Senin, 31 Oktober 2022

RENUNGAN ALKITAB - Janganlah Mudah Menyerah!


Bacaan: Mazmur 130:7

Ketika menghadapi masalah yang berat, respon masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang tetap semangat dan terus berusaha, tapi tidak sedikit orang yang mudah sekali menyerah pada keadaan karena merasa sudah tidak kuat lagi menanggung beban yang ada.

Sesungguhnya jika kita mau berusaha dan meminta pertolongan kepada-Nya, sesulit apa pun keadaan dan seberat apa pun masalahnya, pasti ada jalan keluar yang terbaik.

Banyak rumah tangga menjadi hancur dan berujung pada perceraian karena masing-masing pasangan merasa tidak sanggup mengatasi konflik yang terjadi; ada lagi orang yang nekat mencari pertolongan dukun atau paranormal karena ia tidak lagi mau bersabar menantikan Tuhan bertindak; anak-anak muda menjerumuskan diri dalam pergaulan bebas dan narkoba karena alasan stres, tidak kuat menanggung beban masalah dan sebagainya.

Inti dari semua adalah karena mereka mudah menyerah pada keadaan! Sikap mudah menyerah ini tak sepatutnya dilakukan oleh orang percaya, karena kita punya Tuhan yang hebat, Dia El Shaddai.

Percayalah bahwa tidak ada perkara yang terlalu sulit untuk Tuhan selesaikan. Tangan-Nya terlalu kuat untuk menopang kita. Karena itu tetaplah menaruh pengharapan kepada Tuhan! "Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak sekali mengadakan pembebasan."Tuhan sanggup membebaskan kita dari segala belenggu permasalahan hidup ini.

Orang lain boleh saja berkata: "Masalahmu terlalu sukar untuk diselesaikan. Penyakitmu terlampau sulit untuk disembuhkan. Mana mungkin kamu akan berhasil!." Jika kita terintimidasi oleh omongan negatif manusia kita pasti akan berputus asa dan menyerah kalah.

Menyerah berarti kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan bekerja; menyerah berarti kita ini tak mengerti bahwa di balik masalah, ada maksud dan rencana Tuhan yang indah. Karena itu seberat apa pun masalah yang kita alami atau sesulit apa pun situasinya, tak perlu kita menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, apalagi marah kepada Tuhan dan bersungut-sungut kepada-Nya.

Bertekun dan sabar menanti-nantikan Tuhan adalah kunci untuk mengalami mujizat-Nya, karena Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya!

RENUNGAN ALKITAB - Segala sesuatu ada masaNya

Bacaan: Pengkotbah 3:1

Salomo sangat jelas menyatakan, "Untuk segala sesuatu ada masanya," artinya tidak ada yang abadi di dunia ini; segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa berubah. Salomo menambahkan, "Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;..." (ayat 2).

Ada berpendapat bahwa kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, tidak selamanya berada di atas, kadangkala berada di bawah. Pendapat itu ada benarnya! Ada saatnya seseorang berada di puncak karir, berhasil dan punya segalanya, tapi ada waktunya ia harus mengalami kegagalan dan harus merangkak dari bawah lagi. Ada kalanya kita bersukacita karena hal-hal yang menyenangkan, tapi suatu waktu kita juga harus menangis, bersedih dan berduka karena mengalami masalah atau kesesakan. 

Suatu kali kita bisa berbangga hati memiliki tubuh atletis, sehat dan kencang, tapi itu tak akan bertahan lama, dalam beberapa tahun kemudian tubuh kita tak seindah dulu; masa-masa itu pasti akan lewat. 

Oleh karena itu Salomo menasihati, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). 

Tidak ada alasan bagi kita memegahkan diri dan sombong sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hati. "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkotbah 9:12).

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang diijinkan terjadi dalam kehidupan kita bukan tanpa maksud, semuanya pasti mendatangkan kebaikan. 

Dia ingin membentuk dan memurnikan iman kita. Ketika masa-masa sukar dan kelam terjadi, jangan mengeluh, percayalah bahwa kita tidak sendirian, Tuhan ada bersama kita: menuntun, menyertai, bahkan akan menggendong kita (baca Yesaya 46:4).

Milikilah penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan andalkan Dia dalam segala perkara, "...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Yohanes 15:5b.

RENUNGAN ALKITAB - Pengikut Kristus : Harus Suka Berdoa

Bacaan: 1 Petrus 2:21

Secara sederhana, pengertian 'Kristen' adalah orang percaya kepada Kristus atau pengikut Kristus. Apa yang menjadi tanda atau bukti bahwa seseorang adalah Kristen atau pengikut Kristus? Bukan karena ia memiliki KTP yang bertuliskan Kristen, kemana-mana selalu memakai aksesoris rohani, atau tampak sering keluar masuk gedung gereja.

Tanda nyata yang menunjukkan bahwa seseorang adalah pengikut Kristus seharusnya tercermin dari kehidupan sehari-hari yang meneladani bagaimana Kristus telah hidup: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6).

Adalah mutlak orang Kristen atau pengikut Kristus meneladani dan mengikuti jejak Kristus. Salah satu teladan hidup yang Kristus tunjukkan adalah hal persekutuan-Nya yang karib dengan Bapa. Semasa pelayanan-Nya di bumi Kristus tak pernah melewatkan hari-hari-Nya tanpa berdoa, berkomunikasi dengan Bapa di sorga.

Salah satu ayat menyatakan:"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35). Kristus rela keluar dari zona nyaman, menyalibkan kedagingan-Nya untuk berdoa di kala banyak orang sedang tidur mendengkur.

Hal ini menunjukkan bahwa Kristus mengutamakan hubungan dengan Bapa; Kristus melibatkan Bapa di setiap tindakan-Nya. Bagaimana dengan Saudara?

Tuhan memberikan 'berkat' waktu yang sama untuk semua orang yaitu 24 jam sehari. Berapa waktu yang biasa Saudara pergunakan untuk berdoa? Tuhan bertanya, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" (Matius 26:40b). 

Doa seharusnya menjadi nafas hidup orang percaya! Doa adalah wujud ketergantungan kita kepada Tuhan, bukan sekedar aktivitas rohani atau pengisi waktu senggang. Ingatlah selalu bahwa kita bisa bernafas dengan tubuh yang sehat dan dapat menjalani hari-hari adalah karena Tuhan; di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Jika Kristus saja mendisiplinkan diri untuk berdoa, siapakah kita ini sehingga meremehkan jam-jam doa?

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Yesaya 55:6

RENUNGAN ALKITAB - Saat Kemuliaan Tuhan diNyatakan

"Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;" Yesaya 35:1

Tak bisa dipungkiri bahwa kehidupan orang percaya tidak terlepas dari pergumulan hidup. Acapkali hari-hari yang kita jalani berjalan tidak seperti yang kita harapkan: krisis keuangan, usaha atau bisnis seret, anggota keluarga sakit, dan masih banyak lagi. 

Seberat apa pun itu, kita diajarkan untuk tetap kuat dan selalu berpegang teguh pada janji firman Tuhan. "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20). Selalu ada pertolongan di dalam Tuhan!

Kalau pun kita harus melewati padang gurun, padang kering, padang belantara (gambaran masalah, penderitaan, kesesakan atau situasi sulit), biarlah mata kita tetap tertuju kepada Tuhan. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia! 

Pada saatnya Tuhan akan menyatakan kebesaran kuasa dan kemuliaan-Nya! "Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita." (Yesaya 35:2b). 

