Sabtu, 24 Februari 2024

RENUNGAN ALKITAB - Hati-hati Dalam Berkata

Amsal 18:1-24

Kita mungkin sering mendengar sebuah nasihat berupa pepatah untuk berhati-hati dalam berkata-kata: "mulutmu harimaumu". Nasihat senada juga dapat kita temukan dalam bacaan kita hari ini.

Perkataan yang diucapkan oleh orang bebal akan menimbulkan perbantahan (6). Ayat ini menegaskan, perkataan yang diucapkan dengan sembarangan akan membawa perselisihan bagi yang mengucapkannya dan bahkan bisa berdampak buruk pada orang lain.

Senada dengan peringatan tersebut adalah perkataan fitnah terhadap orang lain (8). Celakanya, banyak orang-walaupun sudah mengetahui jika seseorang tengah memfitnah pihak lainnya-tetap saja menerima perkataan itu sebagai sebuah kebenaran tanpa upaya untuk mengklarifikasinya terlebih dahulu. Situasi tersebut bagaikan orang yang menelan fitnah karena fitnah enak rasanya (8).

Pada akhirnya, perkataan yang diucapkan oleh setiap orang pasti membawa akibat tertentu. Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya (8). Demikianlah ungkapan penulis Amsal yang kemudian makin dipertegas bahwa lidah memiliki kuasa untuk menyelamatkan hidup seseorang atau merusaknya (21). Dengan demikian, setiap orang harus siap menanggung segala akibat dari ucapannya.

Kesadaran akan akibat yang ditimbulkan oleh perkataan seharusnya membawa orang-orang yang berhikmat untuk senantiasa berhati-hati dan berkata dengan bijak. Orang yang bersandar pada hikmat Tuhan, perkataannya akan menjadi seperti sumber air yang dalam, yang mendatangkan kesegaran serta kesejukan bagi tubuh dan jiwa.

Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkataan sejatinya sudah kita sadari. Namun, karena kelemahan kita sebagai manusia, sering kali begitu sulit rasanya untuk mengendalikan diri. Maka dari itu, kita perlu bersandar penuh pada pertolongan Tuhan. Dalam Dia ada keselamatan serta perlindungan, karena Allah adalah menara yang kuat bagi setiap orang yang berlindung kepada-Nya.

RENUNGAN ALKITAB - Pelajaram Dari Lego

Yakobus 1:2-12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan. —Yakobus 1:12 

Setiap tahun, kira-kira sepuluh keping Lego terjual kepada setiap orang di muka bumi ini. Itu artinya lebih dari tujuh puluh lima miliar bata plastik kecil secara total. Namun, itu semua tidak akan terjadi kalau bukan karena kegigihan pembuat mainan asal Denmark, Ole Kirk Christiansen.

Selama beberapa dekade, Christiansen sudah bekerja keras di Billund, Denmark, sebelum menciptakan Leg Godt, yang berarti “bermain dengan baik”. Dua kali bengkel kerjanya dilalap api. Ia mengalami kebangkrutan dan perang dunia sehingga kekurangan material. Akhirnya, pada akhir 1940-an, ia mendapat ide untuk membuat bata-bata plastik yang bisa saling mengunci. Saat Ole Kirk meninggal dunia pada tahun 1958, Lego sudah berkembang menjadi merek yang dikenal luas.

Bertahan di tengah tantangan pekerjaan dan kehidupan memang tidak mudah. Demikian pula dalam kehidupan rohani, saat kita berusaha bertumbuh semakin menyerupai Yesus. Masalah bisa datang menimpa, dan kita membutuhkan kekuatan Allah untuk bertahan. Yakobus menulis, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan” (Yak. 1:12). Terkadang cobaan yang kita hadapi berupa hubungan, keuangan, atau kesehatan yang memburuk. Terkadang kita menghadapi godaan yang menghambat kita untuk memuliakan Allah dengan hidup kita.

