yang Yesus telah lakukan. (phm)

"Yesus buat teladan yang telah Kau berikan kepada para murid dan juga kepadaku. Ajarku untuk merendahkan diri dan mengampuni sesamaku. Amin."

Keterpurukan untuk kemuliaan


Yohanes 11: 4. 

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda mendengar seorang sahabatmu berada di ranjang kematiannya? Apakah Anda menunggu beberapa hari sebelum berkunjung? Tidak, tentu saja tidak! Tetapi itulah yang dilakukan Yesus.
Dalam Yohanes 11, ketika Yesus mendengar bahwa sahabatnya, Lazarus, sakit parah, ia tidak segera berangkat menemuinya. Dia tetap di tempat-Nya selama dua hari. Ketika Yesus akhirnya tiba di kampong halaman Lazarus, temannya telah mati.

Bahkan saudara perempuan Lazarus, Maria dan Martha, menyuarakan kekecewaan mereka. Keduanya berkata, “Tuhan, andai saja Kamu ada di sini, saudaraku tidak akan mati” (Yohanes 11:21, 32). Jika Yesus tahu Lazarus akan mati (karena Yesus adalah Tuhan dan mengetahui segala sesuatu), mengapa Dia menunggu untuk pergi menemui Lazarus? Apakah Dia tidak peduli? Acuh tak acuh? Kejam? Tentu saja tidak. Yesus dengan sengaja menentukan waktu kedatangannya setelah kematian Lazarus sehingga Ia dapat menunjukkan kuasa kebangkitan-Nya dan membawa pujian bagi Allah. Seperti yang dikatakan ayat hari ini, “Itu terjadi untuk kemuliaan Allah sehingga Anak Allah akan menerima kemuliaan dari ini.”

APAKAH ARTINYA?

Tuhan terkadang membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita sehingga Dia dapat menerima kemuliaan yang lebih besar melalui situasi ini. Tidak ada keluarga atau teman Lazarus yang ingin dia mati. Tetapi Yesus membiarkan hal itu terjadi untuk mengungkapkan identitas sejatiNya sebagai Mesias dan membawa lebih banyak kemuliaan kepada Allah melalui mukjizat yang luar biasa. Kita tidak selalu mengerti mengapa Allah membiarkan kesulitan dalam hidup kita. Dan itu tidak masalah. Dia adalah Tuhan, dan kita tidak. Seperti yang dikatakan Yesaya 55: 9, “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”


ANUGERAH KESEMBUHAN



Baca:  Yohanes 5:1-18

"Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan."  Yohanes 5:9

Alkitab menyebutkan bahwa di dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang dalam bahasa Ibrani disebut Betseda, artinya  'rumah anugerah'.  Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menyediakan anugerahNya bagi semua orang yang hidup dalam penderitaan karena buta, timpang dan juga lumpuh.  Orang-orang yang sakit sangat memerlukan anugerah dari Tuhan, terlebih bagi mereka yang sakit rohani, buta rohani, timpang rohani dan juga lumpuh rohani.  Inilah yang menjadi menghalang iman mereka sehingga tidak dapat bertumbuh.

 Pada waktu itu dikisahkan bahwa orang-orang yang sakit harus selalu siap menantikan waktu kapan gerakan pertolongan Tuhan terjadi,  "Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu;  barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya, sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya."  (Yohanes 5:4).  Goncangan air itu sama halnya dengan gerakan kuasa Roh Kudus yang siap menolong anak-anak Tuhan yang membutuhkan pertolongan.  Tapi kita juga harus selalu dalam keadaan siap menantikan kehadiranNya, karena bila hadirat Tuhan turun kita juga harus segera bertindak, yaitu membuka hati kita dengan iman untuk menerima anugerahNya.

Firman Tuhan merupakan suatu gerakan atau goncangan kuasa Tuhan yang sanggup memberikan pertolongan bagi setiap orang yang sakit, baik sakit secara fisik atau spiritual.  Tetapi banyak di antara kita yang keadaannya seperti orang yang sudah sakit selama tiga puluh delapan tahun, tak dapat bergerak untuk masuk ke dalam kolam.  Artinya tidak dapat bertindak dan berusaha dengan iman untuk menerima anugerah Tuhan yang sudah disediakanNya.  Ketika Tuhan Yesus melihat orang yang sakit itu bertanyalah Ia,  "'Maukah engkau sembuh?'  Jawab orang sakit itu kepadanya:  'Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.,'"  (Yohanes 5:6b-7).  Jawabannya justru seolah-olah ia sedang menyalahkan orang lain dan berharap orang lain dapat menolongnya. 

Apapun latar belakang kita seburuk apapun masalalu kita jangan pernah menyerah , Terkadang kita sebagai umat kristen masih ragu dan pesemis akan janji Tuhan, ingat anugerah Tuhan selalu tersedia bagi kita yang mau datang kepadanya!


Dapat Hikmat, Dapat Semua


Amsal 8:22-36
Ungkapan, "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" menyingkapkan keinginan untuk melakukan satu hal, namun mendapatkan hasil-hasil yang lain sekaligus.

Dalam bacaan hari ini, hikmat dikatakan sebagai permulaan segala pekerjaan Allah (22). Hikmat sudah ada sebelum segala sesuatu ada (29). Bahkan, bukan hanya ada sebelum segala sesuatu, hikmat disebut juga sebagai anak kesayangan Tuhan yang ikut bersama-sama dalam menjadikan segala sesuatu (30-31). Oleh karena itu, mendengarkan dan menerima Sang Hikmat merupakan sebuah alasan yang paling logis untuk bisa menerima segala hal yang baik.