Kata kemuliaan (bahasa Ibrani Kabod) memiliki arti mulia, makmur, berlimpah; (bahasa Yunani doxa) berarti semarak, kecemerlangan, kemashyuran, terkenal. Kalau Tuhan datang melawat kita sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, kehidupan kita akan dipulihkan dan diubahkan. Tertulis: "...mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka...orang lumpuh akan melompat seperti rusa...mulut orang bisu akan bersorak-sorai; ...mata air memancar di padang gurun,...tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan." (Yesaya 35:5-7). Luar biasa!

Pergumulan berat apa yang sedang Saudara alami saat ini? Berhentilah untuk mengeluh dan bersungut-sungut. Jangan pula menjadi tawar hati, "Kuatkanlah hati, janganlah takut!" (Yesaya 35:4). Jangan berhenti berharap kepada Tuhan: "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!" (Mazmur 27:14).

"Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan." Mazmur 73:24

RENUNGAN ALKITAB - Berdoa dengan Iman dan Pengharapan

Bacaan: Roma 15:13

Tuhan Yesus berkata, "...apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). 

Doa yang disertai dengan iman yang hidup membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami mujizat dan pertolongan dari Tuhan. Ditegaskan pula, "Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." (Markus 11:23b). Jadi kuncinya adalah iman atau percaya!

Selain iman, unsur lain yang tak kalah penting dalam doa adalah pengharapan. Ini berbicara tentang ketekunan dan kesabaran kita dalam menantikan jawaban dari Tuhan, "dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan." (Roma 5:4). 

Iman dan pengharapan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Iman berarti percaya kepada Tuhan dan firmanNya, sedangkan pengharapan berarti menantikan jawaban dan pertolongan dari Tuhan dengan tekun dan sabar. Pengharpan inilah yang mendorong kita untuk terus-menerus berdoa siang dan malam sampai doa kita beroleh jawaban dari Tuhan.

Banyak dari kita yang doanya tidak beroleh jawaban dari Tuhan karena kita tidak lagi bertekun saat berdoa; kita mudah kecewa, putus asa, lalu marah kepada Tuhan. Pemazmur menegaskan, "...semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;" (Mazmur 25:3a). 

Tuhan adalah Pribadi yang tidak pernah mengecewakan umatNya. Lain halnya jika kita menaruh pengharapan kepada manusia yang seringkali berujung pada kekecewaan. Karena itu berdoalah dengan iman dan tetaplah berharap kepada Tuhan. 

Nantikanlah Tuhan sampai Ia bertindak, pertolonganNya tidak pernah terlambat karena "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,..." (Pengkotbah 3:11). Kita bisa belajar dari seorang janda yang terus-menerus dan tak mengenal lelah datang kepada hakim yang lalim sampai ia beroleh jawaban (baca Lukas 18:1-8).

"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." Ibrani 10:36

RENUNGAN ALKITAB - Jangan banyak bicara : Banyaklah Mendengar

Bacaan: Mazmur 34:14

Salah satu permasalahan yang sedang terjadi di dunia akhir-akhir ini adalah banyak orang cenderung lebih suka berbicara daripada mendengar: sedikit-sedikit melakukan protes, sedikit-sedikit berkomentar, sedikit-sedikit berdebat, sedikit-sedikit mengkritik, sedikit-sedikit mencela, memaki atau berkata kasar tanpa memperdulikan perasaan orang lain. 

Intinya, orang lebih senang berbicara tanpa mau belajar untuk mendengar orang lain. Ada tertulis: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). 

0Berhati-hatilah! Lidah menentukan banyak dalam hidup manusia, dan sebagian besar persoalan dalam kehidupan rumah tangga/keluarga, masyarakat, gereja dan bahkan suatu bangsa seringkali dimulai dari lidah.

Dari awal Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara, bukan sebaliknya. Maka penting sekali menjaga lidah atau perkataan kita. 

Orang yang takut akan Tuhan bukan hanya akan mampu menjaga hati dan pikiran, tetapi juga lidahnya. Kalau berbicara, perkataannya pasti mendatangkan berkat, damai sejahtera, menguatkan, memberi semangat dan memberkati orang yang mendengarnya. 

Sebaliknya orang yang tidak bisa menjaga lidahnya dan suka menggemakannya, di mana pun pasti tidak disukai orang dan memiliki banyak musuh, karena lidahnya "...seperti pisau cukur yang diasah," (Mazmur 52:4), sehingga banyak orang terluka karenanya, bahkan bisa menjadi senjata makan tuan.

Tuhan menghendaki kita untuk banyak mendengar! "Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan." (Amsal 5:1-2). 

Dengan mengarahkan telinga kepada nasihat, ajaran, saran atau hal-hal positif dan terutama sekali mendengar firman Tuhan, maka bukan hanya pengetahuan, kebijaksanaan dan kepandaian yang semakin ditambahkan, tapi juga berkat-berkat Tuhan semakin dinyatakan dalam hidup kita.

Mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik? Jagalah lidahmu! (baca 1 Petrus 3:10-11).

RENUNGAN ALKITAB - Yesus adalah Sahabat Sejati

Bacaan: Yohanes 15:13

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini tak mungkin kita sendirian, siapa pun kita pasti memerlukan orang lain sebagai teman atau sahabat. Namun tidaklah mudah menemukan teman yang baik, apalagi teman yang setia di segala keadaan.

Teman datang dan pergi hal yang biasa.Teman dalam suka banyak, tapi bagaimana dengan teman dalam duka atau ketika sedang susah? Terkadang pula "Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara."(Amsal 18:24)

Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan sendirilah yang memilih kita menjadi sahabatNya.

Tuhan Yesus berkata, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu."(Yohanes 15:15-16a)

Tidak hanya itu, Ia pun rela mengorbankan nyawaNya bagi kita. Kalau Tuhan rela mengorbankan nyawaNya, masakan Dia akan tinggal diam ketika kita sedang dalam permasalahan yang berat?

Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita. Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari.

Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Dan janji Tuhan itu ya dan amin! Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita.

Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan, kita akan sanggup berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13)

Mari kita jalani hidup ini dengan penuh iman karena kita memiliki Sahabat Sejati yang senantiasa menopang!

RENUNGAN ALKITAB - Tuhan kita Besar

Bacaan: Mazmur 126:3

Tak bisa dipungkiri bahwa di hari-hari ini kita semakin diperhadapkan dengan tantangan yang tidak semakin mudah, juga beban hidup yang semakin hari terasa semakin berat. Itulah sebabnya banyak orang sambat (bahasa Jawa: mengeluh) dan menjadi pesimis dalam menatap masa depan hidupnya. 

Pesimis adalah sebuah sikap atau pandangan seseorang terhadap suatu hal yang digambarkan dengan ciri-ciri tidak yakin, murung, sedih, rasa putus asa, tidak ada harapan seperti berada dalam situasi yang sangat buruk.

Sesulit apa pun keadaannya dan seberat apa pun beban hidup yang ada, kita harus tetap optimis dan jangan pesimis, apalagi menyerah kalah pada keadaan. Hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7).

Mengapa kita harus tetap optimis dalam menjalani hidup? Karena kita punya Tuhan yang tak perlu diragukan kekuatan dan kuasa-Nya. Karena itu kita tak perlu takut menghadapi apa pun. Jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31b). 

Jika Tuhan bekerja tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya. Sekalipun berada di tengah-tengah penderitaan, kalau kita senantiasa berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia, maka kita akan melihat pemulihan dinyatakan atas hidup kita. "Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi." (Mazmur 126:1).