Namun, Allah menjanjikan hikmat untuk saat-saat seperti itu (ay.5), dan Dia meminta kita untuk percaya bahwa Dia akan menyediakan segala yang kita butuhkan (ay.6). Melalui semua itu, ketika kita mengizinkan Dia menolong kita untuk bertahan dalam menghormati Dia dengan hidup kita, kita menemukan berkat sejati.

Tuhan Yesus memberkati kita semua

RENUNGAN ALKITAB - Jangan Memihak Kepada Dosa

Matius 27 : 17
Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"

Dunia terbalik!  Inilah pernyataan banyak orang menyikapi apa yang sedang terjadi dan melanda dunia ini.  Bagaimana tidak?  Di dunia ini apa saja bisa terjadi:  hukum bisa diperjualbelikan, uang berkuasa, keadilan sulit ditegakkan, kejahatan dan dosa semakin merajalela di mana-mana;  sementara, kebenaran kian tidak ada tempat di dunia ini.  Orang yang jelas-jelas bersalah bisa dibenarkan, sebaliknya orang yang berbuat benar malah dipersalahkan.  Di zaman sekarang ini uanglah yang 'berbicara' sehingga segala hal bisa diatur dan dikompromikan!

Pilatus adalah contoh orang yang lebih memilih berkompromi dengan ketidakbenaran.  Ketika orang-orang Yahudi menyerahkan dua orang kepadanya, yaitu Barabas dan Yesus Kristus kepadanya untuk diadili, Pilatus tidak bisa bertindak tegas, padahal ia tahu benar siapa yang salah dan siapa yang benar.  Barabas jelas-jelas adalah orang yang terkenal kejahatannya.  Bagaimana dengan Yesus Kristus?  Dia sama sekali tidak bersalah dan tidak ada kejahatan apa pun yang diperbuat olehNya sehingga dapat dijadikan alasan menghukum Dia.  Pilatus pun tahu benar alasan mengapa Yesus Kristus diserahkan yaitu karena orang-orang Yahudi sangat dengki.  Ketika orang banyak berteriak,  "Salibkan Yesus dan Barabas!", Pilatus harus mengingkari hati nuraninya dan lebih memihak kepada yang salah,  "...ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan."  (Matius 27:26).

Jika Pilatus bertindak tegas dan tidak berkompromi dengan ketidakbenaran atau Pilatus dengan kekuasaannya sekarang dia tetap adi untuk tidak menyalibkan Yesus.
Pasti Yesus tidak disalibkan. Lalu bagaimana dengan dosa-dosa kita?

Apakah Yesus harus mengambil salibnya sendiri, lalu memaku dirinya sendiri di Kayu Salib untuk membebaskan kita dari dosa-dosa? PastiNya tidak

Sebenarnya bagaimana cara memandang seorang seperti Pilatus?
Apakah sebagai orang bersalah karena menyalibkan Yesus yang tidak bersalah sedikitpun.
Atau sebagai orang yang ''benar'' karena menjalankan takdirnya yang membuat Yesus disalibkan sehingga Yesus dapat menebus dosa-dosa seluruh umat manusia?

Tapi kita juga harus ingat bahwa:
Tuhan memakai siapa saja untuk menggenapi nubuatNya dan itu tergantung kita yang terpilih apakah kita mau menerimanya atau tidak. Pilatus memilih untuk menyalibkan Yesus, dia tidak bertindak benar. Seandainya Pilatus bertindak tegas dan tidak menyalibkan Yesus, pasti ada orang lain yang akan menggenapi nubuat tersebut.

Teman² melihat, dari sisi Pilatus. Dia salah karena sudah tahu kebenaran dan bahkan sudah mengatakan "aku tidak menemukan kesalahan dalam diri orang ini" Tahu yang benar tapi memilih yang salah. Karena hampir semua menyatakan Yesus salah bahkan Pilatus sendiri. Keputusan Pilatus salah. karena dasar keputusannya bukan kebenaran tetapi Ketakutan dan kemuynafikan:
takut kepada orang banyak bukan kepada Tuhan makanya dia memilih untuk berkompromi dengan dosa yang salah.

