Senin, 18 September 2023

RENUNGAN ALKITAB - Manusia Sejati

Amsal 22:1-16

Kita hidup dalam dunia yang menganggap kesejatian manusia dinilai dari apa yang ia punya, pakai, dan makan. Banyak orang berlomba-lomba untuk memamerkan harta, pakaian, restoran dan menu makanannya di laman media sosialnya. Banyak orang juga memberi banyak like atas unggahan yang menampilkan kemewahan.

Akan tetapi, menurut pengamsal, kesejatian manusia bukan perkara milik (having), melainkan keberadaan (being). Manusia adalah ciptaan Tuhan (2). Menjadi manusia yang dikasihi orang lebih berharga daripada memiliki kekayaan besar dalam perak dan emas (1). Mengapa? Karena kehormatan dan kehidupan adalah ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan (4). Selain itu, orang yang membagi harta kepada orang yang berkekurangan akan diberkati (9). Sebaliknya, orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri akan merugikan diri saja (16).

Nilai seorang manusia ditentukan oleh Allah, bukan karena hartanya. Di hadapan Allah, semua manusia sama nilainya. Setiap manusia adalah penyandang gambar dan rupa Allah.

Kiranya kebenaran itu menyadarkan kita dalam dua hal. Pertama, kita patut bersyukur atas keadaan kita saat ini. Kita tidak perlu iri terhadap keadaan orang lain. Kita juga tidak perlu berupaya menjadi orang lain. Demikian juga, kita tidak perlu merasa kecil hati jika kita tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Jadilah diri sendiri, cukupkanlah dengan apa yang ada pada diri sendiri, dan tetaplah menjadi orang yang rendah hati. Ingatlah bahwa kebanggaan kita adalah kita dimiliki dan memiliki Allah, Pencipta.

Kedua, kiranya kita memperlakukan sesama manusia dengan baik secara adil. Kiranya, kita tidak menjadikan sesama kita sebagai objek lelucon (prank) demi meraup keuntungan dari unggahan media sosial kita. Sebab, sesama kita adalah ciptaan yang dikasihi dan dihargai oleh Allah. Kiranya, kita pun tidak menilai dan memperlakukan seseorang berdasarkan apa yang ia punya, apa yang ia pakai, dan apa yang ia makan.

RENUNGAN ALKITAB - Mendidik dan Dididik dalam Hikmat Tuhan

Amsal 19:18-29

Pengajaran atau pendidikan bagi generasi penerus/anak-anak diperhatikan secara serius dalam tradisi kehidupan bangsa Israel. Beberapa bagian di dalam Perjanjian Lama (PL) dengan jelas mencantumkan petunjuk pendidikan/pengajaran untuk anak. Kitab hikmat seperti Amsal adalah salah satunya.

Perlu dipahami sebelumnya bahwa pengajaran anak dalam PL ialah elaborasi antara pengetahuan, karakter, dan kerohanian. Menurut perikop yang kita baca kali ini, tujuan mendidik anak ialah: pertama, anak bertumbuh menjadi pribadi yang bijak dalam menjalani kehidupan (20); kedua, anak menghormati orang tua dan tidak mempermalukan keluarga (26). Tersirat harapan, anak selalu memerhatikan pengajaran yang telah diterimanya.

Di saat yang sama, terdapat fenomena-fenomena yang terjadi pada saat itu dan harus diwaspadai anak-anak. Terdapat peringatan agar anak tidak menjadi pemarah (19), pembohong (22), pemalas (24), dan pencemooh (25, 28, 29). Hal-hal tersebut harus diperhatikan oleh umat agar tidak menyia-nyiakan kehidupan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Kitab Amsal penuh dengan peringatan akan hal-hal itu.

Maka, yang perlu dilakukan oleh seseorang terutama generasi penerus/ anak-anak adalah hidup dengan memerhatikan hikmat dan didikan agar menjadi pribadi yang bijak, setia, dan takut akan Allah. Sadarilah bahwa sesungguhnya satu-satunya yang berdaulat dalam hidup manusia adalah Allah semata. Manusia boleh hidup dan bertumbuh dengan merencanakan segala sesuatu, tetapi pada akhirnya keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

Pada akhirnya, pesan perikop kita pada hari ini tidak hanya relevan dalam proses pendidikan generasi penerus, melainkan juga bagi kita semua dari berbagai golongan usia. Bukankah hidup yang kita jalani adalah soal belajar dan mengajar? Perhatikanlah bagaimana kita hidup dan hiduplah seturut dengan hikmat-Nya. Bagikanlah pengalaman dan pemahaman yang kita miliki kepada orang lain terutama generasi penerus/anak-anak yang membutuhkan bimbingan dan tuntunan.

RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...