Tuhan melakukan perkara-perkara yang besar bukan bermaksud untuk unjuk kebolehan tentang ke Ilahian-Nya, tetapi Dia memang adalah Tuhan yang Mahabesar dan ajaib segala perbuatan-Nya.

Bersemangatlah dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang menjamin masa depan kita secara pasti. "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18). Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada dunia ini, itu sia-sia belaka.

Berharaplah hanya kepada Tuhan dan tetap nantikanlah Dia, sebab orang yang berharap kepada-Nya takkan mendapat malu. Jangan pernah takut dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah gagal segala rencana-Nya (Ayub 42:2).

Di dalam Tuhan kita memiliki jaminan hidup yang berkemenangan, karena Dia adalah Tuhan yang besar yang mengasihi kita.

Jumat, 21 Oktober 2022

RENUNGAN ALKITAB - Menjadi Garam sekaligus Terang

Matius 5:13-16
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Mat 5:13-14)

Bagi orang Kristen, hal menjadi garam dan terang itu bukan sesuatu yang baru. Pasti kita pernah membaca ayat ini. Saya pun sudah mendengar dan membaca perikop ini dari sejak saya masih kecil. Bahkan saya pernah membawakan sebuah renungan di kampus tentang hal ini. Tetapi ketika saya membaca kembali ayat-ayat ini beberapa hari yang lalu, saya seperti diingatkan Tuhan tentang sesuatu yang akan saya tulis hari ini.

Garam dan terang. Mengapa sih Tuhan menggunakan istilah garam dan terang? Banyak orang menyangka bahwa fungsi garam dan terang itu sama. Ya memang ada kesamaannya. Tetapi garam, memiliki fungsi yang cukup unik. Garam bisa memberi rasa asin tanpa terlihat. Lihat saja air laut dan air tawar (air biasa). Jika sama-sama dimasukkan ke dalam wadah seperti gelas, nyaris tidak akan ada bedanya. Garam hanya bisa terdeteksi jika dirasakan.

Seperti itulah gambaran anak Tuhan yang Tuhan inginkan. Menjadi anak Tuhan seperti garam, yang mengasinkan dengan larut di dalamnya. Garam tidak berfungsi maksimal ketika berkumpul dengan garam lainnya. Garam akan berfungsi maksimal ketika ia dilarutkan ke dalam benda lain. 
Garam akan berfungsi ketika dibubuhkan pada sayur yang hambar, sehingga rasanya menjadi lebih enak. Anak Tuhan pun demikian, ada kalanya kita harus menjadi seperti garam, yang tanpa banyak terlihat oleh tetapi kehadirannya dirasakan membawa berkat dimanapun kita berada. Gereja mungkin tidak harus terlihat megah, tetapi bermanfaat bagi orang lain. Ada hadirat dan atmosfer surgawi di sekeliling kita, yang membuat orang lain bisa merasakan kehadiran Tuhan.

Di sisi lain, Tuhan juga memerintahkan kita untuk menjadi terang (ay. 14). Fungsi terang berbeda dengan garam. Jika garam tidak terlihat ketika larut dalam air, terang justru harus terlihat oleh orang lain. Lalu bagaimana kita bisa menjadi garam dunia dan sekaligus terang dunia?

Jika kita melihat ayat 14 sampai 16, kita akan mengerti bahwa hidup kita sebagai terang berarti kita harus siap dilihat orang banyak. Kehadiran kita harus dapat mengusir kegelapan. Ketika ada terang, maka kegelapan pun akan lenyap. Itulah mengapa kita pun harus mampu melakukan fungsi kita sebagai terang, yaitu membawa penerangan bagi lingkungan sekitar kita. Terang pun jauh lebih berguna di tempat yang gelap. Oleh karena itu jangan kita protes ketika Tuhan menempatkan kita di lingkungan yang penuh dengan orang-orang yang jahat atau orang berdosa. Justru di situlah kita harus bisa memberi dampak dan membagikan terang Kristus kepada mereka.

Tanggung jawab kita berat. Sebagai garam, kita tidak boleh menjadi tawar (ay. 13) karena jika demikian, maka kita akan larut tanpa bisa mengasinkan. Jika demikian, apa bedanya ada kita atau tidak ada kita? Sebagai terang, kita memiliki konsekuensi untuk selalu dilihat orang lain (ay. 14). Itu terkait dengan tugas kita untuk menerangi lingkungan sekitar kita, bahkan yang paling gelap sekalipun (ay. 15). Memang sulit, tetapi bukan mustahil. Saya percaya Tuhan tidak akan mungkin memberikan perintah yang mustahil bagi manusia untuk mereka lakukan. Satu hal yang harus kita ingat, kita menjadi garam dan terang itu bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk memuliakan nama Tuhan (ay. 16). Ketika kita memiliki motivasi yang benar, saya yakin Tuhan pasti akan memampukan kita, tidak hanya menjadi garam dunia saja, tidak hanya menjadi terang dunia saja, tetapi menjadi garam dunia dan sekaligus terang dunia.


RENUNGAN ALKITAB - Di tolak tapi tidak tertolak

1 Tawarikh 17:4 (TB) "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah bagi-Ku untuk didiami. 

Saudara, ini kisah tentang raja Daud, hari itu berinisiatif membangun bait Allah rumah Tuhan. Tapi hari itu nabi Natan datang dan berkata, bukan engkau Daud yang membangun. Padahal Daud hari itu mempunyai inisiatif, sikap hati yang baik, punya keinginan yang baik membangun rumah Tuhan.

Tapi respon Tuhan sebaliknya, enggak gak usah bukan kamu yang bangun.
Saudara, ini perasaan yang gak enak sebenarnya karena ada orang yang mau berbuat baik sementara orang yang ingin dia perlakukan dengan baik menolak.
Penolakan selalu menyakitkan siapapun juga itu saudara. Orang yang ditolak cintanya, orang yang ditolak di pekerjaan, orang yang ditolak masuk sekolah tertentu, akan sakit.

Begitu juga dengan Daud. Tapi yang hebat adalah waktu orang ditolak oleh Tuhan, enggak enggak bukan kamu yang membangun. Daud tidak kepahitan, tidak marah, gak kecewa, justru apa yang dia kerjakan diluar pemikiran kita.

Hari itu Daud menyiapkan semua keperluan untuk pembangunan bait Allah. Dia menyiapkan emas, perak, kain-kain yang bagus, tenda-tenda semua yang diperlukan untuk membangun bait Allah! Batu-batunya, dia menyiapkan semuanya.
Bahkan dia mungkin menyisihkan uang yang cukup besar untuk pembangunan bait Allah. Dia enggak boleh, tapi dia cari celah bagaimana aku bisa tetap ambil bagian dalam pembangunan.

Saudara, ini yang mulia hati yang sangat luar biasa yang Daud miliki! Ditolak, tapi dia tidak tertolak. Ditolak tapi tidak tertolak. 

Hari ini tidak ada satupun penolakan yang membuat engkau putus asa dan menyerah, jadikan sebuah batu loncatan penolakan itu dan kau akan menjadi orang yang luar biasa.

RENUNGAN ALKITAB - Hidup dalam didikan Tuhan

Amsal 3:11-26

Semua orang tua tentu menginginkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik.
Orang tua mau anaknya mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi yang terbaik, dididik oleh guru atau dosen yang terbaik sehingga anaknya memperoleh kualitas pendidikan yang terbaik.
Seorang pendidik yang baik tentu diyakini memiliki ilmu yang diperoleh dari sumber yang baik dan mampu menerapkan metode pembelajaran yang tepat sehingga anak didik akan terdidik secara lebih baik.