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat"  (1 Petrus 1:14), jika tidak, maka Tuhan akan menolak kita!

RENUNGAN ALKITAB - Di Balik Jawaban Doa

Daniel 9:20-27

Sering kali kita ingin Allah memahami apa yang kita mau saat kita berdoa. Tidak hanya itu, kita merasa bahwa Allah begitu mengasihi kita jika permohonan kita dikabulkan-Nya. Maka, tak mengherankan jika apa yang kita baca hari ini bertolakbelakang dengan ekspektasi kita.

Alkitab mencatat bahwa sementara Daniel berdoa, malaikat Gabriel kembali datang kepadanya (20-21). Gabriel memberikan penglihatan terkait dengan doa permohonan Daniel. Tujuannya bukan hanya agar Daniel tahu apa jawaban Allah, melainkan supaya ia memahami apa tujuan Allah atas semua yang akan Dia lakukan kepada umat-Nya (22-23).

Allah telah menetapkan waktu bagi bangsa Israel, untuk melenyapkan kefasikan, mengakhiri dosa, dan menghapus kesalahan (24). Allah juga menyatakan bahwa akan ada pemulihan bagi Yerusalem (25). Sampai akhir, Allah akan tetap menjalankan keadilan-Nya dan membinasakan penguasa yang keji (26-27).

Secara sekilas jawaban Allah tidak seperti apa yang diharapkan Daniel. Bukannya menghapuskan hukuman, Allah justru menetapkan masa yang akan dilalui oleh bangsa Israel dalam rangka usaha Allah menyelamatkan dan memulihkan umat-Nya. Daniel tidak akan memahaminya jika Allah tidak menyatakannya melalui Gabriel yang diutus-Nya. Allah ingin Daniel mengetahui apa yang menjadi isi hati-Nya dan tujuan dari rencana-Nya.

Allah pasti menjawab setiap doa yang dinaikkan oleh umat-Nya. Namun, jawaban Allah bukanlah berdasarkan apa yang kita kehendaki, melainkan apa yang menjadi kehendak-Nya. Kasih Allah bukan didasarkan pada dikabulkannya atau tidak apa yang kita inginkan. Kasih Allah sudah dibuktikan melalui keselamatan yang Ia berikan melalui pengurbanan Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.

Terkadang jawaban Tuhan terhadap doa kita adalah  'tunggu'.  Banyak orang berpendapat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan sehingga kita tidak sabar menanti-nantikan Tuhan.  Ketidaksabaran menunggu jawaban dari Tuhan inilah yang seringkali menjadi penyebab kegagalan kita mengalami penggenapan janji Tuhan.  Daud dalam mazmurnya menasihati,  "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"  (Mazmur 27:14).  Sudah menjadi sifat alamiah bahwa manusia umumnya menginginkan segala sesuatunya secara instan.  Dan ketika pertolongan Tuhan sepertinya berlambat-lambat kita pun menyerah di tengah jalan dan tidak lagi berdoa.  Berdoa itu membutuhkan konsistensi dari orang yang melakukannya.  Karena itu Tuhan Yesus menasihati kita agar berdoa dengan tidak jemu-jemu  (baca  Lukas 18:1-8).  Jangan menyerah sampai kita melihat Tuhan bekerja!

Bukan Tuhan sengaja mengulur-ulur waktu, tetapi Ia tahu waktu yang tepat dan terbaik bagi kita.  Waktu Tuhan itu tidak pernah terlambat atau terlalu cepat,  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkotbah 3:11).  Selalu ada maksud dan tujuan Tuhan di balik penundaan-Nya:  Ia ingin menguji kesabaran kita, menguji ketekunan kita dan mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya.  Yang pasti janji Tuhan adalah ya dan amin!

"Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan..."  Yeremia 33:14


RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...