Minggu, 05 Mei 2024

Dosa Tidak Menghambat Kasih Setia-Nya

 (Mazmur 25 : 1-7)

Reformator DR Martin Luther sebelum memulai gerakan reformasi di Jerman, terlebih dahulu melakukan renungan pribadi secara khusuk dengan cara berpuasa di kamarnya. Pada masa puasa tersebut, dia ingin menyerahkan seluruh pergumulannya pada Tuhan dengan tekun untuk memohon perlindungan-Nya. Namun tiba-tiba iblis datang menghampiri dirinya dengan menunjukkan sebuah tulisan yang berisikan daftar dosa-dosa pada masa lalunya.

Dengan tegar kemudian Luther pun menjawabnya dan berkata; 'Benar! Semua yang kamu tulis itu adalah dosa-dosaku'. Tetapi dengan tegas Luther melawan, katanya,: 'Pergilah wahai iblis, sebab dosaku yang banyak itu tidak lebih besar dari kasih setia Tuhan yang kuterima dalam hidupku!'

Menurut M.Luther bahwa keyakinan akan pengampunan Tuhan atas dosanya, membuatnya menjadi manusia yang terus menerus diperbaharui. Dosa-dosanya tidak lagi membatasi ruang geraknya untuk memformasi ulang kebenaran dan keyakinanNya. Dosa tidak membuatnya berhenti memperjuangkan yang baik. Selama masih ada pengharapan yang disediakan oleh Tuhan.

Bgaimna kondisi ketika kita menghadapi suatu pergumulan berat seperti, kita dimusuhi, dihina dan diperlakukan tidak sepantasnya. Apakah kita tetap melayani Tuhan dengan baik, apakah kita tetap mau mempersembahkan hidup kita yang terbaik bagi Tuhan, apakah kita tetap rendah hati untuk selalu mencari Tuhan? Kalau seperti itu kondisi teman², ingatlah, bukan hanya teman²/saya yang pernah mengalami pergumulan hidup seperti itu.
Sang pemazmur, Raja Daud pun pernah mengalami pergumulan seperti itu. Nats ini mengungkapkan tentang pengakuan, kesadaran dan kesaksian hamba-Nya, Daud yang merasa terbeban dengan dosa-dosanya pada masa mudanya namun Allah tidak memperhitungkan kesalahan dan dosanya untuk menerima rahmat dan kasih setia-Nya.

Mazmur 25 ini mengisahkan betapa beratnya pergumulan yang dialami oleh Daud. Dari ungkapan-ungkapan doanya terlihat jelas betapa beratnya beban pergumulan yang dialaminya.
Saat Daud dipermalukan, dihina dan dikudeta kepemimpinannya oleh orang yang sangat dekat dengannya, yaitu anaknya sendiri, Absalom. Absalom berusaha untuk menggulingkan tahta kerajaan ayahnya sendiri sebagai raja dan akan berencana mengambil alih kepemimpinan sebagai raja dengan cara yang sangat tidak pantas. Absalom melakukan tindakan amoral terhadap ayahnya sendiri dengan menyetubuhi gundik-gundik ayahnya sendiri di depan mata seluruh bangsa Israel (2 Samuel 16:22).

Di tengah kepedihan hatinya, di tengah merasa berdosa dan di tengah penghinaan yang luar biasa yang dialaminya, apa yang Daud lakukan?

Pertama, ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan untuk berdoa. Artinya ia mengarahkan seluruh perhatiannya hanya kepada Tuhan.
Kedua, ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa ia tidak mungkin dipermalukan oleh musuhnya, sebab Tuhanlah yang menjadi Pembelanya.
Ketiga, ia menanti-nantikan Tuhan sedemikian rupa, dengan pengharapan dan janji Tuhan pasti digenapi. Kata "menantikan" terdapat tiga kali dalam perikop ini (ay 3, 5, 21).

Pengampunan adalah cara masuk pada kebenaran Allah. Tidak ada kekuatan apapun dari manusia yang dapat membuatnya boleh menjadi orang benar di hadapan Allah, oleh karena itu hiduplah menurut jalanNya Tuhan dan dalam tuntunan Roh-Nya, supaya kita semakin mengerti jalan-jalanNya. Oleh karena pengampunan dan kasih setia Tuhan yang memampukan Daud untuk berdiri tegak menjadi hamba-Nya, memimpin umat-Nya sebagai pemimpin pada kerajaan Israel. Allah tidak memperhitungkan dosa kita bila kita menaruh percaya kepada-Nya.



RENUNGAN ALKITAB - Kuasailah Dirimu dengan Kasih bukan Kebencian

Amsal 10 : 12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Hal yg paling buruk merusak yg bisa ada dlm kehi...