Salomo, penulis amsal, berharap agar anaknya mau dididik oleh Tuhan. Ia yakin, Tuhan selalu menginginkan yang terbaik untuk umat-Nya. Terkadang, Tuhan mengizinkan kita mengalami pencobaan dan kesulitan supaya kita hidup sesuai dengan kekudusan dan kehendak-Nya.

Bila kita lalai melakukan sesuatu dan menyimpang dari jalan Tuhan, kita akan mengalami sesuatu yang mungkin merupakan peringatan dari Tuhan; kita disadarkan untuk kembali ke jalan Tuhan. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan begitu mengasihi dan memerhatikan kita (11-12).

Masalah atau beban hidup menjadi semacam ujian dalam proses belajar.
Maka, penyerahan diri terhadap penyertaan dan perlindungan Tuhan menjadi dasar bagi kita untuk tetap berjalan di jalan Tuhan. Sebab, Tuhan sumber kebijaksanaan, pengertian, dan pengetahuan memampukan kita bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, agar sesuai dengan maksud serta kehendak-Nya untuk mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (13-17).
Ia menjaga kita tetap berjalan dalam kehendak-Nya dan mendatangkan damai sejahtera.
Tuhan tidak akan membiarkan orang yang mengandalkan Dia terjebak dalam jebakan-jebakan yang dipasang musuh (23-26).

Bersyukurlah bila Tuhan berkenan mendidik kita. Hal itu menjadi bukti bahwa Ia sangat mengasihi dan memerhatikan kita. Dia akan memampukan kita dalam mengambil keputusan dan menuntun kita agar tetap berjalan dalam kehendak-Nya. Andalkanlah Tuhan sepanjang hidup kita. Dia akan memberikan keamanan dan senantiasa menjaga kita.

RENUNGAN ALKITAB - Berkat dalam perintah yang aneh

Lukas 5 : 5
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

Kita liat Yang natural dari bacaan ini sesuai dengan cerita simon (nangkap ikan malam hari) tidak ada hasilnya, lha trus ini pagi hari menjelang siang di suruh nebar jala lagi?? 
Aneh gak.. 

Hal yang mustahil dan mustahil untuk murid2nya bahwa mereka akan dapat ikan,
tapi tahu bahwa bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil.

 ...ini satu perintah yang aneh dan gak masuk akal.

Tepapi apa kata simon?
Tetapi karena Engkau yang menyuruh, okelah aku kerjakan. (IMAN KEPERCAYAAN)

Dan boom....dapat ikan besar buanyak sampai 1 perahu ga bisa nampung. Butuh 1 perahu lain lagi dari temannya.

Kadang kala bahkan seringkali ada perintah aneh, ga masuk akal yang kita terima. 

Tapi Belajar menurutlah...mujizat pasti terjadi lebih dari yang kita pikirkan.

Normalnya naturalnya ..kalau uang sedikit kan untuk kebutuhan pribadi, Iha ini kok disuruh membagi...

Normalnya, kalau aku yang disakiti ya dia yang minta maaf lha kok aku yang disuruh minta maaf.

Normalnya kalau aku sakit aku yang dihibur dikuatkan Iha kok ini aku disuruh telpun teman yang sakit dan mendoakannya.

Pasti dalam hati kita Tuhan ga bisa Tuhan, ga mungkin Tuhan.Tapi karena Engkau yang suruh aku mau melakukannya.

Apakah kita mau memiliki hati yang seperti itu? Pola pikir seperti itu

Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang taat melakukan kehendak-Nya!
Karena Dalam Dia ada hidup dan hidup dalam segala kelimpahannya.


RENUNGAN ALKITAB - Jatuh dan Bangkit Lagi

Kejadian 39 

Semua orang pernah jatuh bangun dalam hidupnya. Itu wajar. Persoalannya adalah bagaimana kita merespons semua itu?

Ketika masih di rumah ayahnya, Yusuf merupakan anak kesayangan (Kej 37). Setelah dijual saudara-saudaranya, dia harus menjadi budak di rumah Potifar. Dia yang tadinya anak emas, kini harus rela jadi budak belian. Tentu ini merupakan cobaan yang berat bagi dia.

Meskipun demikian, Allah setia menemani Yusuf. Di rumah Potifar Allah membuat berhasil semua yang dikerjakannya. Bahkan, rumah Potifar diberkati-Nya karena Yusuf. Jadi, tidak mengherankan kalau Potifar percaya penuh pada Yusuf sampai rumah dan segala miliknya dipercayakan kepada Yusuf (2-6).

Tetapi, semuanya tidak berjalan mulus. Istri Potifar genit, dirayunya Yusuf agar mau tidur dengannya. Namun, Yusuf seorang yang setia. Dengan santun, ia selalu berusaha menolak segala bujuk rayu itu.

Istri Potifar selalu gagal menjinakkan hati Yusuf. Hingga suatu saat, ia marah dan memfitnah bahwa Yusuf sedang berusaha "mempermainkannya" (14-15). Atas tuduhan itulah, Yusuf dijebloskan ke dalam penjara.

Walau demikian, Tuhan tetap menyertai Yusuf. Di sana, ia pun menjadi orang kesayangan sekaligus kepercayaan kepala penjara. Pasalnya, Tuhan selalu membuat berhasil apa pun yang dikerjakannya.

Kita mungkin mengira Yusuf adalah orang yang bernasib mujur. Sebenarnya, ini semua merupakan buah ketaatan dan kedekatan Yusuf dengan Tuhan. Memang, Tuhan tidak menjamin bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi, Ia berjanji bahwa penyertaan-Nya akan selalu ada bagi kita, bukan?

Karena itu, bersyukurlah karena Tuhan selalu menyertai kita. Ia selalu ada bagi tiap orang yang bersandar kepada-Nya. Kita tidak perlu terlarut dalam frustasi ketika jatuh dalam lembah kegagalan. Jangan menyerah karena tangan Allah, yang tidak terlihat, akan selalu menopang.

Ingat Tuhan selalu punya cara memampukan kita untuk bangkit setiap kali jatuh dalam pergumulan hidup.

Baca Alkitab 2

Kejadian 37:1-11

Perpecahan dalam keluarga sering kali timbul karena adanya pilih kasih orangtua terhadap anak-anaknya. Peristiwa Yusuf dengan saudara-saudaranya pada perikop ini memperlihatkan bagaimana kebencian dan iri hati di antara anak-anak merupakan akibat dari tindakan pilih kasih orangtua tersebut.

Apa saja yang Anda baca?
1. Siapakah Yusuf? Mengapa ia menjadi anak kesayangan Yakub (3)?
2. Kegiatan apa yang dikerjakan Yusuf bersama saudara-saudaranya? Lalu apa yang dilakukan saudara-saudaranya terhadap Yusuf (2)?
3. Apa isi mimpi Yusuf (7, 10)? Mengapa saudara-saudaranya makin membencinya setelah mendengar cerita tentang mimpinya (5, 8, 11)?
4. Apakah yang dilakukan Yakub terhadap Yusuf (11)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa yang menyebabkan Yakub pilih kasih terhadap anak-anaknya (3)?
2. Apa yang dialami anak-anak Yakub akibat pilih kasih ayah mereka itu (4)?
3. Sikap apa yang berkembang dalam diri anak-anak Yakub terhadap Yusuf saudaranya itu? Situasi apa yang terjadi pada diri anak-anak Yakub setelah peristiwa mimpi Yakub itu?