Hal itu dipertegas oleh penulis Amsal yang menyatakan "siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya" (35-36). Pernyataan itu tidak berlebihan, malahan sangat terjamin. Pasalnya, Sang Hikmat adalah pemilik segala sesuatu. Oleh karena itu, ketika dia mengatakan "mendapatkan aku, mendapatkan hidup" hal itu merupakan sebuah kalimat dengan jaminan yang pasti.

Oleh karena itu, ketika sudah mendapatkan Sang Hikmat, maka kita tidak boleh melepaskannya dengan alasan apa pun. Justru sebaliknya, kita harus melepaskan banyak hal lain agar bisa memiliki Sang Hikmat. Pasalnya, tak ada lagi yang dapat memberikan jaminan seperti itu. Hanya Sang Hikmat yang memiliki legitimasi paling kuat dan paling logis.

Ada satu frasa dalam lagu Mandarin yang jika diterjemahkan, artinya "berkat terindah dalam hidup ini adalah dapat mengenal Yesus". Ada pula frasa dalam salah satu kidung pujian yang berbunyi "Kaulah Tuhanku surya hidupku, asal Kau ada, yang lain tak perlu". Dua buah frasa itu mengungkapkan rasa syukur yang begitu mendalam karena telah mengenal Sang Hikmat. Pasalnya, Sang Hikmat telah memberikan jaminan yang indah bahwa mendapatkan Dia berarti mendapatkan segala yang baik.

Oleh karena itu, mari kita bersama bersyukur karena telah memiliki Yesus, Sang Hikmat Allah. 

KAMBING GUNUNG


2 Samuel 22:33 (TB) Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata; 

Ada sejenis kambing yang gak normal, yang enggak tinggal di daratan tapi mereka sangat suka tinggal di tebing-tebing yang curam. Disebut snow goat, yaitu kambing-kambing yang tinggal di daerah bersalju. Saudara, kenapa binatang ini begitu suka dan punya habitat tinggal di lereng-lereng gunung yang bahkan kecuramannya bisa mencapai 90°? Dan saya sangat kagum mereka bisa nempel di tebing-tebing gunung itu saudara. Karena mereka ini mempunyai sebuah hooves atau kuku kaki yang luarnya itu keras tapi dalamnya ada lapisan yang seperti karet, ini yang membuat mereka bisa melekat dengan sangat bagus bahkan di tebing yang paling curam. Mereka disana untuk menghindari pemangsa, sebab ada predator-predator yang akan menyerang kambing-kambing ini dan memangsanya. Dengan mereka tinggal di tebing yang sangat curam predatornya enggak bisa mengejar mereka, dan mereka sangat aman disana. Saudara, tahukah Tuhan kita dikatakan seperti gunung batu bagi hidup kita. Setiap kali engkau melekat pada gunung batu itu, predator kita, yaitu setan enggak pernah bisa mendekati kita. Karena kau ada disebuah area yang sangat aman, dekat dengan Tuhan. Dia gunung batu keluputan dan keselamatan dalam hidup kita. Selama habitat mu dekat dengan dia, engkau aman dari semua predator setan yang jahat yang menyerang hidupmu. 

Hari ini saya berdoa setiap kita melekat dan mendekat kepada dia dan musuh tidak pernah bisa mendekati engkau. Saya berdoa renungan hari ini memberkati kita semua. 

God bless you ~

TERBEBAS DARI RASA KUATIR


Filipi 4:1-9
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  Filipi 4:6

Seringkali kita berpikir bahwa memiliki kekuatiran adalah hal yang biasa, wajar dan normal bagi kehidupan manusia.  Namun bagi kehidupan orang percaya hal itu tidak seharusnya terjadi, karena kekuatiran adalah salah satu bentuk penjajahan Iblis.  Kekuatiran membuat seseorang larut dalam kesedihan, murung sehingga sukacita dan damai sejahtera menjadi hilang.  Ingat, ketika kita kuatir berarti kita sedang meragukan kuasa Tuhan.  Kebenarannya adalah Tuhan tidak pernah memberikan roh yang mendatangkan kekuatiran dalam hidup orang percaya.  Normalnya, hidup seorang Kristen adalah hidup yang terbebas dari rasa kuatir.  Itulah sebabnya rasul Paulus menasihatkan,  "Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran."  (1 Korintus 7:32a).  Mana mungkin kita hidup tanpa rasa kuatir?  Tidak ada perkara yang mustahil!  Asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

Tuhan Yesus berkata,  "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"  (Matius 6:25).  Karena itu  "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."  (1 Petrus 5:7).  Jadi terbebas dari rasa kuatir adalah pilihan hidup karena kekuatiran itu adalah serangan.  Dengan kata lain, ketika serangan kekuatiran itu datang, dan tidak kita lawan, ia akan menjajah dan mengintimidasi kita.  Karena itu ketika serangan kekuatiran itu datang kita harus bertindak dan melawannya dengan percaya kepada Tuhan.

Mengapa kita tidak boleh kuatir?  Karena itu merupakan perintah Tuhan dan kita pun harus mentaatinya.  Bukankah firman Tuhan tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk tidak kuatir?  Di dalam Amsal 12:25a dikatakan,  "Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,"  Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kekuatiran sama sekali tidak mendatangkan kebaikan atau keuntungan bagi hidup kita, sebaliknya, malah merugikan.  Jadi kekuatiran itu sama sekali tidak ada gunanya.

Buang semua kekuatiran karena kita memiliki Bapa yang sanggup memelihara hidup kita dan tidak pernah meninggalkan kita!


RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...