Sering kali kita ingin Allah memahami apa yang kita mau saat kita berdoa. Tidak hanya itu, kita merasa bahwa Allah begitu mengasihi kita jika permohonan kita dikabulkan-Nya. Maka, tak mengherankan jika apa yang kita baca hari ini bertolakbelakang dengan ekspektasi kita.
Alkitab mencatat bahwa sementara Daniel berdoa, malaikat Gabriel kembali datang kepadanya (20-21). Gabriel memberikan penglihatan terkait dengan doa permohonan Daniel. Tujuannya bukan hanya agar Daniel tahu apa jawaban Allah, melainkan supaya ia memahami apa tujuan Allah atas semua yang akan Dia lakukan kepada umat-Nya (22-23).
Allah telah menetapkan waktu bagi bangsa Israel, untuk melenyapkan kefasikan, mengakhiri dosa, dan menghapus kesalahan (24). Allah juga menyatakan bahwa akan ada pemulihan bagi Yerusalem (25). Sampai akhir, Allah akan tetap menjalankan keadilan-Nya dan membinasakan penguasa yang keji (26-27).
Secara sekilas jawaban Allah tidak seperti apa yang diharapkan Daniel. Bukannya menghapuskan hukuman, Allah justru menetapkan masa yang akan dilalui oleh bangsa Israel dalam rangka usaha Allah menyelamatkan dan memulihkan umat-Nya. Daniel tidak akan memahaminya jika Allah tidak menyatakannya melalui Gabriel yang diutus-Nya. Allah ingin Daniel mengetahui apa yang menjadi isi hati-Nya dan tujuan dari rencana-Nya.
Allah pasti menjawab setiap doa yang dinaikkan oleh umat-Nya. Namun, jawaban Allah bukanlah berdasarkan apa yang kita kehendaki, melainkan apa yang menjadi kehendak-Nya. Kasih Allah bukan didasarkan pada dikabulkannya atau tidak apa yang kita inginkan. Kasih Allah sudah dibuktikan melalui keselamatan yang Ia berikan melalui pengurbanan Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.
Terkadang jawaban Tuhan terhadap doa kita adalah 'tunggu'. Banyak orang berpendapat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan sehingga kita tidak sabar menanti-nantikan Tuhan. Ketidaksabaran menunggu jawaban dari Tuhan inilah yang seringkali menjadi penyebab kegagalan kita mengalami penggenapan janji Tuhan. Daud dalam mazmurnya menasihati, "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!" (Mazmur 27:14). Sudah menjadi sifat alamiah bahwa manusia umumnya menginginkan segala sesuatunya secara instan. Dan ketika pertolongan Tuhan sepertinya berlambat-lambat kita pun menyerah di tengah jalan dan tidak lagi berdoa. Berdoa itu membutuhkan konsistensi dari orang yang melakukannya. Karena itu Tuhan Yesus menasihati kita agar berdoa dengan tidak jemu-jemu (baca Lukas 18:1-8). Jangan menyerah sampai kita melihat Tuhan bekerja!
Bukan Tuhan sengaja mengulur-ulur waktu, tetapi Ia tahu waktu yang tepat dan terbaik bagi kita. Waktu Tuhan itu tidak pernah terlambat atau terlalu cepat, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya," (Pengkotbah 3:11). Selalu ada maksud dan tujuan Tuhan di balik penundaan-Nya: Ia ingin menguji kesabaran kita, menguji ketekunan kita dan mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya. Yang pasti janji Tuhan adalah ya dan amin!
"Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan..." Yeremia 33:14