Apa respons Anda?
1. Bila Anda adalah orangtua, apakah kasih Anda kepada anak-anak Anda adalah kasih yang memilah-milah?
2. Dapatkah Anda tetap mengasihi sesama sebagaimana Allah telah begitu mengasihi Anda dengan tulus dan tanpa melihat atribut yang menempel pada orang yang Anda kasihi tersebut?

Belajarlah untuk mengasihi dengan tulus tanpa melihat penampilan atau hal-hal lahiriah pada diri orang ya.

Kamis, 13 Oktober 2022

RENUNGAN ALKITAB - Petunjuk Perjalanan

Mazmur 25:4 (TB) Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadak

Kehidupan anak Tuhan bagai sebuah perjalanan. Sebelum melakukan perjalanan, perlu dipersiapkan hal-hal yang diperlukan agar perjalanan berlangsung dengan baik.

Hal pertama adalah persiapan hati dan perlengkapan perjalanan. Dalam mempersiapkan hati, pemazmur meminta kepada Tuhan agar ia disertai kasih karunia Tuhan (1-2, 6-7). Dengan demikian perjalanannya tidak digugat para musuh sebagai tindakan pribadi yang tidak direstui Tuhan. Dalam mempersiapkan perlengkapan, pemazmur meminta petunjuk Tuhan mengenai jalan-jalan yang harus ia tempuh (4-5). Dan peta perjalanan terbaik, terlengkap, dan yang tidak mungkin menyesatkan adalah firman Tuhan sendiri.

Pemazmur melanjutkan persiapan perjalanannya dengan merenungkan kembali kebaikan Tuhan yang telah ia alami pada masa lampau (8-10). Maka ia pun meyakini bahwa Tuhan akan terus menyertai dia sepanjang perjalanan yang akan ia tempuh. Bagi pemazmur, perjalanannya adalah perjalanan bersama seorang sahabat (14). Dan Sahabat terbaik kita adalah Kristus sendiri. Dia sudah pernah menempuh perjalanan sebagai manusia dan menyelesaikannya dengan sempurna. Dia tahu semua masalah yang akan dihadapi manusia, maka Dia akan menyertai kita dalam perjalanan kita dan memberikan kekuatan pada saat yang tepat.

Hal kedua yang harus dilakukan sebelum perjalanan adalah mengantisipasi apa yang akan terjadi dengan kaca mata iman. Seruan pemazmur agar Tuhan berpaling kepadanya dan mengasihani dia adalah sikap yang tepat. Pemazmur sadar bahwa ia rentan serta berpotensi untuk melakukan kesalahan dan dosa (18), maka rentan juga untuk dimanipulasi musuh (19). Hanya dengan keyakinan bahwa Tuhan akan melindungi dia, terletak kekuatan pemazmur. Mintalah pertolongan Tuhan pada waktunya, maka kita tak akan menjadi lemah dalam perjalanan iman kita!

RENUNGAN ALKITAB - Hidup yang Berintegritas

Mazmur 26:2 (TB) Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.

Seorang teolog bernama C.S. Lewis pernah berkata, "Integritas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang mengawasi." Terkait dengan integritas, pada Mazmur 26 ini Daud menilai dirinya telah hidup dalam integritas. Hal ini dapat kita pahami dari frase "aku telah hidup dalam ketulusan" di ayat 1 (I have walked in my integrity).

Pernyataan Daud bukan untuk memperlihatkan dirinya sombong melainkan didasarkan pada fakta bahwa ia telah menjalani hidup bermoral (4-5) dan berkomitmen dalam beribadah (6-8). Daud berkomitmen, apapun yang terjadi dalam hidupnya, ia akan tetap menjaga hidup yang berintegritas. Hal ini terlihat pada ayat 1 Daud berkata, "?aku telah hidup dalam ketulusan?" dan pada ayat 11, "?aku (akan; will) hidup dalam ketulusan?".

Meski demikian, Daud menyadari bahwa integritasnya tidak sempurna, walau ia rindu untuk menjalani hidup benar di hadapan Tuhan. Daud sadar bahwa ia masih mungkin untuk jatuh ke dalam dosa. Karena itu, ia meminta Allah untuk menilainya (1). Karena Allah adalah Hakim yang adil, Allah pasti mampu menilai integritasnya dengan tepat dan benar. Daud juga memohon belas kasihan Tuhan untuk menyelamatkannya (11b) karena ia menyadari betapa rentan hidupnya, meski ia berusaha hidup berintegritas.

Bagaimanakah Daud membangun integritasnya? Integritas Daud dibangun bukan dari kemampuan kepemimpinan, prestasi, atau karakternya. Ia membangunnya di dalam Tuhan (1), di dalam kasih setia dan kebenaran Tuhan (3). Ini artinya, integritas Daud bukan didasarkan pada kemampuan dirinya, melainkan pada kasih dan kebenaran Tuhan. Hal ini menjadi penghiburan sekaligus dorongan bagi kita. Dalam kondisi bangsa yang terpuruk seperti sekarang ini, anak-anak Tuhan terpanggil untuk menjadi teladan dalam integritas hidup, yang berdasarkan kasih dan kebenaran Tuhan.

Senin, 10 Oktober 2022

RENUNGAN ALKITAB - Melihat Masalah dan Tantangan dengan Cara Berbeda

"Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan daripada Allah yang hidup?" (1 Samuel 17:26b)

Orang Israel lari berhamburan karena ketakutan ketika Goliat tampil ke depan dan Goliat setiap hari menantang agar salah satu prajurit Israel menghadapinya untuk menentukan pemenang perang. Sebaliknya Daud bukan takut, malah geram dengan cemoohan Goliat tersebut. la merendahkan Goliat sebagai "orang Filistin yang tak bersunat ".

Mengapa Daud bisa melihatnya dengan cara berbeda dan tidak ikut larut dalam ketakutan Israel?

Jawabannya, karena Daud melihat kebesaran Allah yang ia sembah secara luar biasa, sehingga semua hal lain menjadi teramat kecil di hadapan Allah. Demikian pula halnya dengan kehidupan ini. Jika kita melihat TUHAN itu hanya sesuatu yang kecil, maka semua masalah dan tantangan akan menjadi raksasa yang seram. Tetapi bila kita melihat TUHAN begitu besar, maka semua yang lain akan berubah menjadi kecil.

Bagaimana caranya agar kita bisa demikian?

Pertama, berfokuslah pada TUHAN bukan pada tantangan. Tantangan sekecil apapun akan menjadi raksasa yang mengerikan bila kita perbesar. Fokuslah pada TUHAN agar kita semakin merasakan kebesaran-Nya! 

Kedua, menamai masalah dengan pandangan berbeda. Orang lain melihat Goliat sebagai pendekar raksasa yang hebat, Daud menamainya:"Orang Filistin yang tak bersunat. " Sesungguhnya adanya masalah merupakan peluang untuk meraih kemenangan.

 Ketiga, melihat diri kita dengan cara yang berbeda. Daud menyebut Israel yang ketakutan itu sebagai "Barisan daripada Allah yang hidup." Bagaimana kita menamai diri sendiri?

 Orang beriman berani bertindak dan tampil beda, itu karena kita melihat masalah dan tantangan dengan cara berbeda.

( Baca: Keluaran 14:14; Yesaya 41:10; Roma 8:37&1 Korintus 15:57 )

RENUNGAN ALKITAB - Tak Ada Hidup Tanpa Masalah

Mazmur 90:1-17

"Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." Mazmur 90:10

🤷‍♂️ Hidup tanpa masalah itu tidak ada!  

Musa pun mengakui bahwa kebanggaan hidup manusia adalah kesukaran dan penderitaan (ayat nas).  

Selama kita hidup kita takkan bisa menghindarkan diri atau lari dari masalah, yang ada ialah bagaimana kita menemukan jalan keluar dari setiap masalah.

Jadi, kita tak perlu mengasihani diri sedemikian rupa saat dalam masalah, sebab bukan kita saja yang mengalaminya, tetapi semua orang tanpa terkecuali
🤔 Mungkin timbul pertanyaan di dalam hati kita: "Mengapa masalah, penderitaan atau tekanan seringkali menimpa hidup orang percaya?"

Tapi tidak perlu terkejut lagi, sebab Kristus sudah menyampaikan hal ini dari sebelumnya: "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yohanes 16:33b).  

Masalah selalu ada karena kita hidup di tengah-tengah dunia, di mana orang-orang memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, jahat.

Itulah sebabnya keberadaan orang percaya di dunia ini "Seperti domba di tengah serigala" (Matius 10:16).  

Meski demikian kita tak perlu takut karena "Roh Kudus yang ada di dalam kita itu lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia"  (1 Yohanes 4:4), dan "Kristus telah mengalahkan dunia!"

Masalah dan penderitaan selalu ada karena "Iblis tidak suka melihat orang percaya hidup dalam kebahagiaan" , karena itu segala cara dilakukannya untuk "mengintimidasi, mencuri, melemahkan dan menghancurkan hidup kita" (Yohanes 10:10a).

Namun kita juga harus ingat bahwa "ada pula masalah yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri". (1 Petrus 2:20).  

Kita harus menyadari bahwa masalah dialami oleh semua orang maka kita harus lebih kuat dan tabah menghadapinya, sebab ada Tuhan di pihak kita, "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya".(Mazmur 37:24).  

Ingat teman² Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup ini tanpa masalah, tetapi "yang Ia janjikan adalah kekuatan, penyertaan, perlindungan, pemeliharaan dan jalan keluar dari masalah yang kita alami".

"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" 
📖Mazmur 34:20

RENUNGAN ALKIAB - Tuhan Memegang Hari Esok Kita

Baca : Markus 16:1-8

"Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."  Markus 16:7

Berbicara tentang hari esok, tak seorang pun yang tahu.  Itulah sebabnya kita semua tanpa terkecuali terkadang merasa was-was, takut dan kuatir karena memang hari esok itu berada di luar jangkauan kita.  Karena itu Salomo menasihati,  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).  Namun, sebagai anak-anak Tuhan tidak seharusnya itu terjadi jika kita percaya bahwa Tuhan telah berada di sana (di sorga).  Ia telah mendahului kita dalam perjalanan kehidupan yang akan kita lalui.

     Dari pembacaan firman Tuhan hari ini, dalam kisah kebangkitan Tuhan Yesus malaikat menyampaikan pesan kepada para wanita yang membawa rempah-rempah ke kubur supaya memberitahukan kepada murid-muridNya bahwa Yesus telah bangkit dan telah mendahului mereka ke Galilea.  Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah mendahului kita di depan, hari esok ada di genggaman tanganNya.  Dalam Wahyu 1:8 dikatakan:  "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." Karena Tuhan telah mendahului kita, maka Ia tahu jalan mana yang patut kita tempuh.  Dia akan menuntun hidup kita kepada rencanaNya dan semuanya itu tidak akan mendatangkan bahaya bagi kita.  Tuhan tidak saja telah mendahului kita tetapi Ia juga yang akan menyertai kita seperti dikatakanNya, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).  Jadi tidak ada alasan untuk kita menjadi kuatir, takut, putus asa, hilang pengharapan dan kecewa jika kita yakin bahwa Tuhan telah mendahului kita, menyertai kita dan berada di antara kita.

     Oleh karena itu andalkan Tuhan dalam segala hal karena Dia adalah pemegang kendali hidup kita.  Semua ini harus memacu kita untuk lebih setia dan lebih beriman lagi kepadaNya.  Dalam segala hal andalkan Tuhan karena Dia adalah pemegang kendali hidup kita.

Dunia boleh bergoncang dan orang dunia boleh berkata bahwa esok tidak ada harapan, tapi bagi anak-anak Tuhan masa depan itu ada dan pengharapan kita tidak akan pernah hilang karena Dia memegang hari esok kita!


RENUNGAN ALKITAB - Air Hidup Yang Memancar

Yohanes 4:1-15

"...barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.  Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  Yohanes 4:14

Ilmuwan menyatakan bahwa unsur terbesar di dalam tubuh manusia adalah air.  Begitu pula dengan alam semesta ini, air menjadi bagian terbesar.  Tanpa air semuanya akan mati!  Air mampu menghilangkan rasa dahaga.  Dengan air rasa haus akan hilang dan kita pun mengalami kelegaan.  Sebaliknya, jika kita kekurangan air maka tubuh kita akan mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan yang mengakibatkan seseorang menjadi lemas, mudah terserang penyakit, bahkan bisa kehilangan nyawanya.

     Suatu ketika saat melintasi daerah Samaria, letihlah Yesus, lalu Ia duduk di pinggir sebuah sumur dan bertemulah dengan seorang perempuan Samaria.  Kemudian berkatalah Yesus kepadanya, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:  Berilah Aku minum! niscanya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."  (ayat 10).  Air hidup adalah gambaran Roh Kudus yang Tuhan janjikan pada kita.  Kalau tubuh jasmani kita saja bisa lemas jikalau kekurangan air, maka roh yang ada di dalam diri ini pun bisa layu dan mati (secara rohani) apabila tidak disiram dengan 'air hidup'.  Ibarat tanaman yang tidak mendapat siraman air, tanaman itu lambat laun akan mati.  Roh Kudus sangat berperan aktif dalam seluruh aspek kehidupan rohani kita, karena Roh Kudus adalah Penolong dan Penghibur bagi kita (baca Yohanes 14:15-31).  Bersama Roh Kudus iman kita akan kuat meski harus mengalami berbagai macam pencobaan dalam hidup.  Roh Kudus juga yang memberikan damai di hati kala kita dalam kesesakan.  Dikatakan, "Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  (Yohanes 4:14b).

     Orang-orang percaya masih bisa mengucap syukur meski berada di tengah tekanan hidup yang berat.  Jawabannya adalah karena ada Roh Kudus yang tinggal di dalam mereka, bahkan bukan hanya itu, mereka pun dapat menjadi saksiNya yang hidup sehingga semua orang dapat melihat pancaran air hidup itu dalam diri mereka. Inilah rahasia kemenangan orang percaya!

RENUNGAN ALKITAB - LAHIR BARU : Hidup Sebagai Manusia Baru!

Baca:  Yohanes 3:1-13

"Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan oleh Roh, adalah roh."  Yohanes 3:6

Pada suatu malam Nikodemus datang kepada Yesus hendak menanyakan sesuatu kepadaNya.  Namun sebelum ia menyampaikan unek-uneknya Yesus sudah tahu apa yang hendak ditanyakan olehnya, yaitu perihal keselamatan.  Yesus pun berkata,  "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."  (ayat 3).  Jawaban Yesus ini membuat Nikodemus bertanya-tanya dalam hati,  "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?  Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"  (ayat 4).  Secara lahiriah adalah mustahil seseorang yang sudah dilahirkan ke dalam dunia ini dapat masuk ke dalam rahim seorang wanita untuk dilahirkan kembali.  Jangankan orang yang sudah tua, balita pun tidak dapat dilahirkan kembali.

Apa yang dimaksud dengan 'dilahirkan kembali'?  Dalam hal ini, yang dilahirkan kembali adalah 'manusia roh' kita (bukan tubuh lahiriah), supaya kita dapat melihat Kerajaan Allah.

Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah karena kasih dan anugerah Tuhan semata, bukan hasil dari perbuatan baik yang telah kita lakukan,  "...tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,"  (Titus 3:5).

Pertanyaannya sekarang:  sudahkah kita menjadi seorang Kristen yang benar-benar telah lahir baru?  Menjadi Kristen bertahun-tahun, rajin datang ke gereja setiap Minggu atau mungkin sudah terlibat pelayanan bukanlah suatu ukuran bahwa kita sudah lahir baru.

Ada pun tanda bahwa seseorang telah lahir baru adalah kehidupannya yang berubah dari hari ke sehari, memiliki karakter seperti Kristus dan ada buah-buah roh yang dihasilkan.  Lahir baru berarti hidup kita juga baru;  kehidupan lama harus benar-benar kita tinggalkan, dan kita  "...mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya."  (Efesus 4:24), sebab   "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:  yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).

Jadi, lahir baru berarti tidak lagi hidup menurut daging, tapi dipimpin oleh Roh Tuhan.

Minggu, 09 Oktober 2022

RENUNGAN ALKITAB - Anak Domba di Tengah Serigala

Matius 10:16-33

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."  Matius 10:16

Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik, itulah sebabnya Ia tidak akan membiarkan domba-domba-Nya teresat dan terhilang.
Ketika anak domba sedang berada dalam ancaman dan marabahaya gembala itulah yang akan membela, melindungi, menyelamatkan dan menggendong anak domba itu, dan kemudian membawanya ke tempat yang paling aman.
Daud memiliki pengalaman bagaimana menjadi penggembala kambing domba.  "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya.
Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya."  (1 Samuel 17:34-35).

Sebagai anak domba keberadaan kita lemah dan tak berdaya, karena itu kita tidak bisa berada jauh dari Gembala.  Jika menjauh sulit bagi kita untuk bisa bertahan di tengah situasi menghimpit.  Tinggal dekat dan bergantung penuh kepada Gembala adalah mutlak.
Karena yang mengutus kita adalah Gembala Agung yaitu Tuhan Yesus, tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan,  "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."  (Mazmur 23:4).
Di tengah dunia yang dipenuhi kejahatan Tuhan menghendaki kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.  Cerdik dan tulus adalah satu kesatuan, tidak boleh berdiri sendiri-sendiri.
Kalau kita hanya cerdik tanpa disertai ketulusan artinya kita licik dan penuh trik.
Sebaliknya kalau kita hanya tulus saja tapi tidak cerdik sangat berbahaya, akan menjadi sasaran empuk musuh, ditipu, dimanfaatkan dan menjadi korban, karena itu  "...waspadalah terhadap semua orang;"  (Matius 10:17).

Karena kita adalah seperti anak domba, maka dalam menyelesaikan segala permasalahan hidup ini kita pun harus bersikap tenang dan penuh kelembutan, bukan emosional dan penuh kemarahan, harus ada penguasaan diri.

Dekat dengan Gembala Agung adalah kunci bertahan di tengah tantangan!

"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"



RENUNGAN ALKITAB - Intropeksi diri/Evaluasi diri (1)

Lukas 6:42 
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. 

Injil hari ini Yesus mengingatkan kepada kita agar jangan menghakimi orang lain, apalagi menghakimi menurut pendapat kita belum tentu benar sebab menghakimi adalah hak Tuhan dan kita tidak boleh menghakimi orang lain. 

Yesus menjelaskan hal menghakimi dengan perumpamaan tentang seorang buta menuntun orang buta. 

Lukas 6:39 

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? 

Kita bisa saja cenderung melihat kesalahan orang tetapi tidak mengintropeksi diri kita sendiri. 

Bahkan Tuhan Yesus sendiri bilang kita Manusia itu cenderung melihat kesalahan orang lain tanpa intropeksi diri sendiri.. orang seperti orang munafik.

Orang munafik adalah orang yang pandai menyembunyikan sifatnya yang buruk atau sifat jahatnya melalui penampilan luarnya terlihat ia seorang yang baik tapi kita tidak tahu apa yang ada dalam diriNya.

Ciri-ciri orang munafik: 

1) mulutnya manis 

2) ada saja yang dibicarakannya 

3) suka memuji orang tapi tidak tulus 

4) pandai berpura-pura 

5) suka promosikan dirinya sendiri 

6) pandai mengkritik dengan halus 

Ke-6 hal ini semuanya ada pada dirinya. 

Bergaul dengannya menyenangkan tetapi  kebaikannya untuk tujuan keuntungan dan kepentingan dirinya. 

Orang munafik dimaksud Yesus dalam bacaan Injil hari ini adalah orang yang suka mengkritik dan menyalahkan orang lain menurut pendapatnya sendiri. 

Apa saja dilakukan orang lain adalah salah karena tidak sesuai dengan yang dipikirkannya atau pendapatnya. 

Itu sebabnya Yesus katakan hai orang munafik, engkau koreksi dirimu sendiri sebelum menyalahkan orang lain. 

Dari sisi bagroun atau latar belakang hidup orang munafik yang suka menyalahkan orang lain adalah orang yang mengalami luka batin dan masa lalunya kelam. 

Akibat luka di masa lalunya membuat ia membentengi dirinya dengan bersikap menyerang orang lain untuk menutupi kelemahan dirinya. 

Bila di masa lalu, hidupnya susah maka ia akan berjuang untuk berhasil sehingga berbagai cara menyerang ia lakukan terhadap orang lain. 

Salahsatunya adalah menyerang dari sisi kelemahan orang lain. 

Bila berhubungan dengan bisnis/uang maka ia menyembunyikan niat buruknya dibalik tindakannya atau perbuatannya yang ia lakukan. 

Tuhan Yesus sendiri menghendaki kita untuk intropeksi diri dengan memperbaiki diri dari segala kekurangan dan kelemahan kita. 
Jadi Seringlah kita mengevaluasi diri kita. Evaluasi diri akan membuat kita lebi waspada dalam berbagai kejatuhan , karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. 

Cara memperbaiki diri paling efektif ialah mendekatlah kepada Tuhan lewat relasi doa hening bersamaNya agar kita dapat mendengarkan SabdaNya. 

Kita perlu mentransformasi diri agar kita diubahkan dari pikiran dan konsep hidup pada hal-hal dunia kepada pikiran Kristus dan prinsip kebenaranNya.

"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"

RENUNGAN ALKITAB - Jangan Takut Kalah

Baca : Yesaya 41:10

Seringkali kita takut akan masa depan kita dan apa yang akan terjadi pada kita. Yesus juga mengingatkan kalau Allah pun memelihara burung-burung di udara, sehingga bisa kita bayangkan betapa banyak berkat yang akan Dia berikan bagi anak-anak-Nya.

(Mat. 10:31)
Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Kunci mengatasi rasa takut adalah sungguh-sungguh percaya kepada Allah.
Na Mempercayai Allah berarti menolak untuk menyerah pada rasa takut.

Alkitab menyebutkan dua tipe rasa takut.

1.rasa takut yang bermanfaat dan harus didorong.
• Jenis yang pertama adalah rasa takut akan Allah. Jenis rasa takut ini bukanlah perasaan takut atau takut akan sesuatu. Sebaliknya, ini adalah rasa takut akan Allah na ini merupakan pengakuan yang sungguh-sungguh mengenai siapa Allah sebenarnya, yang datang melalui pengetahuan tentang Dia dan sifat-sifat-Nya.

Oleh karena itu, orang-percaya dapat memahami mengapa rasa takut akan Allah harus dipupuk.

2.rasa takut yang merugikan dan harus diatasi.
tipe rasa takut kedua yang disebutkan dalam Alkitab sama sekali tidak bermanfaat. Ini adalah "roh ketakutan," yang disebutkan dalam.

2Timotius 1:7
Sebab, Allah tidak memberikan kepada kita roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri. Roh ketakutan atau kegelisahan ini tidak berasal dari Allah.

Terkadang kita memang merasa takut. Kadang-kadang, "roh ketakutan" ini menguasai kita. Na untuk mengatasinya, kita perlu percaya dan mengasihi Allah sepenuhnya.

1Yoh. 4:18).
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Luar biasa janji Tuhan

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, saya sangat yakin bahwa Tuhan sangat mengasihi kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia dengan perjanjianNya kepada kita. Tidak akan pernah Tuhan meninggalkan kita begitu.

"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"



RENUNGAN ALKITAB - Tuhan Lebih Besar dari MasalahMu

1 Korintus 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Kamu tidak mengerti, sih, penderitaan yang saya alami.” Itu adalah pernyataan yang sering saya dengar ketika melakukan konseling.

Seringkali kita merasa bahwa masalah yang kita alami adalah masalah yang besar dan tidak ada seorang pun yang dapat mengertinya. Rasul Paulus menjawab hal tersebut melalui ayat renungan yang kita baca pada hari ini. Menurut saya, ayat di atas adalah salah satu pernyataan Paulus yang “kurang berperasaan”.

Rasul besar itu mengatakan bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa. Perlu kita pahami bahwa Paulus mengatakan hal tersebut bukan karena dia tidak mengalami penderitaan. Sebaliknya, di dalam pelayanannya memberitakan Injil, Paulus seringkali menghadapi bahaya. Mulai dari kelaparan, kehausan, karam kapal, disiksa, dipenjara, dirampok, bahkan dianiaya. Paulus menderita bukan karena melakukan kejahatan, dia menderita demi Injil dan demi orang-orang yang tidak dikenalnya. Meski demikian, Paulus menganggap semua hal yang dia alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatannya.

Saya dapat mengerti mengapa Paulus memiliki respons demikian, semata-mata karena Paulus menyadari bahwa Roh yang tinggal di dalam dia jauh lebih besar daripada segala masalah yang dihadapinya. Paulus menyadari bahwa di dalam Kristus dia lebih dari pemenang.

Teman, saya dapat mengerti jika hari ini kita mungkin sedang sedih, kecewa, kuatir, atau takut menghadapi masalah yang besar. Namun di sisi lain, saya juga ingin kita mengerti bahwa Tuhan jauh lebih besar dari semuanya itu. Tuhan sanggup menolong dan memulihkan kita. Dia adalah Bapa yang baik dan kita adalah anak kesayangan-Nya.” Firman Tuhan di dalam 1 Petrus 5:7 mengatakan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"


RENUNGAN ALKITAB - Jangan Lari dari Panggilan!

"Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN;"  Yunus 1:3

Di masa-masa sekarang ini ada banyak orang Kristen, yang awalnya memiliki semangat menggebu-gebu dalam melayani Tuhan dan begitu antusias mengembangkan talentanya, kini berangsur-angsur surut semangatnya dan tidak lagi setia.  Mengapa hal ini bisa terjadi?  Karena mereka tidak tahan menghadapi tantangan atau masalah yang ada.
Mereka pun berusaha memutar otak mencari alasan untuk menghindarkan diri dari panggilan Tuhan dan mulai menimbang-nimbang jika diutus oleh Tuhan.

Yunus adalah contoh utusan Tuhan yang mencoba lari dari panggilan Tuhan karena takut menghadapi tantangan.

Berfirmanlah Tuhan kepada Yunus,  "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."  (ayat 2).  Pada saat diutus Tuhan untuk pergi ke Niniwe Yunus justru memilih lari dari tanggung jawabnya dan pergi ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan.

Yunus memilih untuk menuruti keinginan dagingnya daripada harus tunduk kepada kehendak Tuhan, padahal keinginan daging itu berlawanan dengan keinginan Roh!  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  (Galatia 5:24).
Akibat lari dari dari panggilan Tuhan ini Yunus harus mengalami masalah yang hebat,  "...TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur." (Yunus 1:4).

Bahkan Yunus harus mengalami peristiwa paling mengerikan seumur hidupnya yaitu masuk dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam.  Namun Tuhan mengasihi Yunus sehingga Dia memberi kesempatan Yunus bertobat.  Akhirnya Yunus pergi ke Niniwe dan menjalankan tugasnya sebagai utusan Tuhan.
Melalui pelayanannya orang-orang Niniwe bertobat dan seluruh penduduk kota itu diselamatkan.

Jika kita dipercaya Tuhan melayaniNya mari melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, karena tidak semua orang beroleh kesempatan yang sama.

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  Yohanes 9:4

"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"

RENUNGAN ALKITAB - Introspeksi dan Evaluasi diri (2)

Efesus 5:15
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Aku mau evaluasi diri bagaimana perjalananku, Apa yang sudah aku dicapai, apa yangku rasa masih kurang, dan apa harapan ke depan. Intinya aku mau tahu betapa pentingnya sebuah proses evaluasi dalam hidupku, apa yang harus ku perbaiki dalam hidupku agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Dan aku bisa mengetahui apa yang masih menjadi titik lemahku, agar aku bisa memperbaikinya.

Aku mau mengevaluasi diriku beberapa tahun belakangan ini. Terutama setelah saya aktif dalam pelayanan, baik di Gereja maupun di renungan harian, Doa pagi, Doa malam, komsel dan pengajaran yang setiap hari saya tulis. Saya merasa penting untuk terus mengevaluasi diri seperti apa saya saat ini sebagai seorang mahasiswa saya merasa saya mengalami peningkatan signifikan selama beberapa bulan terakhir ini. Saya bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaan, karena saya tahu bahwa segala kesuksesan disana adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Tuhan berikan kepada Saya. Saya ingin melayani lebih baik lagi, bisa memberkati lebih lagi lewat pelayanan saya. Do my best in every aspects of life, itu intinya, dimana segala sesuatu yang saya perbuat, mudah-mudahan bisa terus memuliakan Tuhan di atasnya. Saya sadar betul bahwa saya masih jauh dari sempurna. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah mengevaluasi diri, melihat apa yang sudah saya lewati, dimana kelemahan saya dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan evaluasi diri.

Paulus berpesan untuk jemaat di efesus agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari waktu itu adalah jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."(Matius 26:41).

Sering mengevaluasi diri akan membuat kita lebi waspada dalam berbagai kejatuhan , karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.

Tetaplah bertumbuh dan memperbaiki diri hingga kedatangan Yesus kedua kalinya.


"TUHAN YESUS MEMBERKATI🧸😇"






RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...